BrebesNews.Co 5 August 2014 Read More →

Rujak Bu Atun ; Kisah Sukses Pedagang Rujak dari Jeratan Rentenir

bbbb

Atun sedang melayani rujak untuk para pelangganya

BREBESNEWS.CO – Atun (41 tahun), seorang ibu rumah tangga dari suami yang bernama Abdul Kafi (42 tahun) pedagang becak memiliki setumpuk masalah ekonomi dengan tinggal di sebuah rumah sederhana di Saditan-Brebes.

Sejak tahun 1995 Atun memulai merintis usahanya yaitu berjualan rujak (rujak pecel, rujak lontong, rujak uleg, karedok, dan juga aneka gorengan yaitu tempe, bakwan, gembus). Usahanya sudah 19 tahun ditekuni, sekarang sudah mulai ramai dikunjungi oleh para pelanggan setianya.

Berawal dari harga rujak Rp.500,- sekarang sudah Rp.5.000,- usaha ini Atun tekuni dari tahun ke tahun. Awal pertama berjualan lokasi usaha berada di depan perumahan Graha Citra Dedy Jaya kampung Saditan, dan sekarang pindah di halaman Praktek dr.Rasipin, M.Kes-Saditan tidak jauh dti usaha lamanya, Jualan dibuka mulai jam 09.30-15.00 tanpa hari libur.

Menurut Atun modal awal usahanya berasal dari modal sendiri, kemudian pinjam ke rentenir selama 3 tahun. Namun sejak tahun 2014 Atun pinjam dana ke koperasi serba usaha ( KSU ) Windu Kencana yang beralamat di jalan veteran no. 10 Brebes lewat program Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera).

“Pinjam Ke rentenir karena memang tidak bisa pinjam dana dari pinjaman bank, maklum usahanya terbilang mikro dan suami bekerja sebagai tukang becak, tidak percaya diri dan tidak mempunyai agunan, sehinga memilih pinjam pihak ke tiga yaitu rentenir dari Majalengka, Cirebon dan kadang dari Pemalang,” ujar Atun kepada BREBESNEWS.CO Selasa (5/8/2014).

Atun juga mengungkapkan sejak tahun 2011-2013 saya pinjam di rentenir dengan pola harian, dari pinjaman sebesar Rp 100 ribu, atun dipotong Rp 10 ribu untuk biaya administrasi/tabungan. Ia harus mengangsur sebesar Rp 13 ribu setiap minggu untuk jangka waktu pelunasan selama 10 minggu.

“Selama meminjam saya harus menyisihkan angsuran kepada rentenir tiap minggu, namun pada tahun 2014 bulan februari saya beralih pinjam di KSU Windu Kencana melalui program Tabur Puja Posdaya. Saya dapat pinjaman Rp. 2.000.000 dengan jasa 18% mengembalikan Rp. 2.424.000,- setahun, keuntungan ikut anggota di tabur puja, modal yang diberikan tanpa jaminan dan saya merasa tidak berat dalam mengangsur,” tambah Atun.

Atun mengaku program tabur puja lewat posdaya ini sangat membantu sekali, apalagi sekarang saya termasuk keluarga pra sejahtera dan di tunjuk jadi sub ketua posdaya yang membawahi 24 anggota.

“Dengan pola tanggung renteng, dan di cicil setiap bulan saya sekarang usahanya bisa ada keuntungan yang lebih dan pelanggan setia pun sekarang pun semakin meningkat,” ungkap Atun.

Ibu Rini Puji Astuti, selaku Pengurus Koperasi Windu Kencana mengungkapkan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera ( Tabur Puja ) di inisiasi dari koperasi serba usaha ( KSU ) Windu Kencana yang beralamat di jalan veteran no. 10 Brebes.

“Ini merupakan skema pembiayaan alternatif yang di kembangkan dari pinjaman YDSM ( Yayasan Dana Sejahtera Mandiri) dimana tujuan Tabur Puja membina dan mengembangkan sistem pembiayaan bagi pengusaha mikro melalui pendekatan posdaya (pos pemberdayaan keluarga),” jelas Rini saat ditemui dikantornya.

Tabur Puja juga memperkuat kelembagaan posdaya dalam upaya pembinaan serta pengembangan basis kelompok usaha mikro dengan pola tanggung renteng, yang menarik di Tabur Puja ini adalah fokus di kelompok yang memiliki usaha mikro, pola tanggung renteng, platfond maksimal 2 juta per anggota, tanpa jaminan tapi layak saat di survai, jasa yang di tawarkan juga relatif rendah maksimal 18% per tahun.

Dana ini ini harus kembali selama 1 tahun dan pihak pengelola tabur puja harus mempertanggungjawabkan kepada YDSM yang beralamat di Jakarta.

“Sementara ini Prioritas wilayah tabur puja berada di 3 Kecamatan yaitu Brebes, Wanasari dan Jatibarang, di luar 3 kecamatan ini belum ada dukungan platfond. Sampai dengan hari ini yang sudah di gulirkan 12 posdaya dari 3 kecamatan dari target 15 posdaya dengan nilai 1,3 milyar padahal dana yang ada sebanyak 3 milyar,“ jelas Rini mengakhiri pembicaraanya. (HENDRIK)