BrebesNews.Co 21 October 2013 Read More →

Memimpikan Pesisir Pandansari Menjadi Mangrove Education

DSCI1447_resize

* Mereka yang bertindak lokal, Namun berpikiran Global

Oleh : Bahrul Ulum

Wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting tetapi rentan (vulnerable) terhadap gangguan. Karena rentan terhadap gangguan, wilayah ini mudah berubah baik dalam skala temporal maupun spasial. Perubahan di wilayah pesisir dipicu karena adanya berbagai kegiatan seperti industri, perumahan, transportasi, pelabuhan, budidaya tambak, pertanian, pariwisata.

Aktivitas manusia dalam menciptakan ruang-ruang terbangun akhirnya sering mengakibatkan masalah di dalam ekosistem pesisir. Batasan kawasan terbangun seperti kota pesisir harus dilakukan. Perkembangan pemukiman, atau fasilitas lain harus dibatasi melalui sistem penataan ruang agar perkembangan ruang terbangun dapat terkendali dan arah pengembangan ke arah sepanjang pantai harus di cegah.

Dengan potensi yang unik dan bernilai ekonomi tinggi namun dihadapkan pada ancaman yang tinggi pula, maka hendaknya wilayah pesisir ditangani secara khusus agar wilayah ini dapat berkelanjutan.

Salah satu dari Desa di Pesisir Brebes tepatnya di Dukuh Pandansari Desa Kaliwlingi yang berada di wilayah Kecamatan Brebes memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan pembelajaran (succes story) bagi pemerhati lingkungan hidup, Pemda/Pemkot, para aktivis lingkungan hidup, dimana masyarakatnya memiliki komitmen yang kuat menjadikan Kampungnya sebagai kawasan penghijauan mangrovisasi atau dalam bahasa umumnya tanaman Bakau.

Sisi yang lain di dukung juga adanya Komitmen dari Bupati Brebes saat itu, H. Agung Widyantoro, SH. M.Si yang mempunyai tekad dan komitmen dalam rangka perubahan Iklim di wilayah Pesisir Pantura Brebes sepanjang 36 km untuk digalakkan penghijauan melalui program Mangrovisasi.
Kenapa demikian, karena program ini akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah Pesisir Pantura pada umumnya dan lebih spesifik untuk pemulihan tambak dari bahaya abrasi, hilangnya ikan tangkapan, instrusi air laut, dan banyaknya serangan hama penyakit akibat tidak tertata dengan baik.

Selintas Tentang Pesisir Pandansari

Kampung Pandansari sebagai kawasan mangrove dirintis sejak tahun 2007, oleh sejumlah aktivitis penghijauan Mashadi selaku Koordinator IPPHTI ( Ikatan petani Pengendalian hama terpadu Indonesia) Kabupaten Brebes. Menurutnya ada berbagai macam tekanan berbagai sisi yaitu kondisi alam, politik, kebijakan, dan ekonomi.

Dari sisi Tekanan alam dimaksud karena tidak bisa menduga perubahan iklim yang ekstrim, abrasi, hilangnya ikan tangkapan, instrusi air laut, banyaknya serangan hama sehingga terjadi penurunan hasil produksi.

Dari sisi Tekanan Politik maksudnya walaupun desa terletak di wilayah Kecamatan Perkotaan Brebes namun Kampung pandansari terletak agak jauh dari Wilayah Kecamatan Kota di Brebes sehingga jarang sekali para eksekutif dan legislative mencurahkan programnya ke kampung ini. Dari sisi tekanan social, maksudnya daerah pesisir terkesan marginal, kumuh, dekil, dan masyarakatnya masa bodoh.

Dari sisi tekanan kebijakan, maksudnya program masih terkesan top down tidak bottom up sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari sisi tekanan ekonomi, dimaksud berkurangnya mata pencaharian karena ekosistem yang rusak, dan banyaknya masyarakat yang tidak mau sekolah karena sarana dan prasarana yang jauh dari kenyataan.

Belajar dari tekanan diatas, kemudian para aktivis IPPHTI Kabupaten Brebes yaitu Mashadi selaku Koordinator IPPHTI mencoba untuk melakukan upaya sosialisasi, dan pemberdayaan masyarakat dengan model membangun komitmen bersama untuk menumbuhkan partisipasi warga. Sosialisasi antaranya untuk mengenal permasalahan yang ada, memecahkan bersama, dan menentukan rencana ke depan kampungnya mau dijadikan apa.

