BrebesNews.Co 5 October 2014 Read More →

Atmo Dinobatkan Sebagai Maestro Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya

sang Maestro3

Tampak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohamad Nuh menyematkan Pin Emas kepada Atmo Tan Sidik yang dinobatkan sebagai Maestro pengembang dan pelestari kebudayaan

BREBESNEWS.CO (Jakarta) -Jumat malam, 3 Oktober 2014, mantan Kepala Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba Brebes Drs Atmo Tan Sidik (ATS) dinobatkan sebagai Maestro Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Mendiknas) RI Prof Dr Ir H Muhammad Nur DEA.

Penobatan ditandai dengan penyematan Pin Emas oleh Mendiknas di Gedung Pusat Perfilman Nasional Jl Rasuna Said Kav C 22 Jakarta Selatan.

Tampak senyumnya tersungging ketika seluruh hadirin bertepuk tangan dengan gemuruh di gedung Film yang berkapasitas 1000 orang itu. Dengan langkah pasti dia naik kepanggung dan berdiri berjejer dengan 49 orang lainnya se Indonesia yang mendapat penghargaan dengan berbagai kategori.

“Ini karunia Allah SWT dan bantuan tangan-tangan teman,” tutur Atmo yang didampingi istri tercintanya Rini Anggraeni usai menerima penghargaan.

Selain Pin Emas, Piagam penghargaan, Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Brebes ini juga diganjar dengan hadiah uang pembinaan sebesar Rp 50 juta.

Adalah Fakta, bukan ATS kalau tidak kental dengan spiritualisme, seperti namanya yang menggambarkan kerukunan perpaduan antara Jawa Cina dan Arab. Terlihat dalam sikap, tindakan dan perbuatannya. Contoh kecil ketika melerai pertikaian keluarga, dengan spiritualismenya Atmo menggunakan keampuhan sebuah kalimat ‘”poro sedulur tega patine ora tega larane, tega larane ora tega patine’. Hal ini ternyata berdampak pada pertikaian itu mampu diselesaikan, ATS yakin dulunya kalimat itu diproses dengan spiritual sehingga kalimat tersebut bergizi.

Dalam skenario kehidupannya, dia menjadi Kepala Desa di kampungnya pada 1989, Desa Pakijangan Kecamatan Bulakamba. Padahal dulu cita-citanya ingin menjadi dosen atau penulis. Perjalanan hidupnya berubah setelah ayahnya meninggal pada 1987. Sebagai keluarga petani dan petambak mengalami dilematis, antara memenuhi panggilan kerja oleh lektor Hadi Kusumo dimana dulu kuliah atau hidup di desa.

“Saya memutuskan menjadi lurah, untuk mengubah imej kalau seorang Sarjana sah-sah saja menjadi lurah sekaligus sebagai wujud bakti kepada orang tua,” tuturnya.

Sebagai budayawan pantura, seorang pelestari dan pengembang warisan budaya melalui kekuatan local. Bahasa Brebesan-Tegalan. Dia menyakini kekuatan bahasa local sudah termuat dalam Kitab Suci Al Quran Surat Ibrahim 24.

“bahwa tidaklah kamu perhatikan bagaimana Tuhan menciptakan perumpamaan kalimat indah itu, ibarat pohon yang akarnya mengguncang,”. Secara umum, berarti berbasis bahasa lokal akan rindang daunnya atas seijin Tuhan dan itu dimanfaatkan.

Atmo aktif menulis diberbagai media masa untuk menunjukan eksistensi dirinya terutama dengan menggunakan bahasa Brebes dan Tegal. Termasuk menulis buku dengan bahasa Brebesan Dikendangi Wong Edan Aja Njoget mendapat apresiasi dari Mendagri, Gubernur Jateng, majalah gatra dan lain-lain. Buku tersebut bertutur agar didalam proses pemerintahan tumbuh budaya cek and ricek.

Atmo menginginkan agar generasi muda sekarang yang tidak paham bahasa local, belajarlah menyukai. Maka dia ingin segera ada kamus bahasa-bahasa lokal, himpunan-himpunan wangsalan dan kalimat-kalimat yang mengandung kearifan local. Atmopun menguatkan kebijakan UNESCO yang menetapkan tanggal 21 Februari sebagai hari Bahasa Ibu Internasional.

“Sebagai implementasi kedaerah, agar dibolehkan pada hari-hari tertentu pidatonya dengan menggunakan bahasa daerah,” tegasnya.

Rasa syukur Atmo atas diterimanya penghargaan dari Kemendiknas lagi-lagi menyatakan terima kasih juga kepada Komunitas Brebes Tegal. Sehabis mendapatkan penghargaan dirinya akan menggelar tumpengan di Balai Desa di mana dia dilahirkan, tempay dia mendapatkan ide-ide menulis untuk kembali ke akar sebagai Atmo Tan Sidik.

Atmo kini sejajar dengan Bondan Nusantara (seni ketoprak), Dimas Pramuka Atmaji (Tari Tradisional Jawa Timur), Heri Hendrayana Harris atau Gol A Gong (Sastra dan Komunitas), Merdeka Gedoan (Drama, Tari dan Musik), Murti Bunanta (Sastra Anak), Sorimangaraja Sitanggang (Seni Budaya Batak), Sutanto Mendut (Budaya Komunitas Gunung), Tengku Nasaruddin Said Efendi (Seni Budaya Melayu) dan Tuti Soenardi (Kuliner Tradisional Nusantara) yang kesemuanya mendapatkan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2014. (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi