BrebesNews.Co 17 March 2013 Read More →

Bawang… Oh, Bawang

aku hee   * Afif Arfani
Harga bawang merah akhir akhir ini menjadi berita nasional yang menggemparkan. Pasalnya, harga bawang merah kali ini dianggap abnormal, karena harganya yang sudah tembus di tingkat petani sebesar 30 ribu rupiah hingga 35 ribu rupiah per-kilonya. sementara di pasaran sudah mencapai 50 ribu per-kilogramnya.

Padahal seperti yang diasumsikan Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Brebes, harga bawang marah, normalnya sekitar 10 ribu hingga 15 ribu per-kg nya, jadi harga sekarang sudah dianggap dua kali lipat dari ketentuan harga normal.

Lalu berita harga bawang mahal, apa kaitanya dengan Brebes.. (?)

Boleh jadi Brebes merupakan sentra bawang merah, dan pemasok terbesar bawang merah di Indonesia. bahkan beberapa tahun lalu penulis ingat, saat itu ada reses beberapa anggota DPR-RI yang membidangi komisi pertanian mampir ke desa Sisalam kecamatan wanasari. Kenapa anggota dewan tertarik mengkaji lebih dekat petani bawang di Brebes ? karena menurut beliau beliau yang terhormat, Brebes merupakan barometer nasional penjualan dua komoditi, yakni bawang merah dan cabai.

Harga bawang pun pasang surut (fluktuatif). Kita mungkin ingat saat ABMI di jabat H. Asmawi beberapa tahun lalu. Sangkin sewotnya harga bawang yang berada di titik nadzir, (terendah-red)- harga bawang waktu itu per-kilonya dihargai sekitar 2000 rupiah per-kilogramnya- aksi buang bawang ke jalan raya pun terjadi. Menurut H. Asmawi, hal itu dilakukan sebagai wujud kekecewaan atau protes para petani bawang yang menanam, namun harganya terlalu rendah. Dengan harga sekitar 2000 rupiah sudah barang tentu tidak cukup untuk menutup ongkos produksi. Biaya bibit bawang, ongkos tenga kerja, pupuk, obat-obat hama dan penyubur tanaman dll. Dengan aksi buang bawang diharapkan pemerintah menyetop importir, untuk tidak mendatangkan bawang import, sebagai biang keladi dengan turunnya harga bawang.

Yusuf Kalla, saat menjadi wakil presiden dan berkunjung di rumah H. Nasrudin desa Jatirokeh, menyatakan, pemerintah akan menyetop import bawang merah kalo produksi bawang Brebes dan daerah lain sebagai sentra pertanian bawang mampu memenuhi kebutuhan stok nasional.

Saat ini harga bawang merah sudah melambung tinggi. bahkan lucunya bukan disambut petani dan pedagang lokal dengan senang dan antusias. Hal ini karena ada alasan-alasan, yang mebuat para petani dan pedagang bawang pada “Gowokan”. Petani ber-alasan naiknya harga bawang sekarang, juga disertai naiknya bibit bawang, yang harganya juga mencapai sekitar 3 juta hingga 4 juta per- kwintalnya. Pedagang pun mengeluh, karena sejak harga bawang mahal, bawang susah di dapat yang akhirnya keuntungan yang didapat tidak optimal. Belum para nasib buruh petik (butik), yang menjadi pemandangan memilukan, yang hanya bisa berjejer di sepanjang jalan raya di desa pesantunan dan desa terlangu tak dapat pekerjaan, akibat langka-nya bawang.

Bawang mahal, mungkin sebagian kecil saja orang yang merasa untung. Namun sebagian besar masyarakat malah justru merasa buntung…(?)

Kembali menyoal tingginya harga bawang. Secara ekonomi, tingginya harga mesti berbanding lurus dengan kelangkaan stok barang.

Agaknya tidak ada salahnya kita mendengar spekulasi canda dari seorang pedagang di pasar bawang klampok, yang pernah penulis dengar.

” Pimen rega bawang ora larang mas, sawah neng Brebes saiki tukul e aspal karo umah…,”

( Penulis adalah redaktur brebesnews.co )

Posted in: Opini