BrebesNews.Co 26 February 2014 Read More →

Dukuh Jalawastu Desa Ciesereh Ketanggungan Diusulkan Jadi Dukuh Budaya

ngasa2

* Warga Jalawastu di kaki gunung Segara

BREBESNEWS.CO – Pedukuhan Jalawastu, desa Ciseureuh Kecamatan Ketanggungan Brebes Jateng, diusulkan menjadi Dukuh Budaya. Pasalnya, di pedukuhan tersebut, telah terpelihara ratusan tahun lamanya memegang teguh upacara adat budaya Ngasa yang digelar setiap Selasa Kliwon mangsa kasanga setiap tahunnya.

Sebagaimana terlihat pada Selasa 25 Februari 2014, sejak pukul 05.00 wib, bada’ subuh, puluhan ibu-ibu menggendong cepon dengan tangan kanannya menjinjing rantang seng, menyusuri bebukitan gunung kumbang Brebes. Mereka bergegas menuju Dukuh Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes dimana akan digelar upacara adat Ngasa.

Dengan wajah berseri, mereka melewati Jembatan Zubaedah bergegas menuju Pesarean Gedong. Sesampainya di sana, beberapa lelaki menggelar tikar. Dan ibu-ibu itupun menaruh makanan di atas tikar secara berjajar.

Lelaki tua yang disebut juru kunci Pesarean Gedong Makmur, beserta tetua lainnya dengan berpakaian putih-putih menyusul dibelakang rombongan ibu-ibu pembawa makanan.

Menurut penuturan Pemangku adat setempat Dastam menjelaskan, masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan. Yang tersedia adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai makanan pokoknya dengan lauk lalapan dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal dan dedaunan lainnya..

Begitupun dengan piring dan sendok yang digunakan tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan.

Upacara adat Ngasa ini telah dilaksanankan oleh warga secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Upacara ini sebagai simbol tanda terimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa atas segala nikmat yang telah dikaruniakan. “Seperti di daerah pantai ada sedekah laut, di tengah-tengah ada sedekah bumi. Kami yang disini boleh dikata sebagai sedekah gunung,” ujar Dastam.

Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon pada Mangsa Kesanga. Gelaran Ngasa ini diadakan dalam kurun satu tahun sekali. Kali pertama, Ngasta digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes IX Raden Arya Candra Negara.

Ngasta berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Batara sendiri mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa. “Semua itu, sebagai kebaktian kepada Batara,” imbuh Dastam.

Namun seiring perkembangan jaman dan masuknya agama Islam di wilayah itu, warga memasukan ajaran-ajaran Islam dalam upacara ngasta. “Hingga sekarang, masih ada 102 rumah dari 111 kepala keluarga yang dahulu masih bertahan,” kata Dastam.

Dari pantauan penulis, kini telah berdiri dua buah mushola berukuran lebih kurang 4 X 6 meter persegi. Tidak terlihat ada pengeras suara, mushola tersebut terbuat dari lempengan kayu namun terlihat kokoh.

Yang unik di Dukuh Jalawastu, seluruh rumah yang dibangun semua berdinding kayu dan beratap seng. Rumahnya tidak boleh menggunakan atap genting dan tidak bersemen atau keramik. Selain itu berpantang menanam bawang merah meski Brebes merupakan komoditas utama penghasil bawang merah. Juga tidak boleh menanam kedelai serta memelihara kerbau, domba dan angsa.

“Bila yang melanggar maka ada bencana yang menimpa pula,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, atas nama Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, Kepala Bagian Humas dan Protokol Drs Atmo Tan Sidik menjelaskan, Jalawastu merupakan daerah cagar budaya yang harus dilestarikan.

Pemerintah perlu segera menerbitkan peraturan daerah (perda) tentang cagar budaya. Sehingga segala aktivitas masyarakat dalam melakukan kegiatan tersebut terlindungi dan mendapat pengangguran APBD.

“Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya sudah ada, tinggal membreakdown saja dalam perda,” ujar Atmo yang juga budayawan pantura itu.

Dengan adanya perda, lanjut Atmo, Jalawastu bisa menjadi Dukuh Budaya yang mampu mengangkat nilai kebudayaan di tingkat nasional maupun internasional. (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi