BrebesNews.Co 18 December 2013 Read More →

Brebes Bangkitkan Lagi Budidaya Udang Windu

tanam udang windu (5)

BREBESNEWS.CO -Kejayaan udang windu yang pernah dialami petambak Brebes pada era 1980-an. Kini kejayaan itu akan diupayakan bangkit kembali. Apalagi harga Udang windu yang cukup tinggi mencapai 150 ribu per kilogram untuk isi 10-15 ekor Udang windu.

Tidak kurang dari 10 petak lahan tambak Udang Windu milik petani tambak di wilayah desa Randusanga Kulon dan Wetan kecamatan Brebes, senin kemarin ( 16/12) dipanen bersamaan. Panen perdana Udang Windu tersebut yang sempat mati suri selama lebih dari 20 tahun itu dilakukan petambak bersama Wakil Bupati Brebes, Narjo.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Brebes, Ir. Slamet Riyadi melalui Penyuluh Perikanan wilayah Desa Randusanga Wetan dan Kulon, Dwi Estika P. mengatakan, panen ini merupakan panen perdana komoditas udang windu hasil kerjasama dengan Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Budidaya udang windu di wilayah Kabupaten Brebes, kata Dwi, adalah hasil pengembangan IPTEKMAS (Ilmu Pengetahuan Untuk Masyarakat) Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan di tengah masyarakat.

Meski demikian, lanjut Dwi, trauma kegagalan udang windu yang pernah terjadi di era tahun ‘ 90 an membuat petani tambak di Brebes belum berani secara penuh melirik udang windu kembali.

Karena itu, panen perdana ini baru beberapa petani tambak yang mau mencoba udang windu, kata Dwi.
Diakui Dwi, Udang Windu ini memang belum setahan udang vaname yang saat ini tengah dikembangkan dalam menghadapi penyakit. Namun, balitbang kementerian kelautan dan perikanan juga para peneliti Indonesia tengah mengembangkan bibit udang windu (Penaeus monodon) yang tahan penyakit terutama serangan virus sindrom bintik putih (white spot syndrome virus/WSSV).

Jadi kemungkinan menggiatkan kembali udang windu masih sangat terbuka, terlebih udang windu, atau yang juga dikenal dengan sebutan giant tiger, adalah varietas udang asli Indonesia. Udang jenis ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi, terutama di pasar ekspor.

Karena itu, tambah Dwi, untuk mengurangi resiko gagal panen, pola penanaman yang memungkinkan saat ini adalah polikultur, atau dicampur dengan komoditas lainnya semisal bandeng atau rumput laut.

Sementara itu, Wakil Bupati Brebes, Narjo menyambut gembira semangat petani tambak untuk menggelorakan kembali komoditas udang windu. Menurut Narjo, Brebes pernah jaya dengan udang windu, karena itu bukan tidak mungkin petani tambak dan masyarakat Brebes akan kembali mengulang kejayaan tersebut.

Terlebih, kata Narjo, semangat tadi juga seiring dengan penetapan Kabupaten Brebes sebagai kawasan sentra udang vaname.

“ Artinya, ke depan petani tambak bisa memilih varietas udang yang akan ditanam, apakah windu atau vaname,” tambah Narjo.

Sementara itu, kekhawatiran petani tambak untuk menanam kembali udang windu dijelaskan secara gamblang oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan RI (BRKP-DKP) serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Brebes yang menggelar dialog bersama para petani tambak dan penyuluh perikanan di wilayah Desa Randusanga Kulon dan Wetan.

Rombongan BRKP-DKP yang diketuai DR. Endhay Kusnendar pada kesempatan tersebut memaparkan bagaimana perkembangan varietas udang windu saat ini, termasuk pengembangan varietas yang lebih tahan penyakit.( AFIF.A)