BrebesNews.Co 20 February 2015 Read More →

Air PDAM Macet, Pelajar SMPN 1 Bantarkawung Terpaksa BAB di Sungai

Sutarjo SPd kepala SMPN 1 Bantarkawung

Sutarjo SPd kepala SMPN 1 Bantarkawung

BREBESNEWS.CO – Akibat sering macetnya air yang berasal dari PDAM ke SMPN 1 Bantarkawung, hampir mayoritas murid sekolah tersebut jika hendak melakukan BAB (Buang Air Besar) harus lari kesungai terdekat. Hal itu lantaran kolam-kolam WC/Toilet disekolah itu kering tidak ada airnya.

Demikian dikatakan kepala sekolah SMPN 1 Bantarkawung, Sutarjo SPd kepada BREBESNEWS.CO, Jumat (20/2/2015).

Tarjo mengatakan, selama ini sekolah hanya mengandalkan air dari PDAM, karena air yang keluar dari sumur sekolah sangat sedikit bahkan sering tidak keluar air padahal kedalamannya itu sudah sangat lumayan. Sehingga pihaknya tengah mengupayakan permohonan bantuan sanitasi kepada pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, supaya kebutuhan air bersih di sekolahnya bisa tercukupi.

“Kami saat ini tengah mengajukan permohonan bantuan Sanitasi kepada pemerintah kabupaten Brebes, agar para siswa -siswi kami tidak lagi BAB di sungai. Selain itu kami juga berharap pemerintah juga dapat mengupayakan pembuatan sumur artesis, untuk memenuhi kebutuhan air bersih di SMPN 1 Bantarkawung ini,” kata Tarjo.

Sementara secara terpisah, Dusto selaku kepala PDAM IKK Bantarkawung menyatakan sering macetnya air bersih ke pelanggan itu lantaran faktor cuaca dan sifat air itu sendiri. Dimana saat ini tengah musim hujan dan pipa jaringan air bersih yang ada sering tersumbat oleh tanah sehingga suplay air bersih ke pelanggan menjadi terhambat.

“Jika berbicara sifat air itukan mengalir ke tempat yang lebih rendah, namun kenyataan dilapangan banyak pelanggan yang rumahnya diatas jaringan dan bukan itu saja, pada waktu pagi hingga siang itu merupakan tingginya pemakaian air bersih, sehingga itu juga yang membuat suplay air menjadi terhambat,” ujar Dusto.

Selain itu juga, lanjut Dusto karena siklus di sumber air Cihirup yang terhambat, dimana sumber air Cihirup itu datangnya lambat dan hilangnyapun lambat.

“Dengan kondisi itu pihaknya tengah mencari sumber baru yang debitnya lebih besar dari sekarang, agar 760 pelanggan kami bisa menikmati air bersih,” tutup Dusto. (DHANI_Bumiayu)

Posted in: Pendidikan