BrebesNews.Co 11 July 2013 Read More →

Pernyataan KH Asmuni, Dinilai Hanya Bikin Keruh Ukhuwah Umat Nahdliyin

* Soal Pernyataan KH Asmuni Tentang Terpilihnya Kembali Duet KH Amin-H.Atho

SYAMSUL MAARIFBREBESNEWS.CO -Pernyataan Pengasuh Pesantren Asyamsuriyah Jagalempeni Wanasari Brebes KH Asmuni yang dilansir di media lokal Brebes, (rabu 10/7), dan menganggap remeh serta tidak akan menciptakan perubahan di tubuh NU Brebes, dengan terpilihnya kembali duet KH Aminudin Mashudi – H Athoillah pada Konferensi Cabang (Konfercab) XIII, mendapat reaksi keras dari pengurus struktural NU cabang, Syamsul Maarif.

Pernyataan KH Asmuni dianggap menunjukan kedangkalan pemikiran dan terlalu sok ngurusi NU. Padahal dirinya tidak pernah memberi sumbangsih apapun kepada NU dan hanya membikin keruh ukhuwah Nahdliyah (persaudaraan warga NU).

“ Dia selalu membikin keruh ukhuwah Nahdliyah yang telah dibangun PC NU akibat terlalu dangkal pemikirannya terhadap perkembangan NU,” bantah Ketua Demisioner Lembaga Pendidikan Maarif NU Brebes Drs Syamsul Maarif menanggapi pemberitaan miring yang disampaikan Kiai Asmuni terhadap terpilihnya Kiai Amin-Atho hasil Konfercab NU XIII, di gedung PC NU Brebes, Rabu (10/7).

Athoillah itu, lanjutnya, adalah kader NU yang bagus dan kalaupun tidak diterima maka yang menolak adalah Rois Syuriyah terpilih, karena kepemimpinan tertinggi di NU berada pada Rois Syuriah. Bukan pada seorang Asmuni.

Bukti dari keberhasilan pasangan Kiai Amin-Atho, lanjutnya, mereka mendapatkan suara mutlak dibandingkan dengan rival yang disandingkan. Artinya masih mendapatkan kepercayaan dari MWC yang merupakan representasi dari Nahdliyin. “Asmuni itu terlalu sok ngurusi NU dan anehnya lagi dia sering mengaku-aku sebagai PBNU,” ucapnya keras.

Meskipun sering mengaku sebagai PBNU, lanjutnya, tetapi dia tidak tahu dan tidak pernah mengikuti perkembangan NU. Contohnya, dia mengatakan kalau masa Jabatan Pengurus NU dua periode. Padahal jabatan Ketua NU di segala tingkatan tidak terbatas karena merupakan pengabdian. Keputusan itu berdasarkan hasil Muktamar NU ke-32 di Makassar.
“Saya hadir di Makassar, dan saya mengikuti persidangan tentang masa jabatan Ketua NU yang memutuskan tidak ada batasan periodesasi Ketua NU, karena sebagai bentuk pengabdian Nahdliyin kepada NU,” tandasnya.

Syamsul memandang, tidak diundangnya Muspida dalam Konfercab NU sebagai hal yang sah sah saja. Karena Konfercab itu gawe internal NU, maka diharapkan bisa tercipta kemandirian. “Tidak semua perhelatan NU harus mengundang pejabat pemerintah,” ujarnya.

Konfercab Brebes, saya nilai juga terbuka lebar. Disamping digelar diruang terbuka juga tidak ada larangan siapapun untuk hadir menyaksikan. Termasuk memasang baliho ataupun sepanduk. “Kalau merasa warga NU, ya silakan saja hadir tanpa harus diundang, buktinya banyak kok yang hadir termasuk yang berpenampilan preman sekalipun, apalagi seorang yang dianggap Kiai seperti Kiai Asmuni silakan hadir, kenapa malah ngumpet?” katanya.

Begitupun, dengan kehadiran para Caleg, lanjutnya, mereka tidak diundang tapi karena merasa simpatik sebagai Nahdliyin dan kader NU maka mereka hadir dengan sendirinya. “Bahkan dari Jakarta yang nota bene berasal dari partai merah ke royo-royo hadir. Aneh, kok dia (Asmuni,red) mempermasalahkan undangan,” kata Syamsul.

Syamsul yakin, dengan tidak tampilnya baju kebesaran jabatan pemerintahan di area Konfercab telah menunjukan telah mencerminkan kultur NU yang sesungguhnya. “Di Konfercab NU kemarin, saya ibaratkan sebagai jamaah sholat, tidak ada warna jabatan dan itu sangat indah,” pujinya.

Tuduhan Asmuni mengenai Athoillah telah menyeret NU ke ranah politik, juga mencerminkan kekerdilan wawasan Asmuni. Pasalnya, ketika Atho maju pilkada bukan kehendaknya sendiri tetapi atas amanat dari para ulama. Dan perlu diingat, NU menganut politik kebangsaan, bukan politik praktis. Jadi ketika ada perhelatan kebangsaan termasuk pilkada, kader NU justru harus maju pilkada atau bahkan maju dalam Pemilu Presiden sekalipun. “Perlu diingat, kekalahan Athoillah dalam bursa pilkada kemarin bukan berarti kekalahan NU,” bantahnya.

Mengungkit-ungkit persoalan pilkada kepada Athoillah, disinyalir oleh Syamsul sebagai perbuatan untuk menyenangkan diri sendiri Kiai Asmuni. Sebab biar dianggap selalu membela Bupati maka selalu menyerang Athoillah. Padahal pesta itu sudah berakhir, dan Bupati terpilih tidak pernah mempermasalahkan apapun. Justru Bupati dan Wakil Bupati sedang menghapus stigma pengkotak-kotakan dukungan yang dibangun pada era pilkada silam.

Dendam pribadi Asmuni terhadap Athoillah selalu dikaitkan dengan persoalan pemerintahan. Itu salah besar dan hanya akan memecahbelah umat, memecah ukhuwah Nahdliyah. “Urusi saja pondoknya biar maju dan santrinya banyak,” ungkit Syamsul. (Ilmie)

Posted in: Sosial