BrebesNews.Co 30 July 2013 Read More →

Karijan, Balada Penarik Becak Malam

• Cerpen oleh : IwanK

becak malam

Jalanan itu selalu akrab dengan debu, sejak dahulu. Kendaraan yang lewat baik roda dua atau roda empat mengarus sungai hampir sepanjang waktu asap knalpotnya tentu meracuni. Orang-orang yang lewat meski sekedar menyeberang tak jarang menutup hidung dan melindungi pandangan agar tak kelilipan.

Dan saat lampu-lampu di rumah-rumah, di toko-toko dan perkantoran menyala, menggeser matahari yang letih seharian bersinar sesungguhnya malam benar-benar telah sempurna. Mestinya saat-saat seperti itu derap kehidupan manusia telah berhenti. Orang-orang lebih nyaman meringkuk tidur dan didekap mimpi.

Tapi di sana, di pinggiran jalan Daendels itu cuma mereka yang rela berbaur debu. Karena malam bagi mereka adalah kehidupan. Karena hanya di jalanan mereka bisa dapat makan. Menunggu bis dari Jakarta atau dari Bandung, dari Semarang atau Surabaya berdatangan. Dan bila saat yang dinanti tiba mereka mulai bangkit, atau malah berlari, menyongsong laju bis yang menepi. Menjemput orang-orang yang turun berharap sudi membagi rejeki.

“Bangset kaa ! Laka sing gelem.!” Salah seorang dari mereka mengumpat. ‘Bangsat.! Nggak ada yang mau.!’ Begitu maksudnya. Saat penantian malam itu serasa sia-sia bagi dirinya, bahkan bagi teman-temannya yang juga berprofesi sama, tukang becak. Padahal mereka telah berharap semenjak maghrib mulai lepas, kala rona jingga yang tergores di ufuk barat berangsur lenyap.

Tapi, meski telah banyak penumpang turun dari bis sejak jam sembilan malam tadi tak seorang pun tergerak hatinya memakai jasa mereka.

Kenapa sekarang orang-orang jadi perhitungan membelanjakan uang? Apa karena merasa kesusahan mengais rejeki seperti halnya para tukang becak hingga mesti menghindari pemborosan? Sepertinya tidak! Buktinya para penumpang itu nampak kerepotan menenteng buah tangan dan barang bawaan saat turun dari bis tadi!

Mungkin tarif becak terlampau mahal hingga orang-orang kapok naik becak? Tidak juga! Para tukang becak selalu memberi harga yang pantas, bahkan kerap mengalah setelah calon penumpang merasa menang dengan tawar menawar yang dilakukan.

Malah seringkali terjadi kebuntuan harga dan calon penumpang melenggang pergi. Dan si tukang becak selalu kalah, dengan berat hati memburu kembali untuk mendapatkan penumpang tadi dengan tarif yang pasrah.
Itu juga kalau sedang beruntung, nyatanya yang kerap mereka temui cuma kekecewaan. Calon penumpang lebih sering menepis: “Wis ana sing njemput, Mas…” Jawaban semacam itu selalu memuakkan para tukang becak. ‘Sudah ada yang menjemput!’ Begitu kata calon penumpang tadi.

Dan calon penumpang pun melenggang, menghampiri sepeda motor yang telah lama nongkrong di beranda sebuah warung tak jauh dari tempat para tukang becak mangkal. Si tukang becak makin lemas saat calon penumpang akhirnya lepas, kerabatnya sudah menunggu sejak lama di warung itu.
“Pantesan sing mau mencet-mencet HP terus jebule deweke wis SMS-an…” Gerutu tukang becak itu kepada temannya. ‘Pantas saja dari tadi dia mencet-mencet HP melulu, rupanya si penjemput dan calon penumpang tadi selalu berkomunikasi lewat SMS.’ Begitu kurang lebih maksudnya. Apes! Lagi-lagi tukang becak terkalahkan!

***

Dialah Karijan. Sosoknya bisa ditemui saat malam tiba di utara alun-alun kabupaten Brebes di tepian jalan Daendels itu. Bukanlah sebuah cita-cita kalau dia jadi tukang becak. Usianya yang baru lewat tiga puluh tahun masih mungkin buat Karijan meraih mimpi. Tapi apalah daya, Karijan cuma tamatan SD. Dia merasa tak punya pilihan.

Itu juga masih untung Karijan memiliki istri yang mau mengerti. Dan istrinya itu rela jadi perkerja pada seorang juragan bawang merah tetangga mereka, jadi buruh harian yang bertugas menyiapkan bawang merah yang akan dikirim ke luar pulau. Penghasilan yang diterima mereka kumpulkan dan sebisa mungkin disisihkan.

Yah, Karijan dan istrinya mulai menyisihkan penghasilan meski dengan gigih harus bekerja. Demi buah hati yang tengah dikandung sang istri! Terlebih ini pertama kalinya istri Karijan mengandung. Mumpung baru empat bulan usia kandungan, mereka mulai menyiapkan biaya persalinan sejak mula. Dan di kala siang Karijan mesti mencari kerja serabutan, jadi kuli bangunan atau disuruh apa saja oleh tetangganya dia pasti tak menolak, yang penting bisa mendapatkan tambahan penghasilan.

Dan suatu malam saat seperti biasa nongkrong di pangkalan, saat itu Karijan nampak sudah kelelahan. Dia malah tertidur di atas armadanya. Dan saat tengah malam lewat, dari kejauhan nampak bis hendak menepi. Dan untuk kali ini para tukang becak sepertinya kejatuhan rejeki. Bis yang tiba dari Jakarta hampir bersamaan datangnya, hanya beberapa menit saja waktu jeda.

