BrebesNews.Co 21 April 2013 Read More →

Saat Perahu Menjadi Transoprtasi Andalan Warga Wlahar Larangan

*Suka Duka Warga Wlahar Yang Tiap Hari Harus Bergulat Dengan Arus Sungai

155733_364910846946281_570563392_nBREBESNEWS.CO -Biasanya Perahu merupakan alat transportasi yang di gunakan berbagai masyarakat sebagai alat untuk mencari ikan pemandangan berbeda di sebuah desa yang MEGUNG (Mepet Gunung) yaitu desa Wlahar kecamatan Larangan kabupaten Brebes.

Di desa inilah perahu sebagai sarana alat transportasi andalan warga sekitar untuk menjalani aktifitasnya sehari-hari. Betapa tidak, masyarakat yang kita tahu di manjakan dengan melewati jembatan untuk melewati sungai, namun di desa ini akses jembatan nyaris tidak ada, akibatnya hanya menggunakan alat transportasi alternatif sejenis perahu, karena tak ada akses jalan lain untuk menyeberangi sungai yang merupaka daerah aliran sungai pemali ini.
”Mau pakai angkutan apa lagi mas, wong hanya perahu ini, satu-satunya transportasi yang bisa membelah sungai dan mengantar warga menyeberangi arus sungai,” Ucap Bambang, Warga setempat pada BREBESNEWS.CO minggu (21/4).

Menurut Bambang, warga sudah bosan mengusulkan pada pemerintah untuk di buatkan jembatan, namun hingga kini warga tetap belum menikmati jembatan sebagai penghubung desa menuju akses jalan besar.

Di desa Wlahar, perahu bukan saja membawa banyak orang, tetapi juga kendaraan bermotor serta barang bawaan masyarakat sekitar yang menjadi beban penuh isi perahu. Karena tidak ada sarana transportasi lain, Pemandanagan sehari-hari di bantaran sungai akan terlihat betapa harus sabarnya masyarakat mengantri setiap saat untuk menanti giliran diangkut. Padahal masyarakat butuh perjalanan cepat dengan kesibukannya, ada yang mau cari rumput untuk binatang sapi ternaknya, ada pelajar, pegawai swasta, serta pekeraja sektor perdagangan yang harus hilir mudik dari kota ke desa Wlahar atau sebaliknya.

Parahnya meski banyak pengguna jasa transportasi perahu, namun di penyeberangan hanya ada 1 perahu yang beroperasi, sehingga masyarakat yang mau memanfaatkannya harus bersabar dan berdesak-desakan. Contohnya para siswa yang mau melewati pun harus berjibaku dan berebut dengan dengan warga lainya untuk bisa cepat-cepat terangkut.
“Para siswa akan saya dahulukan bila mau berangkat, karena bila terlambat kasihan, bisa di skors gurunya,”ujar Saryo pengendali perahu.

Bila tidak mau sabar menunggu, masyarakat boleh menggunakan jalan pintas dengan memutar balik kendaraanya melewati hutan yang berjarak 3 km. Belum jalannya yang licin dan sering tergenang air, sehingga para pengendara akan was-was agar tidak jatuh terpeleset.

Menggunakan jasa angkutan perahu juga tidak bebas resiko, karena sudah sering warga yang menggunakan motor jatuh ke sungai bersamaan dengan barang bawaannya. Untuk menekan resiko terjadinya kecelakaan perahu terguling, pemilik perahu membatasi penumpang, semisal untuk motor yang naikpun hanya 3 sampai 4 motor. Namun bila mayarakat pejalan kaki sedikit yang menumpang motor bisa mencapai 5 sampai 6 kendaraan.

Perahu mulai beroperasi jam 05 pagi hingga jam 09 malam, dengan ongkos per-orang dikenai 1000 rupiah dan bila dengan motor 2000 rupiah.

Ironis memang, tapi beginilah keadaanya. Warga Wlahar terpaksa menerima keterbatasan transportasi dengan lapang dada. Bertahun-tahun hingga sekarang ini, di saat semua daerah dan desa sudah di manjakan dengan jembatan, tapi desa Wlahar masih setia dengan transportasi andalanya berupa perahu walaupun konsekuensi terjatuh dari perahu.
“ Perahu menjadi akses transportasi yang masih jadi primadona di desa Wlahar, karena tak adanya jembatan yang bisa mempercepat penyebrangan. Tidak jarang pengendara motor yang naik di atas perahu juga sering kali mengalami jatuh ke sungai,” keluh Suko Hardianto masih warga sekitar

Dengan perahu masyarakat sekitar bisa menyebrang walaupun sedikit lama. Bila musim hujan tiba sungai menjadi banjir, akibatnya masyarakat harus menunggu surut dulu atau tidak sama sekali ke kebun karena perahu yang menjadi satu-satunya tidak bisa melewati sungai yang meluap.

Bukan masyarakat saja yang terkena dampak tidak adanya akses jembatan penghubung, pengendali perahu juga merasa takut dan khawatir perahunya terhanyut apabila keadaan sungai sedang banjir. Kondisi tepi sungai tempat bersandar perahu juga licin dan becek.
“ Bila keadaan begini, masyarakat harus merapikan jalan dulu ditepian sungai agar bisa di lalui dengan gotong royong,” tambah Saryo lagi

“Entah sampai kapan warga Wlahar, terus menggunakan perahu sebagai alat transportasi andalan, sementara APBD Brebes 2013 mencapai 1,8 Triliun,” ungkap aktifis Mahasiswa Wlahar yang tidak mau di sebut namanya. ( Raeko KPMDB Jakarta)

Posted in: Serba Serbi, Sosial