BrebesNews.Co 8 April 2013 Read More →

Lakon ‘ Surawijaya Mbalelo’ Pukau Penonton Seni Kethoprak di TMII

* Pentas Dimainkan Oleh Paguyuban Seni Bina Budaya Paguyangan Brebes

BREBESNEWS.CO -Ratusan Pengunjung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta sempat terpukau saat menyaksikan pentas Ketoprak “Surawijaya Mbalela” yang diperankan oleh Duta Seni Kabupaten Brebes. Termasuk Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dan Wakil Bupati Brebes Narjo di anjungan Jawa Tengah, Minggu (7/4).

Sejumlah turis asing, dari segenap lapisan masyarakat Brebes yang merantau di Jakarta ke royo-royo datang menyaksikan pagelaran itu. Terlihat ada pedagang rokok, paguyuban sea food, petugas Catering, buruh pabrik hingga para pejabat dan artis sinetron Tukang Bubur Naik Haji asal Brebes M Husni Iskandar.

KETOPRAK1Pentas Ketoprak mengambil lakon Surawiyata Mbalela atau Lahirnya Harya Penangsang di mainkan sekitar 1 jam. Diceritakan, Kesultanan Demak Bintoro saat itu sedang komplang karena Sultan Demak Bintoro telah wafat. Para Sunan sepakat, untuk mengangkat dan menobatkan Adipati Lasem Surawiyata sebagai pengganti Sultan. Namun Surawiyata belum sempat hadir pada pertemuan itu. Sehingga, atas usul adipati Dirgonegoro yang juga adipati Cirebon agar Lintang Trenggono sebagai Sultan Demak Bintoro. Adipati Dirgonegoro sesumbar, “Siapapun yang menolak pengangkatan Lintang Trenggono, harus berhadapan dengan saya!” tantangnya.

Mendengar pernyataan tersebut, Adipati Dirgonegoro dan Surawiyata terlibat perang tanding. Dirgonegoro meminjam tangan Bagus Mukmin untuk membunuh Surawiyata dengan Jimat Kyai Setan Kober. Saat Surawiyata tengah menunaikan sholat dipinggi sungai, diapun dibunuh oleh Bagus Mukmin.

Istri Surawiyata, Retno Pamungkas mencari kuburan suaminya. Retno yang kala itu sedang hamil tua, terkejut dan melahirkan tiba-tiba dalam kepayahan dan meninggal dunia. Bayi yang lahir di semak-semak tersebut oleh para sunan diberi nama Harya Penangsang.

Pentas di Wakili oleh Paguyuban Seni “Bina Budaya” Kecamatan Paguyangan Brebes, dengan Sutradarai Ki Dalang Sukaso Dwijo Purocarito. Menurut Ki Sukaso, dari cerita diatas dapat diambil hikmah kerelaan keputusan pimpinan dan jangan menyerobot keputusan. Sehingga tidak terjadi peperangan yang merugikan semua pihak.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE mengaku bangga dengan pementasan ketoprak Brebes. Hanya saja dia menyayangkan bahasa yang digunakan masih dengan bahasa jawa wetan. Sehingga terasa asing bagi warga Brebes. Untuk kedepannya, dia menyarankan agar bahasa yang digunakannya dengan bahasa Brebesan. “Akan lebih asyik kalau diperankan dengan bahasa Brebesan, sehingga memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri,” kritik Bupati.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati menerima piagam penghargaan atas pentas yang telah diperankan duta budaya Brebes itu. Piagam diberikan oleh Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Tengah TMII Drs Kusdarminto MM. (ilmie)

Posted in: Serba Serbi