Tanpa diduga para penumpang langsung hinggap ke atas becak yang selalu saja berjajar di tepian jalan Daendels itu. Tanpa ada tawar menawar, tanpa ada pihak yang kalah dan menyerah dengan tarif yang pasrah. Teman-teman Karijan pun segera melesat, membawa penumpang dari bis yang datangnya beruntun tadi.

Tapi Karijan masih asik mendengkur, seorang diri. Entah sedang bermimpi apa dia kala itu? Tentang anaknya-kah yang bakal lahir nanti? Tentang bidadari-kah? Entahlah? Yang jelas Karijan mendadak bangun saat seorang lelaki berperawakan gempal menepuk sebelah lengannya. Karijan tergagap. Mengucek matanya.
“Anterin saya ke desa Kalimati, Mas.!” Pinta lelaki itu.

Karijan serta-merta bangkit, meloncat dari atas becaknya. Dan setelah terjadi kesepakatan tarif, Karijan pun siap mengayuh. Lelaki itu dengan nyaman merebahkan tubuhnya pada satu-satunya tempat duduk untuk penumpang di sisa mimpi Karijan tadi. Kemudian dengan kantuk yang perlahan sirna seiring putaran roda becak yang mulai kencang Karijan melambungkan angan… Uang lima puluh ribu rupiah dari lelaki itu yang diterima di muka sebagai upahnya benar-benar rejeki yang tak terduga baginya. Karijan merasa uang sejumlah itu sangatlah cukup sebagai penghasilannya malam itu.

Barangkali Karijan sedang mujur, mendapatkan penumpang dengan tujuan lumayan jauh, sekitar delapan kilometer jarak yang bakal ditempuh. Biasanya dia cuma dapat sepuluh ribu atau dua puluh ribu perak dengan tujuan dekat atau sedang. Padahal kala itu udara lumayan dingin, mungkin sudah jam dua dini hari. Karijan tetap kian laju mengayuh becaknya, makin jauh meninggalkan keramaian dan terangnya lampu-lampu. Kini Karijan membelokkan kemudi becaknya entah untuk yang keberapa kali. Yang jelas jalanan yang dilalui tak lagi mulus dan hamparan sawah mulai tersanding di kiri-kanan.

Karijan tak lagi kencang mengayuh. Sementara sinar rembulan yang menguntit dari balik awan di langit sana jadi satu-satunya cahaya yang menerangi. Dan untuk kali ini Karijan memasuki areal perkebunan tebu, yang senyap dan temaram! Hanya suara jangkrik bersahutan. Bayang-bayang rimbun tanaman tebu yang tergambar pada separuh lebar jalan makin membuyarkan pandangan.
“Mas… Berhenti sebentar, yah.! Pengin kencing, nih.! Lelaki berperawakan gempal si penumpang becak itu tiba-tiba minta diri untuk berhenti.

Karijan serta-merta menghentikan laju becaknya. Lelaki itu segera melompat ke tepian jalan. Dia berdiri, hendak melepaskan hasratnya. Karijan masih duduk di atas sadel, menunggu. Sementara suara jangkrik kian kencang bersahutan. Dan suara burung hantu yang sepertinya bersumber dari rimbun tanaman tebu mendadak menyembul ke permukaan.

Karijan nampak celingukan. Dia baru sadar kalau jalan yang dilaluinya ternyata teramat sepi, bahkan mencekam! Rasa takut tiba-tiba saja menyergapnya. Mata Karijan mendadak mengawasi kini. Suara jangkrik dan burung hantu itu kian menggema saja. Karijan mulai cemas. Lagi-lagi dia celingukan, memastikan penumpang tadi apakah telah tuntas tunaikan hasrat buang hajat kencingnya ?

Mendadak saja Karijan terkejut, lelaki itu tak berada di tempatnya! Karijan lekas turun dari sadel becak, berdiri. Dan areal itu masih diselimuti keremangan. Tiba-tiba saja Karijan seperti menangkap sosok bayangan. Dia merasa yakin kalau sosok itu adalah penumpangnya. Sosok itu kini makin datang mendekati. Karijan pun bersiap meraih becaknya kembali.

Tapi yang ditunggunya, sosok yang Karijan sangka adalah penumpangnya tak kunjung sampai. Karijan makin cemas. Dia menoleh ke arah belakang, ke sosok itu. Tiba-tiba saja… “Plak! Plak! Brett! Bug!!” Mendadak saja Karijan jatuh, tersungkur.! Tergeletak seketika, di jalan itu.

Diantara rimbun tanaman tebu dan keremangan di malam itu. Diantara suara jangkrik dan burung hantu kian berpacu yang mendadak saja seperti mengabarkan kengerian. Diantara gerit suara becak yang melaju, menjauh, yang untuk kali ini sosok bayangan itulah yang mengayuh. Sosok yang semula Karijan sangka adalah penumpangnya kini telah membawa kabur becaknya.

Karijan kini hanya bisa jalan sempoyongan diantara sepinya jalan bergelombang diantara pohon tebu yang sunyi. Dalam benak dan pikirannya berkelindan  bayangan bayinya yang lima bulan lagi akan menikmati riuh-nya bumi, dan wajah istrinya yang selalu menerima pekerjaannya meski sebagai tukang becak dengan ikhlas.

Di sela-sela jalannya yang masih sempoyongan, Karijan tanpa sadar bergumam diantara bibirnya yang masih terasa memar akibat gamparan penumpangnya yang ternyata adalah seorang perampas.

” Oh, Nasib..?!  (*)

 

Penulis:
Rafihan Anwar / Iwank / Suketz Itu Abdurokhman
Domisili di Gamprit Brebes

Posted in: Serba Serbi