BrebesNews.Co 6 April 2014 Read More →

Menebar Virus Baca di Brebes

10154138_10200844562874666_637902244_n  Oleh : Burhanis Shulton I.P

Bacalah atas nama Tuhanmu…(Surat Iqra)

Terkadang membaca buku menjadi sesuatu yang sangat membosankan. Terbukti kini minat baca masyarakat lambat tahun semakin berkurang. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya pengunjung Perpustakaan dan bahkan rendahnya penyediaan bahan pustaka khususnya di Kabupaten Brebes baik yang secara gratis atau yang dijual belikan.

Mungkin sangat jarang kita menemui toko buku khusunya didaerah kabupaten Brebes, belum lagi jarak Perpustakaan Daerah (Perpusda) kabupaten Brebes yang cukup menyulitkan masyarakat pengunjung yang letaknya di daerah pedesaan.  Namun kendala jauhnya Perpusda, sebenarnya bukan menjadi faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat khusunya Kabupaten Brebes.

Faktor utama dalam mecanangkan masyarakat yang gemar akan membaca adalah kurangnya rangsangan atau motivasi kepada masyarakat akan pentingnya membaca terutama bahan pustaka materil atau buku.

Motivasi membaca orang tua kepada anak terkadang kurang, semisal orang tua lebih suka membelikan baarang konsumtif berupa alat elektronik seperti HP maupun yang lebih punya gengsi sepeda motor. Atau orang tua lebih suka membawa anaknya ke tempat wisata atau ke mal (supermarket) dibandingkan berkunjung disebuah toko buku.

Disisi lain, guru disekolah juga kadang dalam member tugas sekolah kurang mengena untuk memotivasi membaca pada murid atau siswa. Guru lebih suka mendorong siswa untuk mengetahui suatu tugas dengan suatu hal yang berhubungan dengan internet, sehingga siswa lebih suka berkunjung ke warnet dari pada ke perpustakaan.

Pemerintah Daerah juga dirasa belum memberi motivasi masyarakat-nya untuk bisa gemar membaca. Pasalnya dalam memberikan himbauan layanan masyarakat Pemerintah Daerah lebih suka pasang Baliho daripada membuat panduan buku atau dikemas seperti media cetak sederhana, agar masyarakat bisa termotivasi untuk membaca.

Virus Membaca

Sebuah gerakan membaca ini sangat penting untuk menumbuhkan masyarakat yang kritis namun tetap positif. Gerakan membaca ini dapat juga di lakukan oleh orang tua, yang bisa menyempatkan waktunya kepada anak, untuk bisa mencintai buku, daripada membeli yang bersifat konsumtif dan tidak bermanfaat untuk menunjang kecerdasan sang anak.

Melalui sekolah-sekolah yang terdapat dikabupaten brebes melalui para Guru untuk selalu mendorong para muridnya terus dan selalu membaca buku ( bukan menghafal ). Taruhlah dalam pelajaran Bahasa Indonesia, seorang murid biasanya hanya di suruh menghafal judul buku dari karya sastra, dari pada di suruh membaca buku secara keseluruhan. Dengan tugas membaca buku cerita atau karya sastra secara keseluruhan, penulis yakin akan memberikan kebiasaan siswa untuk terus membaca. Bukankah hal biasa (dalam hal ini membaca) akan menjadi terbiasa, sehingga membaca menjadi suatu yang tidak menjadi beban dalam belajar (?).

 

Selanjutnya peran Pemerintah Daerah juga menjadi salah satu pemeran penting untuk gerakan membaca ini dengan mewajibkan adanya perpustakaan disetiap perkantoran khusunya di kabupaten Brebes. Bahkan bila perlu mewajibkan jam kunjung pegawai agar dapat mengunjungi perpustaakan yang disediakan disetiap SKPD, Kantor Kecamatan, Kantor Kelurahan/Desa. Sebab seperti yang diteorikan Mc Gregor, seorang pakar Psykologi Industri. “Untuk menggerakan massa atau (seseorang) perlu dilakukan dengan paksaan ataupun dengan kesadaran. Disinilah pentingnya sedikit pemaksaan kepada PNS dilingkungan Pemerintah Daerah, agar dalam bekerja lebih punya visi karena efek pengetahuan yang di dapat dari membaca.

Sekali lagi, kita juga memiliki beberapa TBM ( Taman Baca Masyarakat ) yang tersebar di pedesaan di kabupaten Brebes.Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi TBM yang berada di kabupaten Brebes sangat kurang dari yang diharapkan untuk melancarkan aksi gemar membaca ini. Dari mulai tempat yang kurang memadai, koleksi bahan pustaka (buku) yang kurang mencukupi dan juga kurangnya perhatian dari Pemerintahaan Daerah, untuk bisa memberikan semangat warganya untuk senantiasa berkunjung ke TBM yang ada di desa-desa.

Mari kita sama-sama menebar virus membaca, karena dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia.(*)

(Penulis : Burhanis Shulton I.P, Mahasiswa Ilmu Perpustakaan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan aktif di KPMDB wilayah Yogyakarta)

Posted in: Opini