BrebesNews.Co 11 April 2013 Read More →

Melestarikan Kesenian Jaran Lumping Ala Desa Wlahar Kecamatan Larangan

Kesenian Jaran lumping sering muncul pada saat event atau peristiwa tertentu saja. Semisal di waktu warganya mengadakan hajatan, biasanya dengan mengadakan tontonan yang menghibur masayarakat setempat karena pada umumnya seni budaya jaran lumping, dilestariakan karena bukan hanya nilai komersil saja tapi ada juga nilai estetika, nilai budaya, nilai gotong royong serta nilai silaturahmi.

Hal ini yang menjadi latar belakang masih menjadinya jaran lumping kesenian primadona bagi masyarakat untuk selalu menampilkan pertunjukan yang spektakuler, contohnya makan beling (pecahan Kaca) menari dan kemudian kadang memakan serabut buah kelapa dengan mulut hingga terkelupas. Atraksi jaran lumping biasanya sembari di iringi lagu-lagu cirebonan, dangdut,tarling yang membuat si pemain lebih agresif berjoget mengikuti irama musik.

547510_599975153347962_2120588412_n

Sering kali masyarakat masih menganggap penampilan atau performance jaran lumping dikaitkan dengan dunia mistis karena si pemain yang memainkan aksi tersebut dengan menutup matanya serta sebelum dimulai aksi jaran lumping si pawang membakar kemenyan yang artinya menurut orang ciri khas membakar kemenyan adalah salah satu media memanggilan arwah atau roh halus. Pada saat itu juga si pemain yang sadar diri terasupi oleh arwah atau roh halus dan dikendalikan oleh arwah atau roh yang memasuki dirinya sebagai media untuk melakukan aksinya di depan penonton banyak.

Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari lumping sapi yang di bentuk menyerupai kuda atau jaran kepang .
Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal ( cerita omongan ) yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan kuda lumpung, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi memadamkan api dengan kakinya si pemain Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.

Sering kali pertunjukan ini yang ditampilkan membuat para penonoton membludak ingin menyaksikan, seperti halnya pertunjukan yang diadakan di desa Wlahar kecamatan Larangan kabupaten brebes saat ada hajatan sunatan salah seorang warga.

Pertunjukan pada acara hajatan seorang warga rabu (10/4) mengundang grup jaran lumping sebagai pelengkap hiburan dari hajatan yang mengundang banyak masyarakat berbondong-bondong.

Dengan di gelarnya pertunjukan tersebut, baik anak-anak, orang dewasa serta orang tua tetap setia menonton aksi si pemain yang melakuakn atraksi jaran lumping. Permainan jaran kepang terdiri 4 pemain dan 1 pawang yang mengendalikan atau memasukan roh halus.

Setelah pawang selesai dengan ritual memasukan roh halus kepada para pemain spontan si pemain tak sadar diri namun bisa melihat secara jelas jalan dan yang dilakukanya. Atraksi jaran lumping atau kepang di arak atau pawai keliling desa bersama dengan anak yang sudah di sunat. ritual kesenian pementasan jarang lumping dilakukan pada saat menjelang magrib. Selain suasana sejuk karena surupnya matahari, juga saat menjelang mahgrib banyak masyarakat peani pulang dari ladangnya.

Diakhir acara Suko Hardianto salah satu tokoh masyarakat desa Wlahar mengatakaan jaran kepang atau kuda lumping bukan hanya sebagai warisan budaya zaman dulu, namun seni budaya ini juga seharusnya bisa di lestariakn keberadaanya karena mengandung nilai-nilai yang baik di terapkan dan di ajarkan pada anak-anak sekarang agar lebih mencintai lagi budaya yang dimiliki kita.

“kesenian jaran lumping atau jaran kepang, mempunyai spirit ( semanagat jiwa kebersamaan) yang seharusnya bisa di terapkan dalam kehidupan masyarakat,” Ungkap Suko Hardianto, mengakhiri acara hajatan. (*)

( Tulisan sumbangan Eko Dhardhirjo Asal desa Wlahar Larangan Anggota KPMDB Jakarta )

Posted in: Serba Serbi