BrebesNews.Co 5 August 2013 Read More →

Mencermati Numpang Nampang Poltisi, Di Hari Raya Idul Fitri

Foto Arjuna * Arjuna Putra

Kini hanya tinggal beberapa hari saja kita akan merayakan hari besar yakni hari raya Idul Fitri, arus mudik pun sudah di mulai dan jalan-jalan mulai penuh dengan orang yang hendak pulang kampung.

Tak pelak, hal ini pun di manfaatkan oleh para Partai Politik dan Calon Legislatif peserta Pemilu 2014 pasang badan untuk memperkenalkan dirinya. Para partai politik dan calon legislatif ini kiranya sedang mempolitisasi datangnya Idul Fitri untuk kepentingan kampanye Pemilu.

Di beberapa pinggiran jalan, banyak sekali baliho, pamflet dan spanduk partai poltik dan calon legislatif beserta jargon-jargonya, berlomba-lomba menampilkan citra dirinya. Berlomba-lomba menarik simpati hati rakyat, serta aji mumpung untuk adu eksistensi sembari mengucapkan selamat hari raya idul fitri.

Inilah sebuah efek dimana sistem demokrasi one man-one vote, akhirnya menimbulkan konsekuensi budaya populer atau kalau boleh dikatakan budaya ber-“genit ria” untuk sekadar menampilkan diri dengan pamflet atau baliho besar yang dipasang di pinggir jalan dengan senyum yang dipaksakan dan janji-janji manis soal kesejahteraan rakyat.

partai politik seharusnya melakukan peran dan fungsinya dengan baik sebagai lembaga yang melakukan pendidikan politik, justru di redusir (dipersempit) malah berperan hanya “sekadar numpang nampang” dengan harapan bisa menagguk banyak suara pemilih di ajang pemilu mendatang.

Akhirnya kita pun setiap 5 tahun sekali merayakan pesta demokrasi bagaikan melakukan ritualisasi tanpa arti. Hanya sekedar ajang adu eksistensi dan mengejar orienstasi kepentingan pribadi. Tak ada pedidikan politik dan perjuangan ideologi, yang ada hanya depolitisasi karena politisi hanya sibuk dengan pencitraan diri sendiri.

Tak ada kaderisasi, yang ada hanya siapa yang terkuat dalam hal ekonomi dia lah yang jadi. Agitasi (hasutan) yang merekayasa kesadaran massa dan membentuk opini publik, justru di bungkus dalam ucapan hari raya idul fitri. Hari yang “suci” yang seharusnya kita menjadi diri yang “fitri”, justru sibuk dengan agenda pencitraan diri.

Maraknya spanduk dan pamflet kampanye saat ini, menandakan dominasi ruang privat atas ruang publik. Ruang publik yang seharusnya memuat pengetahuan mengenai kepentingan umum, justru di dominasi dan menjadi ladang meraih citra kepentingan pribadi. Sosialisasi politik bukan lagi memperjuangkan “agenda publik”, melainkan hanya menjadi sarana mobilitas pribadi.

Hal demikian justu mengancam demokrasi, keragaman informasi yang menjadi syarat penting dari kehidupan bersama (shared-life) yang sehat kini tersingkir oleh agenda pribadi. Akhirnya lenyaplah ruang publik. Ruang publik yang tidak lagi terbentuk lewat perdebatan dan konsensus, melainkan di kuasai oleh kelompok elite politik, dan ekonomi.

Ruang publik yang seharusnya merupakan ekspresi keprihatinan untuk mengabarkan kepentingan umum, kini telah menjadi ekspresi mengabarkan kepentingan pribadi para politisi. Terbukti maraknya pencitraan di balut ucapan hari raya idul fitri.

Pentas politik yang semula dimaksudkan untuk memperoleh konsensus rasional telah menjadi ajang perebutan kekuasaan di antara berbagai kelompok kepentingan. Sehingga demokrasi menjadi fasisme dan alat manipulasi. Sampai akhirnya mempolitasasi hari yang suci (Idul Fitri) -pun dinyatakan sah untuk politisi yang sibuk dengan pencitraan diri.

Namun apapun bentuk sebuah pencitraan, masyarakat juga yang akan menilai, mana politisi jadi-jadian dan mana politisi sungguhan (*)

* Penulis Adalah Mahasiswa Negeri Yogyakarta (UNY) Asal Brebes

Posted in: Opini