BrebesNews.Co 23 December 2014 Read More →

Kapitalisme Dalam Sanubari kehidupan, Sadarkah ?

pendaftaran dimas

Oleh : Dimas Purbo Pambudi
NIM : 14010113140091
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Undip 2013
(Asal Tanjung Brebes)

Adaptasi dari Teori Politik The Theory of One Dimensional Man (Herbert Marcuse)

Berpolitik tapi tak mengenal teori, lalu apakah yang menjadi “petunjuk”?

Herbert Marcuse memperkenalkan konsep teori yang intinya “manusia berdimensi tunggal”. Marcuse adalah salah seorang pioneer sosialis kiri, aktivis politik Yahudi yang ikut berkontribusi menguatkan dasar pikiran Marx.

Marcuse mengemukakan pendapatnya tentang kapitalisme yang telah membentuk sikap sosial secara perlahan mulai dapat dirasakan kebenarannya. Diantara buku-bukunya, One-Dimensional Man lah merupakan karyanya yang paling termahsyur dan dikenal banyak orang. Dalam buku tersebut memuat pokok-pokok kritiknya terhadap masyarakat industri modern.

Bagi Marcuse, masyarakat industry modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Hal ini dikarenakan masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang berdimensi tunggal. Selanjutnya, Marcuse memaparkan “dimensi yang tunggal” ini adalah arah tujuan dari masyarakat hanya bertumpu pada satu poros saja, yakni keberlangsungan dan peningkatan sistem kapitalisme.

Kapitalisme atau kapital adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar.

Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi (Wikipedia). Masyarakat yang tersebut pun menurut Marcuse bersifat represif dan totaliter.

Dalam kehidupan di masa sekarang banyak tanda-tanda kapitalisme yang dapat kita rasakan baik disadari ataupun tidak disadari. Lalu bagaimanakah kapitalisme mendominasi masyarakat khusususnya di negara kita Indonesia? Beberapa diantaranya :
1. The Creation of New Totalitarian
2. Freedom (kebebasan)
3. False Needs (kebutuhan palsu)
4. Role of the Media
5. Manipulated Political Freedom

Melalui tulisan ini bermaksud mengemukakan apa yang terjadi sekarang di Indonesia berkorelasi dengan teori tersebut. Bangsa Indonesia tak akan terlepas dari kisahnya sejak ada, dijajah, berjuang dan merdeka sampai sekarang. Maksud dari the creation of new totalitarian mengupas perjalanan dan sejarah khususnya di Indonesia. Sejak zaman kerajaan Indonesia mempunyai sejarah panjang mulai dari siapa yang berkuasa, siapa yang dijatuhkan siapa dan musnahnya semua kekuasaan dalam kerajaan di nusantara.

Kekuasaan totaliter zaman kerajaan sangat jelas, siapapun yang berkuasa mempunyai hak mutlak untuk melakukan apa yang dia inginkan. Kekuasaan di zaman kerajaan memang banyak diperoleh melalui ascribed status atau berdasarkan keturunan.

Di zaman modern sekarang kekuasaan lebih banyak didapatkan dengan achieved status atau dengan kata lain apa yang dia dapatkan adalah hasil dari apa yang dia lakukan. Zaman modern telah datang dan banyak perubahan melalu tatanan system ekonomi, budaya, dan percaturan politik politik. Dalam perkembangannya, di masa modern kekuasaan bukan ada pada raja melainkan pada kaum kapitalis yang totaliter.

Totaliter yang dimaksud disini tak terbatas pada pengaturan politik masyarakat yang hanya bersifat teoristik, melainkan juga pengaturan non-teoristik atas ekonomi dan kemudian memunculkan manipulasi kebutuhan-kebutuhan oleh mereka yang berkuasa. Manipulasi akan kebutuhan akan mengarahkan masyarakat kepada sebuah stagnasi dan menghalangi timbulnya oposisi yang bertujuan mengadakan perubahan secara menyeluruh dan mendalam.

Orang atau kaum yang berpaham kapitalis ini mencoba merubah pola pikir dan mendominasi kehidupan masyarakat dengan cara sedemikian rupa. Caranya membuat kita menjadi “konsumen” secara sukarela atas produk yang mereka tawarkan, bisa berupa produk nyata (barang) atau bahkan hanya berupa ideology.

Dengan skema :

1. Capitalis-> The State-> Corporatists-> State Violence-> Central Banking-> The Individual.

Dari skema diatas jelas terlihat bahwa kapitalisme mencoba mengembangbiakan “embrio” nya melalui sebuah negara, perusahaan, bank sentral, dengan tujuan akhir adalah individu. Dengan menciptakan sebuah system kehidupan baru yang mereka inginkan.

Mereka membuat sebuah lingkaran yang akan memaksa kita agar terus ada didalamnya.

Usaha mereka untuk “menitipkan” apa yang mereka inginkan akan terpenuhi melalui mekanisme kebijakan dalam suatu negara.