Proses ini memakan waktu hampir 2 tahun untuk mengabdikan ilmunya, dan pengalamannya guna memulihkan pandangan masyarakat untuk tidak charity. Dari kerja keras dan rasa tanggungjawab yang tinggi akhirnya IPPHTI bekerjasama dengan Yayasan Kehati pada tahun 2009 untuk membantu kawasan Kampung Pandansari menjadi kawasan Mangrovisasi.

Program yang diberikan dari Yayasan Kehati adalah Adaptasi dan Mitigasi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim melalui penguatan kelompok mangrove dan tani lestari. Untuk kelompok mangrove lebih di fokuskan pada rehabilitasi pesisir dan untuk kelompok tani lestari pada bidang pertanian organic atau sekolah lapangan.

Belajar dari pola pemberdayaan yang dibangun oleh Yayasan Kehati akhirnya hingga sekarang munculah dukungan yang nyata dari berbagai pihak, seperti dari Keterlibatan NGO dan perguruan tinggi untuk hadir dan meberikan sumbangsih pemikiran dan donasi serta dukungan bantuan teknis kepada kelompok dampingan seperti ( Lebah Nusantara, GEF – SGP dan Nastari ), dari Perguruan tinggi : Klinik Tanaman IPB Bogor, Undip Semarang, KeSEMart Undip ).

Selain itu juga terdapat kerjasama dengan pihak swasta melalui Program CSR Coorporate social responsibility dengan PT. Aplikanusa Lintasartha, Hotel Bumi Karsa Bidakara Group, SMA Cita Buana, dan Djarum Trees For Life dan dari model mandiri Kelompok ini telah melakukan kerjasama dan ber jejaring dengan masyarakat pesisr lain baik di wilayah Brebes ( Sawojajar, Grinting, Randusanga Kulon Dan Bangsri ) Serta Regional Jawa tengah dengan Kelompok mangun harjo semarang dan Bedono Demak.

Bentuk Kegiatan

Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Mangrove dan tani lestari meliputi :

Rehabilitasi Mangrove 1 juta pohon (3 thn), SLPO (Sekolah Lapang Pertanian Organik ),Penanaman Plasma Nutfah (1500 batang pohon), Pembuatan Kompos, Asap cair, Arang Sekam dan Mikro Organisme Lokal (MOL),

Dialog dengan Kebijakan, Pemetaan partisipatif,Patroli kawasan perlindungan mangrove,Penyadaran masyarakat tentang perubahan iklim dan pelestarian hutan mangrove, Pengelolaan makanan berbahan mangrove,Pendampingan secara continue dengan kelompok mangrove.
Menjadi narasumber di berbagai kelompok mangrove baik local, regional maupun nasional.

Nilai Tambah Kegiatan

Nilai tambah setelah ada kegiatan dan dukungan dari CSR dan dukungan dari Pemerintah Daerah Brebes terjadi peningkatan pada usaha ekonomi local masyarakat Pandansari, dimana mereka mampu untuk membuat berbagai produk antara lain :

Pengolahan dari bahan baku buah mangrove, Budidaya rumput laut jenis Cattoni,Budidaya Kerang Darah, Budidaya Keramba Kepiting, Penghasil Padi tahan dampak air asin.

Bibit padi yang dibudidayakan oleh kelompok tani lestari ini sekarang diminta oleh Pemda Ciamis, Pemda Tasik, Pemkot Pekalongan, Pemda Demak, Pemda Semarang, Pemda Jepara.

Nilai tambah yang lain yang dapat dipelajari dari keberhasilan kelompok ini antara lain :
Masyarakat sadar akan pentingnya ekosistem lingkungan pesisir, Terjaga kawasan hutan mangrove dari kawasan hutan liar (illegal logging),Tertanam hamparan mangrove sebanyak 30 Ha, Munculnya biota ekosistem laut yang melimpah

Mimpi ke depan di kampung Pandansari ini adalah menjadikan desa ini menjadi desa mandiri pangan, ekowisata, dan mangrove education centre. Semoga mimpi masyarakat bisa terwujud dengan baik. Dan bagi masyarakat yang mau berkunjung atau bekerjasama sama dengan Kelompok Mangrove Kampung Pandansari Desa Kaliwlingi Kecamatan Brebes bisa menghubungi Mashadi handphone 082135291002 email : kanghadi71@gmail.com

Bahrul Ulum  (Kontributor liputan Brebesnews.co tinggal di Brebes)

Posted in: Opini