BrebesNews.Co 5 March 2013 Read More →

Hikayat Banjir Jakarta, Sejarah Bencana Yang Terlupakan

Wijanarto

Wijanarto

Bencana dan Banjir telah meluluhlantakkan berbagai wilayah di Indonesia. Semuanya disibukkan ketika prahara alam datang menyambangi tiap tahun. Fokus tertuju bagaimana menangani bencana tahunan dari sisi ekonomi , perencanaan tata kota hingga geopolitik yang menghendaki wacana boyongan Ibukota. Banjir menjadi pembuktian hikayat kebencanaan yang mudah dilupakan. Meski ia datang tiap tahun.

Dari kajian Restu Gunawan soal, Gagalnya Sistem Kanal : Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa, banjir yang melanda wilayah Ibukota lebih disebabkan kondisi sungai yang tidak bisa mengalirkan air secara gravitasi. Meski kita mengetahui kota yang semula dikenal sebagai Batavia ini telah dirancang dengan sistem kanal. Namun karena kondisi topografi wilayah yang datar, maka air tidak bisa mengalir. Selain proses sedimentasi lumpur dan sampah yang tidak melancar, menjadi problem yang mengemuka sampai sekarang.

Jakarta sebenarnya kota yang akrab dengan risalah bencana banjir. Restu Gunawan (2010 : 110) mencatat kondisi banjir yang meluluhlantakkan adalah pada tahun 1893 di kawasan Weltvreden. Jauh sebelumnya banjir sudah melanda di wilayah Oud Batavia tahun 1621. Kesadaran pentingnya pengaturan regulasi pengendalian banjir di Ibukota mulai dirasakan setelah tahun 1960 banjir telah membenamkan wilayah Grogol.

Bencana alam telah menjadi konsekuensi dari bagian peradaban masyarakat Indonesia. Ini disebabkan kondisi geologi dan topografi wilayah Indonesia memungkinkan ancaman kebencanaan merupakan denyut kehidupan yang akrab dengan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Peristilahan ”negeri cincin api” (ring of fire country), negeri hidraulik – sebagaimana disematkan sejarawan Denys Lombard – yang akrab dengan peradaban sungai, merupakan sekadar contoh penamaan atas corak karakteristik Indonesia topografi Indonesia yang lekat dengan efek kebencanaan.

Hikayat kebencanaan telah diwartakan dalam risalah kesejarahan masyarakat Indonesia. Sayangnya itu tak menjadi pembelajaran untuk konteks kekinian. Mempersiapkan mentalitas masyarakat dalam menghadapi kerentanan dalam bencana alam tak diajarkan generasi sekarang. Sebagai contoh dalam kurikulum pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Geografi sedikit sekali atau bahkan tak nampak berbagi penyadaran dalam menghadapi kondisi di negeri rentan bencana. Apalagi berbicara soal kearifan lokal mengenai hikayat kebencanaan di negeri Nusantara ini.

Kearifan bagaimana peradaban ini ramah pada persoalan lingkungan. Bagaimana modernitas mampu bersanding seimbang dengan harmoni alam. Rasa hayat terhadap lingkungan makin majal saat sisi profantik melanda dimensi kehidupan. Pentingnya etika lingkungan makin terasa dalam kondisi seperti sekarang. Saat bencana menjadi realitas dan bukannya narasi hikayat, barulah tersedak.

Pada hematnya saat Gubernur DKI Joko Widodo mengeluarkan kondisi tanggap darurat banjir, postfactum setelah prahara tersebut melanda. Bagaimana publik diajarkan mengantisipasi sebelum prahara melanda inilah yang menjadi prioritas. Endemik banjir dari perspektif kekinian bukan disalahkan pada kondisi topografi wilayah Indonesia atau pada pemerintah. Tetapi bagaimana masyarakat memahami dan menyesuaikan dengan kondisi wilayah Jakarta yang menjadi konsumen tetap banjir apapun istilahnya. Lapar tanah atas nama pengembangan wilayah komersial, pelanggaran wilayah zona tata ruang, pengambilan air tanah hingga mencapai 6900 liter / detik, memudarnya masyarakat menjaga sungai, penanaman nilai secara massif untuk membuang sampah pada tempatnya, sekadar menjadi contoh muara persoalan pemantik bencana dari faktor nonalam.

Tapi siapa bisa menahan jika mengemuka ambisi atas nama kebijakan yang sifatnya urban sensatie, kosmopolis, profit. Inilah yang menjadi kontemplasi agar saat bencana datang, tak panik atau seperti lantunan Benyamin S, Kompor Meleduk , pade kalang kabut.

( Wijanarto, tinggal di desa Kertasinduyasa Jatibarang, Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah Undip Semarang, tinggal di Brebes )

Posted in: Opini