Mereka menguasai sector-sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak, terus mencoba membangun paradigma pemikiran bahwa apa yang mereka ajarkan adalah wajib hukumnya untuk diterima. Sikap kritis manusia tereliminasi dengan apa yang terjadi, mereka lebih terbawa arus kehidupan yang diciptakan kaum kapitalis.

Contoh pioneer capitalist group adalah VOC berdiri tahun 1602, BEIC berdiri tahun 1600 di negara yang dianggap nenek moyang kapitalisme yaitu Inggris, FEIC berdiri tahun 1604.

Manusia di dunia ini menyukai kebebasan, kebebasan adalah satu kata yang indah seolah-olah setiap individu diagungkan karena hak yang mereka miliki. Tetapi seharusnya setiap individu menyadari bahwa hidup dalam sebuah tatanan sosial yang menuntut adanya penghormatan bagi hak individu lain.

Bagi orang-orang yang “polos” merasakan kebebasan adalah hal yang luar biasa, tapi sadarkah di balik kata bebas itu sengaja didesain oleh kaum kapitalis untuk melakukan dominasi terhadap suatu hal, terhadap suatu negara dan terhadap kehidupan masyarakat.

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah langkah awal untuk berdaulat dalam bernegara dan berpolitik, dasar hukum konstitusi kita mengatur apa yang harus kita lakukan. Rakyat Indonesia mempercayai kebebasan politik. Kebebasan politik diharapkan mampu mengantarkan kepada kehidupan yang lebih baik.

Aspirasi rakyat ingin didengar dan ditindaklanjuti, tapi percayakah anda bahwa kebebasan yang kita percayai adalah kebebasan yang semu? Iya semu, karena apa yang kita yakini telah tersalurkan tapi tetap saja dihancurkan oleh suatu system yang membuat ketidakteraturan, mental pemangku kekuasaan yang tidak sehat, kurang berintegritas. Hal ini yang menyebabkan perilaku korup dan kurang beretika ketika mereka menjalankan sebuah system pemerintahan. Ini jelas pengaruh dari paham kapitalis yang berusaha menguntungkan salah satu pihak saja, dan cenderung mengorbankan kehormatan mereka.

Politik mempunyai kebebasan tapi dapatkah kita melihat dengan jeli siapakah yang berkehendak dibalik kebebasan tersebut? Siapakah yang bermain dalam menciptakan system untuk politik kita? Ya, kapitalis.

Jika sudah bebas dalam berpolitik apakah keadaan sekarang sudah mencerminkan apa yang kita kehendaki, pastinya belum karena bangsa kita masih mempunyai permasalahan yang kompleks, Indonesia berusaha menjadi bangsa yang berjatidiri. Dengan segala permasalahan di Indonesia diharapkan rakyat ikut andil dalam menyelesaikannya. Di zaman modern, dengan perkembangan dan kemajuan di bidang teknologi, seharusnya masyarakat lebih mempunyai sikap kritis dalam menghadapi sesuatu.

Kemajuan teknologi secara pesat menurut Marcuse merupakan sebuah era perbudakan baru dimana teknologi dan masyarakat industri merupakan ungkapan kepentingan pribadi yang dipaksakan kepada massa. Masyarakat industri modern masih merupakan masyarakat yang teralienasi, karena mengasingkan manusia-manusia yang menjadi warganya dari kemanusiaannya. Bahkan mereka tak menyadari bahwa sebenarnya diri mereka juga ikut teralienasi.

Struktur pasar yang ada saat ini, merupakan alat pemerasan dan penguasaan, karena motif mengejar keuntungan akan mendorong produsen menguasai konsumen, baik dengan memeras buruh (yang tidak lagi secara fisik) maupun dengan memanipulir kebutuhan (kebutuhan palsu). Kebutuhan palsu ini adalah kebutuhan yang dibebankan kepada individu oleh adanya kepentingan sosial khusus dalam represinya. Dengan demikian, kapitalisme telah  menghasilkan  suatu sistem suatu sistem “perbudakan  sukarela”.

Kehidupan masyarakat tidak bisa terlepas dari adanya media massa (cetak, elektronik, media sosial), peran media massa di era modern saat ini begitu kuat untuk mendoktrin suatu hal pada masyarakat, baik mengenai produk kebutuhan hidup, jasa, maupun ideologi. Media menggunakan cara yang bervariasi dalam me-mainsett pemikiran masyarakat tentang “produk” mereka. Bisa melalui tayangan berdurasi lama dan bahkan durasi yang hanya beberapa detik.

Apa yang mereka inginkan secara gamblang disampaikan ke ruang publik agar datang keinginan menjadi konsumen. Dengan menyampaikan berbagai keunggulan produknya mereka memasuki ruang publik dengan intensitas yang sangat sering. Ini menjadikan sifat kita mudah terpengaruh dan memberi keuntungan bagi mereka yang ada di balik produk tersebut. Semakin kita konsumtif, semakin besar keuntungan kaum kapitalis tersebut. (*)

Posted in: Opini