BrebesNews.Co 9 May 2013 Read More →

Perang Slogan Di Pilgub Jateng, Efektifkah Mendongkrak Suara Pemilih.. (?)

HADI MULYANTO• Hadi Mulyanto, A.Ma.,S.Pd.I.

Pemilihan gubernur yang akan jatuh tanggal 26 mei mendatang, memang sepertinya tidak punya greget. Maklum saja, hal ini karena keterjauhan calon dan pemilih bisa menjadi jarak pesimisme pemilih. Lain halnya dengan pemilihan bupati atau pun walikota yang antara calon dan pemilihnya nyaris tidak ada jarak (proximity)

Akibat kurang antusiasinya masyarakat, berbagai cara dilakukan calon gubernur, utamanyadalam mencari dukungan serta dalam meraih simpatisan masyarakat jateng khususnya. Untuk hal satu ini, para cagub-pun mulai berlomba mengemas slogan, yang diharapkan bisa mengena isi hati pemilih yang pada gilirannya diharapkan bisa memilih cagub yang dianggap bisa memimpin Jawa Tengah dengan slogan-slogannya.

Slogan Cagub

Pasangan cagub dan cawagub HP-DON (Hadi Prabowo-Don Murdono ) mempunyai slogan atau motto ngajeni lan ngayomi. Sedangkan pasangan cagub Petahan dan cawagub BISSA ( Bibit-Sudijono masih dengan slogan atau motto terdahulunya yaitu ( bali ndeso mbangun deso lanjutkan! ). Adapun pasangan cagub dan cawagub GAGAH ( Ganjar-Heru menggunakan slogan atau motto mboten korupsi lan mboten ngapusi). Perang slogan dengan poster atau baliho cagub sepertinya tidak asing dan nampak ter-lihat di sepanjang kabupaten di wilayah Jawa Tengah

Selain slogan, visi dan misi calon gubernur dan wakilnya juga di sodorkan sebagai upaya untuk menarik serta referensi pemilih agar bisa berpikir kritis dan cerdas dalam menentukan piliahnnya.

Visi Misi Cagub

HP-DON mempunyai misi

  1. Meningkatkan sinergitas dan harmonisasi pembangunan pusat dan daerah serta keseimbangan pembangunan antar wilayah.
  2. Mempercepat pelaksanaan reformasi birokrasi untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih,transparan dan akuntabel.
  3. Meningkatkan perekonomian daerah yang berorientasi ekonomi kerakyatan berbasis pada potensi unggulan di dukung inovasi teknologi dan pengembangan kemitraan global.
  4. Meningkatkan kualitas SDM dan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan kearifan local.
  5. Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur untuk mewujudkan kemajuan dan daya saing daerah dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan.
  6. Memantapkan pelaksanaan demokratisasi dan kondusivitas daerah dengan mengedepankan partisipasi masyarakat.

Sedang Bibit-Sudijono mempunyai visi dan misi :

  1. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan professional serta sikap responsive aparatur.
  2. Pembangunan ekonomi kerakyatan dengan intensifikasi dan modernisasi pertanian dalam arti luas, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan industri padat karya.
  3. Memanfaatkan kondisi social budaya yang berbasis kearifan lokal.
  4. Pengembangan SDM berbasis kompetensi secara berkelanjutan.
  5. Peningkatan perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur.
  6. Mewujudkan kondisi aman dan rasa aman dalam kehidupan masyarakat.

Terakhir Ganjar – Heru yang mempunyai visi, Jateng Berdikari. Adapun Misinya adalah

  1. Membangun Jateng berbasis ekonomi rakyat dan kedaulatan pangan untuk menanggulangi kemiskinan dan pengangguran.
  2. Memastikan partisipasi masyartakat Jateng dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup ornag banyak.
  3. Mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan Provinsi Jawa Tengah yang bersih,jujur dan transparan dalam pelayanan publik.
  4. Memperkokoh gotong royong,guyup rukun serta tepa slira sebagai jati diri Jawa

Menurut Prof.FX Sugiyanto guru besar fakultas ekonomi dan bisnis (FEB) dan kepala pusat penelitian kajian pembangunan Undip, Salah satu potensi sumber kegagalan kebijakan dan kelembagaan adalah kemungkinan ketidaksinkronan visi misi gubernur dan visi misi bupati atau wali kota. Risiko kegagalan ini sangat terbuka, bahkan secara sistemik. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional (UU SPN) secara tegas menyebutkan bahwa rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) merupakan penjabaran visi, misi, dan program gubernur atau bupati atau wali kota.Risiko kegagalan itu dapat dikurangi apabila gubernur periode mendatang mampu dan bersedia mentransfer dan mengintegrasikan visi, misi, dan programnya menjadi visi misi para bupati atau wali kota ( SM,20/4/13).

