BrebesNews.Co 22 March 2013 Read More →

Memberdayakan Pemuda Tani Lewat Budidaya Lele Di Desa klampok

Bermula dari tanah kosong yang berada disamping rumah warga, tepatnya di jalan Manijah III desa Klampok kecamatan Wanasari, sekelompok pemuda, yang tergabung dalam binaan Himpunan Kelompok Tani ( HKTI) Brebes, mencoba memanfaatkannya dengan berbudi daya lele. Meski dianggap bukan sebagai ide inovasi, karena sudah banyak pembudidaya lele sebelumnya, namun setidaknya dengan adanya kegiatan berternak lele, ada kegiatan positif yang bisa menambah nilai ekonomi.

Foto0124
Menurut Tasirin Pemuda Kalampok, yang kebetulan di daulat sebagai ketua Pokdakan,atau kepanjangan dari kelompok Budidaya Ikan ” Mina Tunas Makmur ” Klampok, budidaya ikan lele yang baru mulai di rintis sudah nampak menghasilkan. Contohnya dari kolam ikan yang terbuat dari terpal plastik dengan ukuran 2 x 4 meter seharga 450 ribu rupiah, dengan bibit ikan lele 1400 ekor, bisa menghasilkan sedikitnya 1300 kg, atau 1, 3 kwintal, dengan masa pemeliharaan sekitar 40 hari. Ikan lele dengan pemeliharaan 40 hari, sudah mencapai 6-7 ekor per 1 kilogramnya.
” Budidaya ikan lele sangat mudah dan ringan. Setidaknya tidak seperti memelihara kambing yang butuh makan setiap hari dengan mencari rumput,” ujar Tasirin

Untuk bibit ikan, menurut Tasirin bakul datang sendiri dari Banjarnegara. harga per-ekor 180 rupiah dengan besar ukuran ikan sekelingking orang dewasa . Sementara untuk kebutuhan pakan sejak hari penebaran sampai hari ke -25, dengan kapasitas 1400 ikan lele, di butuhkan hanya 10 kg pelet. Baru setelah ikan lele ber usia 25 hingga 40 hari, pemberian ikan di tambah sekitar 60 kilo gram pelet.

kalau dikalkulasi kebutuhan pembuatan kolam terpal plastik plus bambu dan kebutuhan ikan pakan ikan seluruhnya sekitar 1 juta rupiah dengan. Dengan lele dihargai per-kilonya 15 ribu rupiah, berarti dikalikan 1300 kilogram, sama dengan 1,950 juta. Jadi hasil budidaya lele dengan luasan sekitar 2×4 meter selama 40 hari sekitar 950 ribu rupiah. Bila pembudidaya mempunyai 3 kolam, setidaknya penghasilan bisa mencapai 2,85o juta rupiah per 40-60 hari.

Membudidayakan ikan lele, selain makannya mudah, pemberian obat ikan lele juga ringan hanya di beri sejenis super tetra. Obat ini sifatnya untuk ketahanan tubuh setelah bibit lele baru ditebar, dan saat pergantian air yang membutuhkan waktu 20 hari. Tingkat kematian lele juga sedikit. Per- 1400 ekor yang ditebar hanya 25 ikan yang mati. Pemasaran ikan lele juga tidak susah-susah amat.
” Bila panen, kelompok budidaya akan menjualnya ke penyedia bibit kembali, karena sudah terjalin semacam kemitraan” tandas Tasirin.

Tasirin menambahkan, malah pedagang pecel lele sekitar pantura juga sudah ada yang datang memesan ingin memembeli hasil ikannya bila sudah tiba masa panen.

Modal awal uji coba, budidaya ikan lele di tanggung swadaya pemuda yang tergabung dalam Pokdakan “Mina Tani Makmur”, dengan iuran sekitar 150 ribu rupiah dari 37 orang anggota kelompok. Kini hasil panen perdana akan dikembangkan dengan membuat beberapa petak kolam ikan lagi.

Bila perkembangan budidaya baik, maka anggota kelompok sepakat, uang hasil budidaya ikan lele akan di belikan keperluan kolam bagi anggota lainnya, hingga semua anggota punya sendiri kolam pemeliharaan ikan lele.

Ketua HKTI cabang Brebes Ir. Masrukhi Bachro yang hadir saat penebaran kembali bibit ikan lele mengharapkan budidaya ikan lele bisa menular ke masyarakat lainnya.

” Jangan Khawatir pasaran ikan lele tidak tertampung. Karena penjual pecel lele serta warung makan- warung makan juga masih banyak membutuhkan ikan lele,” ujarnya meyakinkan.

Masrukhi berharap, pemerintah daerah hendaknya juga mau peduli dengan budidaya ikan lele yang diprakarsai para kelompok pemuda tani. Dengan konsep sederhana ini, nantinya pemuda-pemuda di desa tidak punya alasan menganggur, hanya karena tidak adanya lowongan pekerjaan. (Afif. A)