BrebesNews.Co 17 August 2013 Read More →

Mewaspadai Penjajahan Gaya Baru Ala Negara Maju

Foto Arjuna* Arjuna Putra

Indonesia yang mempunyai pengalaman penjajahan fisik oleh Belanda dan Jepang (yang dominan dibahas) telah meninggalkan luka yang sangat mendalam pada diri masyarakat Indonesial. Dengan di jajah Belanda hampir 3,5 abad dan di jajah Jepang 3,5 tahun, tentunya sebagai bangsa terjajah, menimbulkan posisionalitas sebagai diri “ yang dikuasai ”.

Hingga pada akhirnya karena adanya keinginan lepas dari belenggu penjajahan, timbul perlawanan untuk mendapatkan “kemerdekaan” sebagai diri yang berdaulat dan mempunyai wewenang penuh dalam mengatasi masalah terkait nasib bangsa sendiri.

Terbukti tercantum dalam teks Pembukaan UUD 1945, yang berbunyi “Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Yang perlu di garis bawahi dalam alinea ke 2 Pembukaan UUD 1945 adalah kata “kedepan pintu gerbang” dalam kalimat dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang

kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Disini kita dapat mengambil makna bahwa perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia pada masa silam, hanya baru sampai pada “kedepan pintu gerbang” Kemerdekaan Indonesia untuk menjadi Negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Artinya perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia belumlah selesai.

Jika demikian, tidaklah cukup kita memaknai “kemerdekaan” hanya sekedar simbolik dan ritualitas serta euphoria tahunan tanpa mempetimbangkan seberapa jauh kita sudah melepaskan diri kita dari jeratan rantai dan jeruji imperialisme, yang bukan hanya berbentuk penjajahan secara fisik melainkan kekuasaan politis, kekuasaan intelektual dan kekuasaan kultural.

Kebanyakan pemaknaan “kemerdekaan” hanya sekedar lepas dari jeratan penjajahan fisik yang secara kongkrit hadir di depan mata bangsa Indonesia,sehingga perjuangan pergerakan kemerdekaan dianggap “sudah selesai”, telah mencapai “finalitas” atau sudah mutlak merdeka.

Hari kemerdekaan jarang sekali dimaknai dan di renungkan secara mendalam oleh elemen bangsa Indonesia, melainkan hanya sekedar perayaan “Tanggal Merah”. Apalagi jika kita melihat perayaan hari kemerdekaan yang dilaksanakan oleh jajaran pemerintahan yang hanya mengejar “kemeriahan dan formalitas” perayaan melalui upacara bendera dan lain-lain.

Untuk menghindari aktivitas yang involutif, dimana aktivitas yang kelihatannya kompleks, rutin dan riuh tetapi sebenarnya stagnan. Senyatanya perlu kita merenungkan kembali makna kemerdekaan secara lebih mendalam untuk menemukan makna kemerdekaan yang lebih fundamental.

Terngiang di kepala sepatah kata dari Bung Karno, bahwa “perginya kolonialisme di tanah Indonesia, bukan berarti lepasnya sama sekali imperialisme sama sekali pada bangsa Indonesia”. Artinya larinya penjajah seperti Belanda dan Jepang di tanah air kita bukan merupakan satu-satunya ukuran pencapaian kemerdekaan secara mutlak.

Bentuk Imperialisme Baru Negara Maju

Apalagi jika kita melihat pergeseran model imperialisme di era sekarang ini, dimana imperialisme secara fisik kini tidak lagi dominan dilakukan yang mungkin akan mendapat pertentangan dari pembela Hak Asasi Manusia, melainkan gaya imperialisme baru yang berupa kekuasaan politis, kekuasaan intelektual dan kekuasaan kultural yang kini justru mendapatkan legitimasi atas nama Hak Asasi Manusia.

Seperti yang dilakukan Amerika Serikat dan Sekutunya di Timur Tengah dan Amerika Latin. Artinya walaupun penjajahan secara fisik sudah berakhir, akan tetapi penjajahan terhadap pikiran, jiwa dan budaya masih terus berlangsung. Penjajahan kini didialektikakan melalui kesadaran atau gagasan.

Segala gagasan mengenai Dunia Ketiga yang di hasilkan oleh Barat tidaklah netral dan obyektif sebagaimana banyak orang duga, gagasan-gagasan tersebut selalu mempunyai relasi kekuasaan dan kepentingan Barat untuk menguasi Negara Dunia Ketiga melalui konstruksi sosial budaya.

Melalui mitos-mitos yang “mengerdilkan” Negara dunia ketiga sebagai pihak yang “bodoh dan tidak rasional” telah memperlemah mentalitas masyarakat dunia ketiga termasuk Indonesia sehingga intervensi politis dan penguasaan intelektual bangsa Barat telah menjadi kewajiban dan hal yang lumrah demi “kemajuan” dunia ketiga.

Masyarakat timur yang selalu di gambarkan sebagai masyarakat barbar, tidak beradab dan mistis, membuat posisi Barat selalu menjadi “trend center” dalam segala bidang, termasuk dalam bidang kebudayaan. Hal ini menjadikan posisi Barat sebagai Subyek, dianggap yang paling “unggul”, “superior”, “self” dan satu-satunya yang memiliki “otoritas” yang legitimage dan paling berhak “mendefinisikan” apa yang baik dan yang buruk bagi Negara dunia ketiga.

Situasi yang demikian membuat Negara dunia ketiga sulit untuk menegaskan identitas nasional, kedaulatan politik, intelektual dan kebudayaan yang berasal dari dirinya sendiri. Artinya Negara dunia ketiga kesulitan mencapai “Subjektivitas” yang utuh bagi dirinya sendiri, sebuah makna yang paling fundamental dari kata “Kemerdekaan” dimana sebuah bangsa dapat menjadi subjek bagi dirinya sendiri dan realitas di luar dirinya.

Masyarakat Timur atau Dunia Ketiga yang mempunyai konsep diri yang selalu merefleksikan kepribadiannya dengan tatanan yang harmoni, atau kesatuan dengan orang lain dan dunia harus di bedakan dengan masyarakat Barat yang mempunyai konsep diri sebagai suatu hasil dari sejarah pribadi dan dicirikan oleh suatu kemandirian dan pemisahan dari hal-hal yang mengelilinginya.

Tulisan ini hanya sedikit memicu timbulnya kesadaran terjadinya imprealisme mulai dari cara berpikir kita sampai berefek pada tindakan kita atas realitas sosial yang terjadi di bangsa ini. Banyaknya pembahasan tentang perenungan akan kemerdekaan yang sejati bagi bangsa kita diharapkan dapat menjadi titik terang guna menimbulkan upaya untuk memulihkan cara berpikir tersebut, sehingga “kemerdekaan” yang sejati itu “Ada” pada bangsa yang kita cintai ini. (*)

Penulis adalah mahasiswa Univesitas Nasional Yogyakarta asal Brebes

Posted in: Opini