BrebesNews.Co 24 June 2013 Read More →

Petani Dan HKTI Gelar Ngaji Tani Di Alun-Alun Brebes

ngaji tani2

BREBESNEWS.CO -Ngaji Tani, menjadi alternatif kerohanian masyarakat Brebes mengungkapkan uneg-uneg dihadapan Kiai dan Ahli Pertanian serta Bupati. Seperti yang digelar Ahad malam (23/6) ratusan petani mengikuti pengajian Ngaji Tani di alun-alun Brebes bersama, Kiai, Ahli dan Bupati.

Pengasuh Majelis Taklim Hikmah Kamilah Bulakamba Brebes KH Misbahul Munir menjelaskan, bertani itu akan mendatangkan keberkahan jika dalam bertani diawali dengan niatan ibadah. Doa-doa petani sama derajatnya dengan doa para ulama maupun mahluk lainnya. Apalagi pohon-pohon itu juga sujud kepada Yang Maha Kuasa. Maka kalau petani merawat, memelihara tanaman tentu juga sama halnya menyampaikan doa kepada Tuhan-Nya.

“Kalau kita tidak berikhtiar dengan bercocok tanam, maka hanya sedikit doa yang kita panjatkan. Para Petani juga membawa keberkahan dengan aktivitas hariannya,” kata Kiai Misbah.

Menurut Kiai Misbah, para Petani dalam bercocok tanam hendaknya jangan lupa berdoa, minimal membaca basmallah atau surat Al Fatikha. Sebab, dari ayat-ayat Al Quran ada energi yang sangat dasyat untuk mendapatkan keridloan Allah SWT. “Allah berhak mencerabut berkah bila selalu tercipta friksi-friksi apalagi antar petani,” kata Kiai.

Kalau ada saluran irigasi, lanjut Kiai, ya airnya dibagi rata. Jangan sampai rebutan karena tanaman semuanya membutuhkan dan kita yang harus bersikap ramah dalam membaginya.

Salah seorang petani Agus dari Desa Kupu Wanasari menanyakan kenapa sampai ada sesaji saat mengawali bercocok tanam, dipertengahan sampai menjelang panen?

Pertanyaan Agus langsung dikupas Kiai Misbah, kalau sesaji itu bawaan orang hindu. Maka hindarilah sesaji, Kalau Muslim ya dengan cara mengadakan syukuran. Hasil bumi atau panen harus dibagikan zakatnya 2,5 persen.

Sementara Bendahara Pusat Aliansi Petani Indonesia (API) Fadhil Kirom Petani era kini banyak yang tidak mau menikmati dirinya sebagai petani. Maunya serba cepat, sehingga terlalu banyak menggunakan cara-cara instans. Dengan menggunakan obat-obatan tidak beraturan yang justru merusak PH (kandungan keasaman tanah). Sehingga tanah makin rusak alias tidak subur.

Fadil mengingatkan pentingnya menjadi Petani agar tetap URIP, yakni mengandung makna Usaha, Rumangsa, Istiqomah dan Peduli. Petani harus terus berusaha sesudah sholat dengan bertebaran di muka bumi. Rumangsa (mengerti) sebagai mahluk Allah dan yang diangkat derajatnya oleh-Nya.

Istiqomah disini, dikandung maksud jangan gemrungsung dalam bercocok tanam. Ketika menanam bawang ya ditekuni dengan segala konsekwensinya. Sedangkan Peduli, petani diharapkan tetap peduli dengan air dan tanah. Jangan sampai dirusak. “Umat Islam sendirikan sudah diamanatkan untuk menjaga air dan tanah agar bisa berwudlu dan tayamun, kalau air dan tanahnya rusak maka dianggap lupa sebagai kholifah di muka bumi,” kata Fadil.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE mengaku bangga dengan konsep pengajian inpiratif dengan tajuk Ngaji Tani. Bupati berjanji, tekad pemerintah kabupaten senantiasa berusaha mensejahterakan petani. Dengan berbagai kebijakan yang diambil oleh Pemkab untuk melindungi petani. Diantaranya membatasi impor bawang merah dengan menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup). no 20 tahun 2012 tentang pengendalian peredaran bawang merah impor di Kabupaten Brebes.

Ketua Panitia Subekhan SSi menjelaskan, Ngaji Tani yang baru kali pertama digelar itu rencananya akan digelar bulanan dengan waktu dan tempat berbeda. “Kita perlu mendekatkan petani dengan cara-cara yang santun dan tidak menggurui dengan cara ngaji tani,” papar Bekhan.

Dalam kesempatan tersebut juga ditampilkan Seni Tradisi Kuntulan, Hadroh dan Pembacaan Puisi oleh Lebe Penyair. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Brebes Narjo, Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Ir Budiarso Dwi Harsono, Penasehat dan ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Soewardi Wirjaatmadja SH, Ir. Masrukhi Bachro, LSM Penggiat Tani dan ratusan masyarakat tani Brebes. (Ilmie)

Posted in: Serba Serbi