BrebesNews.Co 2 August 2013 Read More →

Tradisi Mudik : Antara Ladang Rezeki dan Tragedi Konsep Ekonomi Terpusat (?)

Foto Arjuna * ) Arjuna Putra

Kata “mudik” berasal dari singkatan yang berasal dari kata bahasa jawa yakni “Mulih Dhisik”. Mudik dilakukan setiap tahun ketika mendekati lebaran oleh para perantau atau pekerja migran yang mencari nafkah di kota-kota yang menjadi kantong-kantong perekonomian, terutama Jakarta.

Bisa dikatakan bahwa mudik adalah kegiatan pulang kampung menjelang hari raya setelah sekian lama banting tulang dan bekerja keras di negeri seberang untuk mengais pundi-pundi rezeki.

Mudik ini dilakukan sebagai bentuk rasa rindu dengan keluarga dan saudara-saudara di kampung halaman. Kepulangannya di kampung halaman sebagai upaya mempererat silaturahmi, kekerabatan dan persaudaraan.

Dalam masyarakat jawa terdapat tradisi “sungkeman” yang merupakan tanda penghormatan dan permohonan doa restu kepada orangtua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidiknya. Disinilah mudik menjadi sebuah “panggilan jiwa”, yang membawa konsekuensi kultural. Akhirnya pun mudik menjadi semacam “tradisi”, yang mempunyai nilai tersendiri.

Sebagai nilai tradisi yang membawa “rezeki”, dimana bisa berkumpul bersama keluarga serta sanak saudara yang tersebar di perantauan dan yang paling mengharukan adalah ketika “sowan” dengan orang tua yang merupakan sebuah tanda penghormatan dan permohonan doa restu.

Bukan hanya itu, prosesi “salam-salaman” dengan orang sekampung ketika selesai shalat Id pun menjadi sebuah momen yang memuat nilai tersendiri. Dimana manusia dituntut mampu melakukan pemaknaan kembali terhadap fitrah kemanusiaannya, yang diukur dari seberapa kemampuannya merajut jalinan kasih dengan sesamanya.

Disinilah mudik menjadi “rezeki” bagi sebuah keluarga, kekerabatan dan persaudaraan. Dan tak kurang, yang kerapkali ada saat silaturahmi yakni momen bagi-bagi “rezeki” atau yang biasa disebut bagi-bagi amplop angpao lebararan kepada sanak keluarga.

Tak hanya itu, ketika saat tibanya “arus mudik” di jalan Pantura yang biasanya sudah dimulai pas H-7 lebaran telah menjadi ladang “rezeki” tersendiri bagi penduduk yang berdomosili di sekitar jalan Pantura. Dimana di sekitar jalan Pantura dapat di manfaatkan sebagai pundi-pundi “rezeki” dengan menjajakan beberapa dagangannya.

Terbukti banyak terdapat “warung dadakan” disepanjang jalur mudik, masyarakat pantura khususnya untuk mencoba mengais rejeki dari para pemudik. Dari sudut pandang inilah, tradisi mudik yang notabene cuma ada di Indonesia telah membawa banyak “rezeki” bagi warganya.

Berbeda dengan hal itu, mudik pun dapat dipandang sebagai sebuah “Tragedi”. Mudik dikatakan sebagai tragedi, karena mudik merupakan sebuah fenomena dimana berbondong-bondongnya orang dari luar Jakarta datang ke Jakarta hanya untuk mengais rezeki atau mencari pekerjaan.

Hal ini menunjukan fenomena bahwa ekonomi nasional kita sangatlah terpusat, dimana pembangunan ekonomi kita sangatlah Jakarta Sentris. Fenomena mudik bisa dilihat sebagai gambaran tidak meratanya pembangunan ekonomi bangsa kita, sulitnya mencari pekerjaan dan mengais rezeki di kampung halamannya sendiri.

Terlihat kurang di kembangkannya perekonomian daerah, mulai dari pembangunan ekonomi dan pembangunan infrastruktur masih jomplang. Akhrinya Jakarta atau Jawa masih menjadi kutub utama perekonomian Indonesia.

Disinilah tradisi mudik telah menggambarkan sebuah fenomena “tragedi” kesenjangangan ekonomi, fenomena pembangunan yang tidak merata. Jadi tradisi mudik adalah sebuah gambaran fenomena antara “Rezeki” dan “Tragedi” yang semoga bisa menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. (*)

* Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Yogyakarta (UNY) Asal Brebes

Posted in: Opini