BrebesNews.Co 16 January 2015 Read More →

Quo Vadis Kurikulum 13 ?

amin

Oleh : Amin Aulawi

Kurikulum 2013 atau K-13 resmi diberhentikan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan. Keputusan ini tentu membuat banyak pihak yang terkejut dengan pemberhentian K-13 tersebut, pasalnya kurikulum warisan kementrian pendidikan dan kebudayaan era kepemimpinannya SBY ini, dinilai baru seumur jagung.

Selain itu, K-13 yang sebelumnya disebut-sebut sebagai metode pendidikan dengan konsep pembelajaran yang mengedepankan inovasi dan kreatifitas siswanya, dinilai sebagai kurikulum yang paling sesuai dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Diberhentikannya kurikulum 2013 tentu mempunyai beberapa alasan, kekurangsiapan pihak sekolah dan guru, serta pengadaan buku yang masih semrawut dinilai sebagai faktor utama diberhentikannya K-13 ini. Penerapan K-13 yang dinilai buru-buru tanpa mengkaji lebih dalam, menjadi ”syair penguat” dibekukannya K-13 ini. Kini nasib kurikulum 2013, untuk sementara waktu disimpan di meja kemendikbud.

Sebenarnya bukan lagu baru, Kemendikbud dalam hal ini merevisi kurikulum yang ada di pendidikan kita. Perubahan-perubahan yang terjadi pada kurikulum seperti sekarang ini, menggambarkan bahwa dunia pendidikan yang ada sekarang belum menemukan komposisi yang pas.

Meskipun dilain sisi, perubahan kurikulum itu perlu guna mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan yang setiap waktu terus mengalami perkembangan dan perubahan.

Jangan Korbankan Anak Didik

Penghentian K-13 yang memicu pro kontra ini, menambah daftar permasalahan di dunia pendidikan kita. Kurikulum yang baru berusia sekitar satu tahunan lebih ini, dinilai terlalu dini untuk diberhentikan, karena K-13 ini masih baru dalam proses penerapannya di beberapa sekolah. Dan bisa dikatakan kemendikbud sudah melakukan dugaan yang “prematur” untuk mengukur keefektivan kurikulum 2013 ini.

Terlepas dari pro kontra pemberhentian kurikulum 2013 tersebut, seharusnya pemerintah tidak hanya meributkan kurikulum yang sesuai untuk pendidikan kita. Namun yang paling terpenting ialah, bagaimana siswa dapat dengan nyaman belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Masalah lain yang muncul pasca diberhentikannya kurikulum 2013 pun menghantui beberapa pihak, terutama pihak sekolah dan siswa. Pemberhentian kurikulum 2013 yang dilakukan pada pertengahan semester tentu mempunyai problem sendiri bagi mereka yang merasakan perubahan ini.

Meskipun pada dasarnya pemerintah, dalam hal ini kemendikbud bermaksud baik dengan mengganti kurikulum 2013 ke kurikulum lama, yaitu kurikulum 2006. Namun dengan adanya kebijakan tersebut, mau tidak mau pihak sekolah dan para siswa harus membanting setir guna kembali mencari buku-buku yang menggunakan kurikulum 2006, dimana buku-buku tersebut dalam beberapa kasus sudah jarang ditemukan di pasaran.

Konsep Dasar Pendidikan

Sebenarnya Indonesia sendiri mempunyai warisan konsep pendidikan yang sangat sederhana, namun sangat pas digunakan untuk pendidikan di Indonesia. Konsep yang dicetuska oleh bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, sebenarnya merupakan konsep pendidikan yang diramu dan disesuaikan dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

Konsep dasar Ki Hajar Dewantara mengedepankan tiga faktor, yaitu ngerti, ngrasa, dan nglakoni merupakan konsep dasar yang dimiliki sebagai warisan berharga bangsa kita.

Dalam pendidikan modern, tiga konsep Ki Hajar Dewantoro sesuai dengan konsep kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Tiga kemampuan ini yang banyak dijadikan indikator kemampuan siswa terhadap mata pelajaran.

Inilah sistem pendidikan yang tidak hanya mengedepankan siswanya untuk mengerti, namun juga merasakan dan mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya.

Konsep yang Sangat sederhana namun sangat begitu berharga. (*)

Mahasiswa KPI fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lahir dan di besarkan di Desa Sawojajar kecamatan Wanasari Kab. Brebes.

Posted in: Opini