BrebesNews.Co 11 March 2013 Read More →

Brebes Macet Maning, Macet Maning….

aku hee * Afif Arfani

Sipur, pedagang ketupat sate blengong kliling, asal pasarbatang, mendadak ngedumel, saat penulis mencoba membeli barang dagangannya. ” Pimen Bos Wartawan, kuwe kali pemali di corot ya kena oh.. Eben pemerintah pusat ngarti. Masa dalan macet maning, macet maning, pan pirang-pirang tahun ? Trus Pan sampai kapan… ?”

Lah pimen sih, bos ? timpal-ku sekenanya.

Iya.., masa macet bae, dalan penyebrangan di tutup, nganggu kelancaran dagangan oh…” ungkap sipur ketus

Pembicaara singkatpun berhenti karena pelayanan dagangan sudah berakhir. Sipur pedagang kupat sate blengong kliling pun ngeloyor pergi sembari menarik gerobaknya…

Mendengar keluhan pedagang kupat sate blengong kliling sipur, penulis jadi ingat tulisan sang budayawan “Negara itu Bisa di lihat dari lalu lintasnya, kalo lalu lintasnya brengsek, negara sudah tentu brengsek, demikan pernah di tulis Romo Mangun (alm), dalam kumpulan tulisannya di puntung-puntung Roro Mendhut.

Kebrengsekan lalu lintas bisa terjadi karena dua faktor, memang pengguna kendaraannya, atau memang kondisi sarana dan prasarana jalan yang kurang baik hingga menimbulkan kemacetan. Berbicara kemacetan, sudah banyak yang di ulas tentang kerugiannya. Konon seperti yang di ungkap ketua infrastructure pathnership and knewlege, Harun Al Rasyid. Di Jakarta kemacetan menimbulakn kerugian per-tahun paling tidak 12,8 triliun (sumber detik.com)

Di Brebes sendiri kemacetan yang kerap terjadi akibat jebolnya plat baja jembatan sungai pemali sudah jelas merugikan banyak pengguna jalan.

Pengakuan sopir elf mengatakan, kalau dalam keadaan lancar, dirinya bisa menjalankan mobil elf nya bolak- balik dalam keadaan normal trayek Tegal- Losari atau Ketanggungan-Tegal 4 rit. Akibat macet, sehari paling hanya 2 rit. Belum pelajar dan pekerja yang sering terlambat. Pedagang juga mengeluh, karena banyak barang dagangannya sering datang terlambat dan berakibat tidak laku. Belum lagi Berapa BBM yang harus dibuang sia-sia kendaraan karena kemacetan tersebut. Kalau kerugian kemacetan di-kalikan hampir satu setengah tahun, berapa milyard sudah kerugian yang harus ditelan masyarakat Brebes. ( penulis berkeyakinan nilai proyek perbaikan jembatan sungai pemali dengan kerugian masyarakat tidak sebanding).

Selain kerugian materi, berdasarakan catatan, sudah banyak juga nyawa warga Brebes melayang akibat kecelakaan lalu lintas yang disebabkan kemacetan akibat proyek gagal perbaikan jembatan sungai pemali. Nyawa yang melayang bukan 1, 2 orang tapi mungkin sudah mendekati angka sepuluh orang.

Bandingkan dengan bencana longsor di di desa Plongpong kecamatan Sirampog tempo hari, yang hanya menewaskan 6 orang. Bupati Idza yang tengah “ Berag Kekuasaan” malam-malam sampai ke lokasi hanya untuk memberi simpati warganya.

Kalau tragedi longsor yang memakan korban masyarakat brebes segera dapat perhatian dan dianggap bencana, kenapa kemacetan bertahun-tahun akibat dampak proyek gagal perbaikan jembatan sungai pemali yang tidak pernah tuntas, seolah-olah dibiarkan dan tidak dijadikan sebagai kriteria bencana saja ? Padahal sudah banyak memakan korban nyawa “anak kandungnya sendiri” ( maksudnya masyarakat Brebes yang tewas akibat kecelakaan-red).

Berharap Bupati Idza Priyanti punya ide inovasi, melobi ke menteri Pekerjaan Umum (PU) untuk menuntaskan percepatan perbaikan jembatan sungai pemali, dengan dana bencana, mimpi gak yah…. ( ?)

( Lebih baik melakukan tindakan benar dari teori yang salah, daripada melakukan tindakan salah dari teori yang benar )

(Penulis adalah awak media MNC Group dan redaktur brebesnews.co )

Posted in: Opini