BrebesNews.Co 13 March 2013 Read More →

Di Pesarean Gedong, Ciesereh Ketanggungan Adat Ngasa Itu Masih Dilestarikan

jalawastu2

BREBESNEWS.CO -Selasa 12 Maret 2013, sejak pukul 05.00 wib, bada subuh, puluhan ibu-ibu menggendong cepon dengan tangan kanannya menjinjing rantang seng, menyusuri bebukitan gunung kumbang Brebes. Mereka bergegas menuju Dukuh Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes dimana akan digelar upacara adat Ngasa.

Dengan wajah berseri, mereka bergegas menuju Pesarean Gedong. Sesampainya di sana, beberapa lelaki menggelar tikar. Dan ibu-ibu itupun menaruh makanan di atas tikar secara berjajar.

Lelaki tua yang disebut juru kunci Pesarean Gedong Makmur, beserta tetua lainnya dengan berpakaian putih-putih menyusul dibelakang rombongan ibu-ibu pembawa makanan. Tampak Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti SE, Kepala Bappeda Ir Djoko Gunawan MT, Kabag Humas dan Protokol Setda Brebes Drs Atmo Tan Sidik, Kabid PUG BKBPP Dra Hj Farikha dan Kasi Sejarah dan Purbakala Dinparbudmudora, ikut mengiringi pula dibelakangnya.

Menurut penuturan tetua adat setempat Dastam menjelaskan, masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan. Yang tersedia adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai makanan pokoknya dengan lauk lalapan dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal dan lain-lain dedaunan. Begitupun dengan piring dan sendok yang digunakan tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan.

Upacara adat Ngasa ini telah dilaksanankan oleh warga secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Upacara ini sebagai simbol tanda terimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa atas segala nikmat yang telah dikaruniakan. “Seperti di daerah pantai ada sedekah laut, di tengah-tengah ada sedekah bumi. Kami yang disini boleh dikata sebagai sedekah gunung,” ujar Dastam.

Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon pada Mangsa Kesanga. Gelaran Ngasa ini diadakan dalam kurun satu tahun sekali. Kali pertama, Ngasta digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes IX Raden Arya Candra Negara.

Ngasta berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Batara sendiri mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa. “Semua itu, sebagai kebaktian kepada Batara,” imbuh Dastam.

Namun seiring perkembangan jaman dan masuknya agama Islam di wilayah itu, warga memasukan ajaran-ajaran Islam dalam upacara ngasta.

Yang unik di Dukuh Jalawastu, seluruh rumah yang dibangun semua berdinding kayu dan beratap seng. Rumahnya tidak boleh menggunakan atap genting dan tidak bersemen atau keramik. Selain itu berpantang menanam bawang merah meski Brebes merupakan komoditas utama penghasil bawang merah. Juga tidak boleh menanam kedelai serta memelihara kerbau, domba dan angsa. “Bila yang melanggar maka ada bencana yang menimpa pula,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dinobatkan sebagai Keluarga Jalawastu karena merupakan Bupati Perempuan yang kali pertama mengunjungi upacara Ngasta. Penobatan ditandai dengan pemberian pakaian putih yang langsung dikenakan ditempat tersebut. (Ilmie)

Posted in: Sosial