BrebesNews.Co 13 February 2014 Read More →

Penilaian Test Seleksi K2 Dinilai Tidak Transparan dan Tidak Berkeadilan

trisno

* Sutrisno

BREBESNEWS.CO – Pengumuman Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kategori 2 atau K2, ternyata menyisakan kekesalan bagi yang tidak lolos. Pasalnya, selain pengumuman seleksi yang ditunda beberapa kali, hingga berakibat memunculkan dugaan adanya kecurangan-kecurangan.

Ungkapkan kekesalan setidaknya diungkapkan salah seorang peserta CPNS K2, berasal dari tenaga medis kesehatan Brebes, Sutrisno. Sutrisno menyesalkan panitia seleksi yang selalu mengundurkan pengumumannya. Dengan, dimundurkannya beberapa kali, sepertinya ada dugaan celah yang bisa dimainkan oleh para peserta CPNS K2 yang mempunyai akses pada pusat kekuasaan untuk bisa bermain secara tidak fair.

Selain kemuduran pengumuman, tidak disertakan aturan Passing Grade, atau ambang batas nilai kelulusan juga disesali. Pasalnya, dalam PP 56 tahun 2012 tentang perubahan ke PP 48 tahun 2005, tidak menyebutkan passing grade.

“Dengan adanya aturan PP inilah panitia seleksi nasional (Panselnas) dianggap tidak transparan, karena tidak menunjukan ambang batas nilai untuk target peserta yang bisa lulus dari test CPNS K2, maka nomor serta nama peserta bisa saja diloloskan tanpa melihat nilainya,” ujar Sutrisno, kepada BREBESNEWS.CO Kamis (13/2).

Trisno (biasa dipanggil-red) menuturkan, kalau merujuk pada aturan ambang batas, dirinya berkeyakinan, bahwa hanya berapa saja yang lulus seleksi K2 kemarin. Seharusnya pemerintah pusat lebih menitikberatkan pada prioritas pengabdian sebagai tenaga honorer, tidak memaksakan dengan test seleksi.

“Pemerintah hanya memaksakan diri lewat test seleksi K2. Harusnya pemerintah memprioritaskan honorer K2 yang pengabdiannya sudah lama. Namun karena dengan aturan test K2, justru yang lolos yang masih muda, dan pengabdiannya hanya hitungan tahun, bukan puluhan tahun. Disinilah keadilan pemerintah dirasa kurang,” keluh Trisno lagi.

Trisno ber-asumsi kalau para peserta test CPNS K2 sudah berusia tua, apa mungkin bisa mengerjakan soal test. Sementara ada rekannya, yang karena kondisi mata-nya sudah tidak sehat, hanya hadir dan mengisi formulir kedatangan test.

“Untuk baiknya, pemerintah daerah harus mempertimbangkan para honorer K2, yang tidak lolos ini dulu, daripada membuka lowongan CPNS yang baru,” harap Trisno.

Sementara itu kekesalan serta kekecewaan juga diungkpakan guru honorer Amin Fauzi, yang juga ikut serta test K2 dan tidak lolos. Menurut Amin, yang sudah mengabdi menjadi guru di salah satu SMAN di Banjarharjo sejak tahun 1997 atau 17 tahun, dirinya sudah tidak tahu harus berbuat apa.

“Saya hanya bisa pasrah,” katanya saat ditelepon via handphone-nya.

Seperti diinformasikan, dari 2780 peserta seleksi k2 di kabupaten Brebes, hanya ada 1013 orang yang dinyatakan lulus test dan berhak diangkat menjadi PNS. Berarti ada sekitar 1670 honorer K2 yang dinyatakan tidak lolos.

Berdasar informasi, para peserta test seleksi K2 yang tidak lolos, akan adakan demo ke Jakarta minta kejelasan soal dugaan ketidaktransparan serta ketidakadilan dalam melaksanakan test CPNS K2.(AFIF.A)