BrebesNews.Co 20 September 2013 Read More →

Humas Brebes ‘Ngangsu Kawruh’ Dengan Sastrawan Ahmad Tohari

* Terjemahkan Quran Dengan Bahasa Ngapak Banyumasan

ahmad tohari1

BREBESNEWS.CO (Banyumas) -Pengarang novel fenomenal Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk KH Ahmad Tohari asal desa Tinggarjaya Jatilawang Banyumas telah selesai menerjemahkan Al Quran dalam bahasa Banyumasan. Dia berkeyakinan, dengan hasil terjemahannya bisa memudahkan warga Banyumas dalam menyerap dan menerapkan isi kandungan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari. Meski mengaku kesulitan dalam mencari padanan kata Banyumas, tetapi ternyata mampu juga diselesaikan dalam jangka waktu setahun.

“Alhamdulillah, kini dalam tahap pra validasi Kementerian Agama,” tutur budayawan Banyumas yang karya-karyanya diterjemahkan dalam berbagai bahasa Internasional di rumahnya, Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Purwokerto, Sabtu (14/9) lalu.

Sastrawan kelahiran 13 Juni 1948 ini mengaku sangat gelisah hati dengan minimnya pemahaman Al Quran dan penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, dirinya bertekad mendekatkan Quran ke dalam bahasa lokal Banyumasan.

Ahmad Tohari menamatkan SMA di Purwokerto. Ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).

Dalam dunia jurnalistik, Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur harian Merdeka, majalah Keluarga dan, majalah Amanah, semuanya di Jakarta.

Dalam karier kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan beberapa novel dan kumpulan cerita pendek.

Beberapa karya fiksinya antara lain trilogi ”Ronggeng Dukuh Paruk” telah terbit dalam edisi Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Tahun 1990 pengarang yang punya hobi mancing ini mengikuti International Writing Programme di Iowa City, Amerika Serikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa.

Cerpennya berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Novelnya Kubah (1980) memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980. Ronggeng Dukuh Paruk(1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986. Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak (1986) menjadi pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award. Sekitar tahun 2007 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Rancage.

Karya Kang Tohari diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggris Ronggeng Dukuh Paruk , Lintang Kemukus Dini Hari , Jantera Bianglala diterbitkan oleh Lontar Foundation dalam satu buku berjudul The Dancer diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff.

Pada tahun 2011, trilogi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi menjadi sebuah film fitur yang berjudul Sang Penari yang disutradarai Ifa Isfansyah. Film ini memenangkan 4 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011.

Budayawan Pantura yang juga kepala bagian Humas dan protokol Pemda Brebes Drs Atmo Tan Sidik yang menyertai wawancara berharap, dengan terlahirnya karya Ahmad Tohari menterjemahakan Al Quran ke dalam bahasa Banyumasan, mudah-mudahan akan terlahir penerjemah-penerjemah daerah yang melakukan hal serupa. Sehingga ada ikatan emosional dan kedekatan Illahiyah dengan memakai bahasa ibunya.

Dalam catatan 21 Februari 2000 Unesco telah mencanangkan sebagai hari bahasa Ibu. Sebab dalam satu abad 720 bahasa yang hilang. “Dengan lahirnya penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa ibu, akan turut serta melestarikannya,” tambah Atmo lagi

Menurut Atmo, Brebes sebagai perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat, memiliki cukup banyak ragam bahasa ibu, yakni bahasa daerah, mulai dari Banyumasan, bahasa Jawa hingga bahasa Sunda.

” Saya harap dengan ngangsu kawruh (menimba ilmu-red) ini, nantinya ada juga terjemahan Quran dengan bahasa Brebesan yang dianggap unik karena terdiri dari bermacam akulturasi bahasa, ” kilahnya. (Ilmie)

Posted in: Serba Serbi