BrebesNews.Co 24 August 2013 Read More →

Problem Kemiskinan Dan Proses Pendidikan Yang Membebaskan

Foto Arjuna* Arjuna Putra

Bangsa ini semakin hari semakin di landa kecemasan terkait permasalahan pemiskinan rakyat, marginalisasi rakyat, serta persoalan keadilan sosial. Keadaan yang demikian sangat mengkhawatirkan, dimana perekonomian kita selalu mengalami pertumbuhan, namun kemiskinan rakyat semakin merajalela dan persoalan keadilan semakin terancam. Disinilah di butuhkan sebuah perlawanan terhadap sistem ketidakadilan dan penindasan yang berlangsung saat ini.

Terkadang banyak para ahli seringkali mengkaitkan permasalahan kemiskinan dengan soal kurangnya kesadaran masyarakat, kebodohan atau rendahnya tingkat Pendidikan, dan soal masyarakat yang tidak memiliki keterampilan.

Sehingga akar masalah kemiskinan menjadi sangat kabur. Seolah-olah kemiskinan adalah keinginan mereka sendiri, seolah-olah ketidakberdayaan rakyat kita adalah karena ulahnya sendiri. Sehingga seringkali bangsa ini terjebak dalam lingkaran setan yang tak pernah berujung. Tidak dengan cermat memahami mana yang akibat dan mana yang menjadi sebab atau akar permasalahan.

Kadang pula pemahaman kemiskinan di pandang dengan hal yang metafisik, menganggap kemiskinan sebagai suatu hukum keharusan alami, suatu hal yang mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Banyak orang yang belajar dan bekerja keras, namun nasibnya tetap saja (atau tetap miskin). sementara orang yang hanya ongkang-ongkang karena di lahirkan sebagai anak orang kaya maka, orang pun jadi makmur.

Ada pula yang mengkaitkan masalah kemiskinan dengan soal masalah minim etika, minim kreativitas, need for achievement (minim kebutuhan prestasi). Suatu masyarakat miskin dianggap sebagai salah masyarakat sendiri, yakni mereka malas belajar dan bekerja, fatalis, tidak memiliki jiwa kewirausahaan, atau tidak memiliki budaya membangunan dan seterusnya.

Untuk menjawab semua itu, masyarakat utamanya generasi bangsa harus sebisa mungkin di bentuk menjadi individu yang “excellence” melalui Pendidikan. Pemerintah pun membangun kelas Internasional dan fasilitas baru, memoderenkan peralatan sekolah dengan pengadaan komputer yang lebih canggih dan laboratorium, serta berbagai usaha untuk menyehatkan rasio murid dan guru.

Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih effisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics), learning by doing, experimental learning, ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan sebagainya.

Usaha peningkatan tersebut terisolasi dengan sistem dan struktur ketidakadilan atau tidak menyentuh akar permasalahan ketidakadilan, sehingga tidak berarti apa-apa justru terkadang memicu masalah baru.

Disinilah kita harus memahami posisi Pendidikan sesuai dengan Filosofi Pancasila dalam menyelesaikan permasalahan ketidakadilan dan penindasan yang terjadi. Memahami Pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekedar dipahami berdasarkan orientasi kognitif (pengetahuan) saja melainkan lebih meluas yakni sebagai “arena perjuangan politik”.

Pendidikan sebagai Alat Pembebasan terhadap sistem dan struktur ketidakadilan dan penindasan sesuai dengan Amanat Pembukaan UUD 1945 yakni “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”. Maka dari itu, Pendidikan harus mampu melakukan perubahan struktur ekonomi-politik masyarakat secara fundamental dimana Pendidikan berada.

Pendidikan harus bisa melakukan “refleksi” kritis terhadap dominasi atau exploitation de l’homme par l’homme (penindasan manusia atas manusia lain ) maupun exploitation de nation par nation ( penindasan bangsa terhadap bangsa lain) kata Bung Karno. Arah Pendidikan tidak hanya berkisar pada Student Movement melainkan sebuah gerakan Social Movement, ke arah transformasi sosial menuju sistem sosial baru yang lebih adil yang memihak rakyat kecil dan yang tertindas.

Dengan kata lain, tugas utama Pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.

Pendidikan juga harus mampu menyelesaikan persoalan struktur ketidakadilan didalam dunia pendidikan itu sendiri yakni antara murid dan guru. Artinya Pendidikan harus mampu pula mentransformasikan dirinya sendiri, yakni mentransformasikan relasi “knowledge/power” dan dominasi hubungan yang mendidik yakni “Guru” dan yang dididik “Murid” didalam proses pendidikan itu sendiri. Sehingga pada gilirannya pendidikan bisa menjadi institusi kritis menuju pada perubahan sosial yang lebih adil dan memihak kepada yang lemah.

Tanpa visi dan pemihakan yang jelas pada kaum masyarakat lemah, setiap usaha pendidikan sesungguhnya sulit diharapkan menjadi institusi kritis menuju pada perubahan sosial yang lebih baik. ter-utama dalam mengatasi problem kemiskinan bangsa. Percayalah… (*)

Penulis adalah Aktivis GMNI Komisariat UNY dan Kepala Departemen Lingkar Studi Pendidikan BEM FIP UNY Asal Brebes

Posted in: Opini