BrebesNews.Co 6 October 2014 Read More →

Bila Difungsikan, Perawat Bisa Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

CAM00105_001

Edi Raharjo, S.Kep

BREBESNEWS.CO – Boleh dikata keberadaan perawat, sebagai organ tenaga medis boleh dikata perannya terpinggirkan (termarginalisasi) dari pada tenaga medis lainnya seperti dokter ataupun bidan. Padahal secara keilmuan, perawat juga diajarkan bagaimana melakukan penanganan pengobatan bagi pasien yang sedang sakit ataupun keluhan kesehatan lainnya.

“Saat ini asosiasi masyarakat, perawat adalah sebagai asisten dokter dalam melakukan pengobatan. Padahal kami (perawat) juga dibekali ilmu bagaimanan melakukan penanganan pada pasien yang sakit,” ujar Edi Raharjo S.Kep, Sekertaris Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) cabang Brebes kepada BREBESNEWS.CO Senin (6/10/2014).

Menurutnya, keadaan ini diperparah tidak adanya undang-undang sebagai payung hukum yang membuat ruang gerak perawat agar bisa menjalankan fungsinya sebagai tenaga medis.

“Contoh yang nyata adalah di Puskesmas. Di bagian Keluarga Berencana dan Kesahatan Ibu Anak, tenaga medis yang difungsikan hanya bidan. Padahal di ilmu keperawatan juga diajarkan ilmu maternitas, yakni pengetahuan tentang ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu menyusui,” terang Edi.

Lebihjauh Edi mempertanyakan, di desa sekarang ada tenaga bidan desa, tapi apakah kerja bidan desa semuanya baik ? Masalahnya belum tentu saat warga desa yang mau melahirkan bidan desanya standby.

“Untuk kasus melahirkan biasanya harus mendapat penanganan yang cepat. Kalau tiba-tiba ada seorang ibu yang mendadak mau melahirkan, terus bidannya tidak ada, apa harus ditunda untuk melahirkan?” tanya Edi yang saat ini berkantor di RSUD Brebes.

Selama ini posisi perawat memang seperti buah simalakama. Mau bertindak dianggap menyalahi aturan medis karena tidak dipebolehkan praktek. Sementara keterbatasan dan keberadaan dokter juga lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan, tambahnya.

“Namun dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan nomor 148 tahun 2014 ini, sekarang perawat bisa menjalankan praktek keperawatannya. Untuk itu, peran perawat juga tidak boleh disangsikan lagi, karena sebelumnya profesi perawat sangat beresiko untuk dikriminalkan,” ujarnya.

Kedepan paling tidak dengan adanya Permenkes 148 dan UU Keperawatan yang baru saja disahkan, keberadaan perawat bisa lebih difungsikan lagi.

Berdasarkan data PPNI cabang Brebes, di Kabupaten Brebes terdaftar 650 perawat. Bila seluruh perawat dioptimalkan tugas, pokok dan fungsinya (Tupoksi) Edi meyakini akan bisa membantu program pemerintah dalam menangani serta menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang masih tinggi di Brebes.

“Disamping memberi pertolongan ibu melahirkan, perawat juga bisa menjadi tenaga penyuluhan atau sosialisi kesehatan ibu anak,” jelas Edi mengakhiri pembicaraanya. (AFiF.A)

Posted in: Serba Serbi