BrebesNews.Co 13 July 2013 Read More →

Matinya Sumpah Hukum di Negara Daha

roso    Oleh Karno Roso*

BAGIKU hukum ditubir kehancuran. Kehancuran menuju hukum rimba. Siapa kuat ia bisa membeli hukum. Hukum tak lagi berpihak pada keadilan, kebenaran, kejujuran dan hati nurani. Hukum hanya legal formalistik yang kaku. Dan tak berkekuatan Ketuhanan. Rangkaian skenario hukum menguak pada hiruk-pikuk ruang publik.

Publik memblejeti hukum dengan terang-benderang. Mana rekayasa, mana target, mana kriminalisasi, mana permainan, dan mana hanya tekanan dari orang-perorang. Bahkan kesengajaan dari lembaga atau instansi agar orang masuk dalam pelukan hukum.

Tak semua rakyat menikmati hukum. Tapi ia mengalami sindrom ketakutan yang akut terhadap sirine hukum. Hukum sudah tak berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Hukum di Negara Daha sudah sangat karut-marut. Tak bisa diharapkan. Hukum sudah tak lagi bisa menjadi panglima. Hukum hanya bisnis yang mengiurkan dan seksi untuk dipaksa dan diperkosa. Tak semua orang masuk penjara salah.

Ia kadang disalahkan, dipermainkan bahkan hanya ‘mengkambing hitamkan’ karena tekanan. Tekanan struktural, fungsional, bahkan politisasi kepentingan. Kita tidak pernah jujur pada diri sendiri. Agama mati ketika riuhnya hukum menelisik pada sendi kehidupan.

Akan tetapi hukum hanya dijadikan lip service bagi mafia hukum. Bagaimana pun, hukum dapat dijual belikan oleh kaum berduit dan borjuis. Hukum ini telah mati, bukan mati suri. Tapi memang mati tak bernafas, tak bernyawa dan kaku. Bahkan hukum dipermainkan oleh pelaku hukum sendiri.

Mirisnya perilaku oknum aparat hukum sudah tak lagi memakai kitab hukum agamnya masing-masing. Kitab Hakim, kitab jaksa, kitab polisi bahkan kitab pengacara hanya dijadikan bantal mengumpulkan pundi-pundi kekuasaan dan kekayaan semata. Jika masih bisa diperas dan dijadikan bisnis, bahkan dijual belikan maka hukum tak lagi milik rakyat kecil atau yang awam hukum. Tapi hukum hanya milik penguasa hukum di Negara Daha yang bisa dipermainkan.

Sumpah Hukum
Bagiku tak sama, sumpah hukum di Bangsaku lebih romantis dan berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Lihat saja pada kitab sumpah pengacara, pasal 4 point 2 “Bahwa saya dalam menjalankan tugas profesi di dalam dan di luar Pengadilan tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada hakim, pejabat pengadilan atau pejabat lainnya agar memenangkan atau menguntungkan bagi perkara Klien yang sedang atau akan saya tangani”.

Aku juga kagum dengan kitab sumpah Mahkamah Agung sebelum perubahan pada pasal 9 “Saya bersumpah/ berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan jujur, seksama dan dengan tidak membeda-bedakan orang dan akan berlaku dalam melaksanakan kewajiban saya sebaik-baiknya dan seadil-adilnya seperti layaknya bagi ketua, wakil ketua, ketua muda, hakim anggota Mahkamah Agung yang berbudi baik dan jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan”.

Lebih hebat lagi aku juga takjub, pada kitab sumpah Kehakiman pada pasal 30 “Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan memenuhi kewajiban hakim dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”.

Aku juga bangga dengan kitab sumpah Kejaksaan pada pasal 10 “Bahwa saya senantiasa menjunjung tinggi dan akan menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan, serta senantiasa menjalankan tugas dan wewenang dalam jabatan saya ini dengan sungguh-sungguh, seksama, obyektif, jujur, berani, profesional, adil, tidak membeda-bedakan jabatan, suku, agama, ras, gender, dan golongan tertentu dan akan melaksanakan kewajiban saya dengan sebaik-baiknya, serta bertanggungjawab sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, bangsa dan negara”.
“Bahwa saya senantiasa akan menolak atau tidak menerima atau tidak mau dipengaruhi oleh campur tangan siapa pun juga dan saya akan tetap teguh melaksanakan tugas dan wewenang saya yang diamanatkan undang-undang kepada saya”.

Yang lebih hebat lagi sumpah pada kitab Kepolisian pada pasal 23 “ Demi Allah, saya bersumpah/ berjanji: Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak akan menerima pemberian berupa hadiah dan/ atau janji-janji baik langsung maupun tidak langsung yang ada kaitannya dengan pekerjaan saya”.

Tak ketinggalan kitab sumpah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada pasal 35 “Saya bersumpah/ berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi negara Republik Indonesia”.

Sumpah aparat hukum di bangsaku, sangatlah berorientasi pada kehidupan berikutnya. Karena sumpah dengan nama ALLAH sang Maha Esa. Yang konsekuensi logisnya adalah ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH sang Maha Adil. Apakah sesuai sumpahnya, ataukah hanya tata-laku seremonial sumpah jabatan. Tapi aku percaya aparat hukum Bangsaku telah menjalankan fungsinya sebagai aparat hukum yang beragama.

Aku yakin dan percaya jika Negara Daha, meniru perilaku hukum Negara Indonesia yang aku cintai ini. Pasti akan tercipta ketenangan, kedamaian, ketentraman, keadilan, kemakmuran, bahkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Aku fikir, Bangsa dan Negaraku Indonesia adalah satu-satunya Negara di dunia ini yang paling ideal dan paling mantap dalam menerapkan Hukum diatas kepentingan segalanya. Tak ada rekayasa, tak ada tebang pilih bahkan tidak bini kasih terhadap rakyat kecil yang tak tahu hukum. Rakyat lebih ‘dimanjakan’ dalam mencari keadilan dan kebenaran hukum di Negara tercintaku.

Tak seperti perilaku aparat hukum di Negara Daha, yang selalu rekayasa, tebang pilih, target, kriminalisasi, tak adil, hilangnya hati nurani, berlomba-lomba mencari kekayaan sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya.

Bahkan masih ada bisnis hukum, memeras atas nama hukum, dan mafia peradilan yang tak pernah lekang oleh waktu. Dalam kehidupan bermasyarakat, bersosial dan keadilan pada Negara Daha.
Jika itu selalu ada, maka kehancuran akan tenggelamnya negara Daha tinggal menunggu waktu oleh Sang Maha Adil.

* Penikmat Komunikasi Hukum, Tinggal Di Brebes

Posted in: Opini