BrebesNews.Co 6 March 2013 Read More →

Wonge Idza, Wonge Agung…….

Afif Arfani

Afif Arfani, BrebesNews.Co

Ada gejala unik saat perhelatan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Brebes telah usai. Mendadak di kalangan masyarakat, terkhusus di lingkungan Pegawai Negeri sipil (PNS), tenar dengan istilah dikotomi “Kiye wonge Idza, Kiye Wonge Agung….” sebutan itu, seolah-olah menjustifikasi tuduhan kepada pegawai negari Brebes yang sedang menjabat, yang pada pilkada lalu di indikasikan membela salah satu calon. Parahnya lagi, hembusan tuduhan suara itu kadang terdengar juga dari kalangan yang bukan kalangan PNS sendiri, tapi dari orang luar yang merasa jadi “Hero” saat pelaksanaan pilkada lalu.

Entah motivasi serta pesan apa yang ingin disampaikan hingga muncul istilah tersebut. Padahal sebagai abdi negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) digaji dari uang hasil pajak rakyat, bukan digaji atas uang pribadi Idza, atau uang pribadi Agung.

Efek hembusan dikotomi ” wonge Idza, Wonge Agung… ” bisa jadi berdampak pada gejala instabilitas di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS) Brebes. Lebih-lebih PNS yang merasa tertuduh. Bisa saja gairah kerja untuk berprestasi akan menurun, akibat penilaian prestasi kerja yang sekarang begitu simple hanya dengan “ Kiye wonge Idza, Kiye Wonge Agung…” meski kadang tuduhan tersebut tidak berdasar atau mungkin fitnah belaka.

Sekadar intermezo dan ilustrasi, penulis sendiri tidak pernah mengaku orangnya Hary Tanoe, walaupun saat ini bekerja menjadi awak Media Nusantara Citra (MNC) Group. Padahal kalo ditimbang, pajak MNC Group seperti dilansir di media mencapai 1,2 triliun per-tahun. Paling tidak bila dikomparasikan (diperbandingkan-red) artinya, besarnya kurang lebih sama dengan APBD kabupaten Brebes tahun 2013. Jadi pajak nya MNC Group, sejatinya bisa buat makan Bupati, wakil Bupati, DPR, PNS serta membiayai proyek infrastruktur dan lain-lain di kabupaten Brebes selama setahun.

Pilkada sudah usai, Terlepas suka atau tidak suka, Idza sudah menjadi bupati Brebes. Semoga bupati “ Wadon Bae” bisa menjelma layaknya ratu Saba, yang mampu menjadikan negerinya ” Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur “.

Kembali soal istilah dikotomi “wonge Idza, wonge Agung…” apa tidak sebaiknya di- dialektik-an saja menjadi “kyeh, aku pada bae wong Brebes e, yuh bareng mbangun .”

(Penulis adalah wartwan MNC Group, dan redaktur media online brebesnews.co)

Posted in: Opini