BrebesNews.Co 2 November 2014 Read More →

Triyanto Triwikromo : Pers Harus Jadi Daulat Rakyat, Bukan Daulat ‘Ratu’

forsihum1

Forum Silaturokhmi Kehumasan Kabupaten dengan pimpinan redaksi media koran cetak serta media online se-Jawa Tengah.

BREBESNEWS.CO -Redaktur Pelaksana Harian ‘Suara Merdeka’ Triyanto Triwikromo betapa tingginya nilai suatu berita kalau berpihak kepada rakyat, bukan kepada ratu (penguasa). Dalam artian media masa menjadi ruang rapat umum bagi publik. Sangat disayangkan kalau media kemudian menjadi milik daulat ratu (penguasa) bukan daulat rakyat.

Demikian disampaikan Triyanto dalam Forum Silaturahmi Kehumasan yang digelar Pemerintah Kabupaten Brebes. Acara Forum silaturohmi Kehumasan dihadiri pimpinan redaksi (Pimred) dari berbagai media massa, baik cetak maupun media online Se Jawa Tengah dengan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Kabupaten Brebes di Hotel Plaza Tegal, Jumat malam (31/10/2014).

Forum Silaturokhmi Kehumasan juga mengahdirkan pembicara dari wartawan harian nasional Kompas Siwi Nurbiajanti dan redaktur Koran harian lokal Radar Tegal Zuhlifar Arisandi, dengan dimoderatori Dr.Maufur MPd, mantan wakil walikota Tegal.

Lebih jauh redaktur yang juga cerpenis itu melihat, masyarakat sering dibisukan akibat suara-suara rakyat dengungnya masih terlalu lemah. Terbukti, 60 persen Koran kita menggunakan bahasa birokrasi.

“Rakyat dibisukan dalam berbagai pengoperasian wacana,” tuturnya.

Menurutnya, karena media berfungsi sebagai mediator maka harusnya menjadi mitra. Termasuk Pemkab bisa menggunakan media sebagai mitra bukan alat penguasa. Media manjadi ruang meditative, reflektif tanpa harus kehilangan peran vitalnya sebagai penyambung lidah keadilan.

Sementara Wartawan Kompas wilayah eks. Karsidenan Pekalongan Siwi Nurbiajanti menuturkan aparatur pemerintah dan wartawan harus saling menghargai dan positif thinking. Hubungan yang baik antara pemkab dan wartawan bisa terbentuk oleh sistem kehumasan yang baik pula. Siwi menilai sistem kehumasan di Brebes sudah baik. Terbukti dengan kemudahan informasi yang dia gali.

Selaku pejabat pemerintah, Siwi menyarankan agar tidak perlu takut terhadap ancaman oknum pers. Justru yang melakukan ancaman-ancaman sebenarnya oknum-oknum yang tidak memiliki media alias abal-abal.

“Kan sudah terlihat jelas media-media apa saja yang biasa meliput di Pemkab, kalau oknum tersebut baru kelihatan dan berbuat macam-macam suruh kenalan dulu dengan teman-teman media liputan Pemkab,” terangnya.

Zuhlifar Arisandi Redaktur Radar Tegal wanti-wanti agar Pemkab jangan anarki sama media karena akan berakit fatal. Pasalnya, berbagai program pemerintah tidak akan tersalurkan ke rakyat. Pemerintah tidak bisa mengandalkan diri dengan kekuatan aparaturnya semata-mata untuk mensosialisasikan program kerjanya kepada rakyat.

Kasus Walikota Tegal misalnya, yang tidak bersahabat dengan media menjadi preseden buruk bagi kelangsungan hidup pemerintahan kota tegal itu sendiri. Jangan sampai sikap Wali Kota Tegal yang akas terhadap media ditiru Bupati Brebes,

“Cukuplah menjadi pelajaran bagi kita, tentang kekeliruan tersebut dan mudah-mudahan cepat teratasi,” tutur Zul.

Dalam diskusi gayeng yang dipandu Mantan Wakil Wali Kota Tegal dan Mantan Rektor UPS Tegal DR Maufur berbagai pertanyaan muncul. Diantaranya Dandim 0713/Brebes Cahyadi Imam Suhada menyatakan kalau dirinya tidak alergi kritik. Termasuk dari kalangan pers. Kritik menjadi kaca benggala baginya, untuk itu dia menyarankan agar jangan takut dikritik. Kalaupun ada persoalan bisa diselesaikan dengan baik.

Kapolres Brebes AKBP Ferdy Sambo juga sangat menghargai kinerja pers. Sehingga disetiap awal tugas, yang pertama dia lakukan adalah ber silaturahim dengan wartawan. “Sepanjang tugas saya selama 532 hari, saya selalu bersinggungan dengan wartawan,” terangnya.

Hal tersebut juga diakui Ketua Pengadilan Negeri Brebes Slamet Suripto bahwa Wartawan itu kawan. Kalaupun harus berurusan, paling-paling yang hanya mau bikin masalah saja. Pengalaman dirinya saat menjadi humas pengadilan di Slawi, dia berkawan baik dengan seluruh wartawan.

Aris Hada selaku Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Masjaka mengaku sangat butuh wartawan. Apalagi kerja dia untuk menyuarakan rakyat. Maka tanpa wartawan dirinya tidak berarti apa-apa.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE membacakan puisi Brebesan Sing Teliti Maca Koran. Namun karena ada Sang Maestro Budaya Atmo Tan Sidik maka pembacaannya didaulatkan ke Atmo. “Sebenarnya semalaman saya sudah menghafal puisi ini, tapi karena ada sang maestro maka yang membaca Pak Atmo saja sekalian honornya saya kasihkan,” seloroh Idza.

Idza berharap, kemitraan Pemkab Brebes dengan Media bisa terus terjalin agar nilai-nilai pembangunan baik fisik maupun mental bisa tersiarkan. “Peran media bagi Pemkab Brebes di rasa sangat penting untuk itu dirinya terus menjalin silaturahim,” jelas Idza (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi