By 30 September 2014

Kepala Bappeda Brebes : Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Perlu Kerjasama Lintas Sektoral

aaa

Ir. Djoko Gunawan MT

BREBESNEWS.CO (Jakarta) -Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam rangka pertemuan koordinasi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan) mengundang Bappeda Brebes, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Pengurus Pusat Aisyiyah, Keuskupan Maumere (NTT) di hotel Park Lane Jakarta, Selasa, (30/9/2014). Mereka sengaja dihadirkan dalam rangka memaparkan pengalaman melakukan intervensi (leasson learned) advokasi dan sosialisasi dalam upaya perbaikan gizi di daerah.

Pertemuan Nasional ini di buka oleh Dr. Hadiat, MA selaku Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas, dan dihadiri oleh seluruh anggota pokja advokasi dan Sosialisasi Gerakan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).

Doktor Hadiat menyatakan, saya mengapresiasi kepada Pemkab Brebes, LKNU, Aisyiyah, Keuskupan Meumere yang telah hadir dan mau untuk sharing pengalamannya dalam melakukan advokasi di daerahnya, baik lewat orientasi jurnalistik, pelatihan untuk para kyai di Brebes, maupun dukungan keuskupan maumere dalam mencegah stunting di daerahnya.

“Pertemuan ini akan kami jadikan bahan bagi tim pokja advokasi untuk merancang agar Kabupaten/kota di Indonesia bisa meniru apa yang sudah dilakukan Brebes dan Sikka,” kata Doktor Hadiat

Ir.Djoko Gunawan MT, Selaku Kepala Bappeda Brebes menyampaikan permasalahan di Kabupaten Brebes yang juga sangat kompleks, baik pada persoalan kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi.

“Bagi kami perlu ada dukungan dari Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten dan lintas sektoral, lintas agama serta dukungan dari jurnalis dalam rangka ikut membantu perubahan perilaku, ini menjadi hal yang penting untuk percepatan perbaikan gizi 1000HPK, pengalaman jurnalis yang sudah di lakukan di Brebes selama 2 tahun mudah-mudahan bisa dijadikan leasson learned bagi kepentingan Pokja Advokasi dan Sosialisasi tingkat Nasional dalam persoalan Perbaikan Gizi,” ujar Joko Gunawan

Hal lain juga di sampaikan Sekretaris LKNU Anggia Ermarini, dari Jumlah Penduduk 1,7 juta, ada sekitar 70% penduduknya mayoritas NU, artinya penerima manfaat program kemiskinan di Brebes adalah warga NU.

“Ini artinya keterlibatan ulama NU untuk berperan melakukan perubahan perilaku bagi warganya menjadi penting, begitu pula peran organisasi NU dari pusat sampai ke anak ranting pun harus dijadikan kekuatan dalam penggerakan masyarakat, dari pihak PP LKNU akan memastikan para ustad dan ustadzah yang dilatih mampu dan mau mensosialisasikan gerakan percepatan perbaikan gizi terutama informasi pentingnya 1000HPK, ASI Ekslusif dan stunting di Brebes,” terang Anggia Ermarini menegaskan.

Anggia menambahkan, sekarang LKNU sudah mempunyai buku panduan kesehatan tentang pencegahan stunting dari sudut Agama, ini untuk memudahkan para kyai NU dalam mensosialisasikan informasi dengan baik dan benar.

Sementara itu, Entos Zainal dari Bappenas juga menandaskan ” masalah gizi khususnya anak pendek, ini berdampak negatif dalam kelangsungan hidupnya, anak pendek mempengaruhi jauh lebih banyak anak miskin, dan kemungkinan besar rentan terhadap penyakit tidak menular, anak pendek sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan yang menurun dan pendapatan yang rendah ketika sudah dewasa.

“intervensi dalam menurunkan anak pendek harus dimulai secara tepat sebelum kelahiran, dengan pelayanan pranatal dan gizi ibu, dan berlanjut hingga usia dua tahun,” tandas Entos Zainal.

Bappenas berharap dukungan penuh stakholders di daerah untuk bersama-sama membantu memberikan sosialiasi pemanfaatan ASI Ekslusif pada bayi 0-6 bulan, lebih 6 bulan sampai dua tahun tetap diberi ASI dan Makanan Pendamping ASI, bagi rumah tangga untuk selalu mengkonsumsi garam yodium, datang di posyandu dan periksa K1-K4 saat ibu sedang hamil, perilaku kebersihan yang baik pada keluarga terutama CTPS dan PHBS. (AFiF.A)

Posted in: Serba Serbi