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah dengan slogan, berikut visi serta misi yang di tawarkan ke pemilih, efektif meraih suara serta menekan fenomena golput dalam pemilihan gubernur nanti ?

Fenomena Golput

Menurut pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang M. Yulianto,M.Si , potensi tingginya golongan putih (golput) pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2013 karena sosialisasinya kurang dan adanya anggapan gubernur tidak penting. Menurut dia, sosialisasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang sosok calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) kurang. Sehingga warga di pedesaan belum menentukan pilihan, karena tidak tahu sosok cagub-cawagub yang akan dipilih. Sebaliknya, kata Yulianto, di perkotaan yang didominasi kalangan menengah ke atas yang terdidik menganggap peran gubernur dalam era otonomi daerah kurang penting.Kalangan menengah ke atas yang terdidik akan memilih golput, karena menganggap peran gubernur tak begitu penting,Tingginya golput ini memang secara langsung tidak memengaruhi pelaksanaan Pilgub Jateng, tapi kualitas demokrasi berkurang (solopos.com,7/5/13).

Sementara itu Ketua KPU Jateng, M Fajar SAKA menuturkan, untuk menekan golput pihaknya juga ber-upaya dengan menggiatkan sosialisasi Pilgub yang telah dilakukan. Baik melalui pemasangan baliho, spanduk, kerja sama dengan media massa, dan BEM perguruan tinggi.Termasuk melayangkan surat undangan kepada pemilih pada H-3 nantinya (SM,4/5/13).

Kualitas Pelaksanaan Pilgub

A Zaini Bisri mantan ketua Mapilu PWI Jateng dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial (Konsentrasi Ilmu Politik) FISIP Universitas Diponegoro, mengacu pada hasil penelitian Jorgen Elklit dan Andrew Reynolds (2005), mangatakan diperlukan 11 indikator untuk mengukur kualitas Pilgub Jateng 2013.
Ke-11 indikator itu adalah regulasi, kualitas penyelenggara, konstituensi, pendidikan pemilih, penyusunan DPT, lokasi TPS, aturan kampanye, partisipasi pemilih, proses penghitungan suara, penyelesaian sengketa, dan audit hasil pilgub.Dari berbagai indikator itu, penting dicermati kualitas penyelenggara, pendidikan pemilih, DPT, aturan kampanye, partisipasi pemilih, penghitungan suara, dan verifikasi hasil pilgub.

Kualitas penyelenggara, dalam hal ini KPU dan Pengawas Pemilu Jateng serta KPU dan pengawas kabupaten/kota, diukur dari sejauh mana independensi, imparsialitas, dan profesionalisme dalam menangani pekerjaan teknis pilgub. Pendidikan pemilih terutama menyangkut informasi pilgub yang dikuasai pemilih pemula.

Cukup disayangkan, KPU Jateng tampaknya kurang memperhatikan pemilih pemula. DPT harus aman dari bias angka, akurasi pencocokan dan penelitian (coklit) di lapangan, serta kepercayaan diri pemilih. Sabuk pengaman DPT sudah disiapkan dengan hak pemilih tidak terdaftar untuk menunjukkan KTP sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. Aturan kampanye terutama harus menjamin transparansi dana publik, akses ke media massa, dan kontrol terhadap penggunaan fasilitas negara.

Partisipasi pemilih bukan hanya menyangkut jumlah golput dan struktur usianya, juga adakah tindak kekerasan dan intimidasi selama tahapan pilgub berlangsung. Penghitungan suara wajib menjamin integritas petugas dan akurasinya, transparan, mudah diakses oleh publik, dan tidak ada penundaan pengumuman.
Adapun hasil pilgub bisa diverifikasi dan diaudit, statistik dan review hasil pilgub mudah diakses, serta disahkan tanpa diragukan validitasnya. Pemantau pilgub harus ikut memberikan penilaian atas seluruh tahapan yang dinyatakan tidak ada masalah ( SM,20/4/13).

Semoga pilgub 2013 ini berjalan dengan lancar dan menghasilkan pemimpin yang mau melayani masyarakat. Maka dari itu pilihlah pemimpin sesuai dengan hati nurani Anda demi pembangunan Jawa Tengah 5 tahun yang akan datang. Mari jangan sia-siakan Pilgub ini !.

( Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UNWAHAS Semarang dan Ketua THE VALAS INSTITUTE & Ketua HIMPB ( Himpunan Intelektual Muda Peduli Brebes) asal Jatibarang Brebes.

Posted in: Politik