BrebesNews.Co 12 February 2015 Read More →

Pestisida, Penyakit Gondok (Goiter) Masa Kini dan Ancaman Masa Depan

rasipin

Ilustrasi

Oleh : dr. Rasipin, M.Kes
*) Penulis adalah Kandidat Doktor Ilmu Kedokteran Kesehatan Undip bekerja sebagai PNS di RSUD Brebes

Gondok adalah pembengkakan leher akibat pembesaran kelenjar tiroid. Ini terjadi mungkin karena kurangnya iodium makanan, yang diperlukan untuk produksi hormon tiroid. Keadaan yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas subnormal dari kelenjar tiroid disebut sebagai hipotiroidisme.

Kelenjar tersebut membesar sebagai kompensasi untuk meningkatkan output hormon tiroid (Concise Medical Dictionary, 2002).

Gondok sampai saat ini masih dijadikan indikator dari GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium). Total goiter rate (TGR) anak-anak sekolah dasar (SD) di Kabupaten Brebes cukup tinggi, bahkan ada 1 Wilayah Puskesmas TGR mencapai 38,5% (endemis berat), dengan nilai ekskresi iodium urin berkisar 286 – 293 µg/l (normal).

Pestisida sebagai Faktor Resiko Kejadian Disfungsi Tiroid

Pertanyaan besar saya saat itu adalah: “Kalau penyakit gondok merupakan indikator GAKI, kenapa anak-anak sekolah dasar yang berpenyakit gondok di Kabupaten saya semuanya memiliki kadar iodium normal?” Rupanya pertanyaan tersebut juga dirasakan oleh dosen saya di S2 yang saat itu sedang melakukan penelitian disertasi.

Tahun 2010 dosen saya berhasil mempertahan disertasi dengan salah satu kesimpulannya: “Paparan pestisida sebagai faktor risiko kejadian disfungsi tiroid (Studi pada Wanita Usia Subur di Kabupaten Brebes) dengan OR-adjusted=3,31; p=0,016; 95%CI=1,25-8,78 (Suhartono, 2010).” Artinya, para wanita usia subur (WUS) yang terpapar pesti-sida berisiko mengalami disfungsi tiroid 3,31 kali apabila dibandingkan dengan yang tidak terpapar.

Tahun 2012 saya berhasil lulus dari Studi S2 saya dengan IPK=4,00 dengan salah satu kesimpulan tesisnya: “Paparan pestisida merupakan faktor risiko kejadian gondok pada anak-anak SD di Kabupaten Brebes dengan OR-adjusted=6,81; p=0,001; 95%CI=2,26-20,47”. Artinya, para anak-anak SD yang terpapar pestisida berisiko mengalami gondok 6,81 kali apabila dibandingkan dengan yang tidak terpapar.

Paparan pestisida pada WUS dan anak-anak SD dapat melalui kontak langsung saat mereka terlibat dalam kegiatan pertanian atau dari hasil panen yang disimpan di rumah. Hasil panen tersebut, sebelum disimpan di rumah terlebih dahulu disempot dengan pestisida yang berbentuk bubuk, sehingga setelah kering bubuk pestisida dapat memapari keluarga.

Pestisida yang banyak digunakan oleh petani bawang merah di Kabupaten Brebes adalah klorpirifos (insektisida golongan organofosfat) dan mancozeb (fungisida golongan karbamat).

Kedua pestisida tersebut merupakan Thyroid Disrupting Chemical’s (TDCs). Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa paparan salah satu dari keduanya berdampak hipotiroidisme. Paparan klorpirifos dosis 5 mg/KgBB pada tikus wistar selama 14 hari menyebabkan hipotiroid dengan menurunkan kadar hormon T3 dan T4 serta meningkatkan kadar hormon TSH. Hal ini terjadi karena paparan klorpirifos menyebabkan degenerasi dan apoptosis sel-sel folikel tiroid yang diikuti dengan penurunan sekresi sel-sel tersebut (Shady et al., 2010).

Anak usia sekolah yang terlibat dalam kegiatan pertanian dan menderita gondok 

Penelitian tesis saya menggunakan desain kasus-kontrol. Pada anak-anak SD dengan gondok tersebut (kasus), juga ternyata 46,2% anak-anak masuk kategori stunting (berperawakan pendek).

Sedangkan pada kelompok anak-anak tidak gondok (kontrol), stunting hanya 25,5%. Angka prevalensi stunting pada anak-anak di Kabupaten Brebes masih sangat tinggi yaitu 42,7 % (Riskesdas 2010). Bukan hanya stunting saja yang menjadi ancaman gondok yang disebabkan pestisida, tetapi prestasi belajar anak-anak tersebut juga mengkhawatirkan.

Anak-anak dengan gondok memiliki prestasi belajar yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan anak-anak normal (tidak gondok). Tabel 1. berikut ini menunjukkan nilai prestasi belajar anak-anak dengan gondok rata-rata 16 poin lebih rendah apabila dibandingkan dengan anak-anak normal. Apa jadinya masa depan Kabupaten kami dan masa depan bangsa apabila generasi penerusnya berperawakan pendek serta kecerdasannya rendah?

Tabel 1. Nilai prestasi belajar anak-anak gondok dibandingkan dengan anak-anak normal / tidak gondok (Suhartono, 2013)

Mata pelajaran Gondok Tdk gondok P
Matematika 49,4±19,34 69,3±9,14 0,0001*
Bhs Indonesia 56,1±17,44 73,1±8,64 0,0001*
IPA 53,2±17,03 69,6±8,47 0,0001*
IPS 54,4±13,72 65,9±4,65 0,0001*
Gabungan 53,3±16,03 69,5±6,49 0,0001*

Ket: * Uji Mann Whitney

Tahun 2013, Undip bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes melakukan penelitian di tempat yang sama pada anak-anak usia 1-2 tahun (27 anak) dan pada anak-anak SD (28 anak). Hasil penelitian pada anak-anak usia 1-2 tahun didapatkan: 6 anak (22,2%) mengalami keterlambatan perkembangan (instrumen: KPSP dan DDST), 7 anak (25,9%) stunting, 5 anak (18,5%) kurus 2 (7,4%) di antaranya gizi buruk, 19 dari 23 anak (82,6%) anemia (Hb<11,0 mg/dL) dan 9 dari 27 anak (33,3%) menderita hipotiroidisme. Sedangkan pada anak-anak SD: 19 anak (67,9%) menderita gondok, 9 anak (32,1%) menderita hipotiroidisme (kadar TSH>5uIU/ml), 8 anak (28,6%) stunting dan 16 anak (57,1%) positif terdeteksi adanya metabolit pestisida golongan organofosfat di dalam urinnya (Suhartono, 2013).

Penyempitan lahan pertanian yang diikuti peningkatan produksi pertanian (intensifikasi), maka menuntut penggunaan pestisida merupakan alasan pilihan utama untuk mendukung tujuan ini. Dampak penggunaan pestisida di Kabupaten Brebes sudah menjadi masalah besar.

Apabila permasalahan ini tidak diatasi dan tidak dilakukan upaya-upaya preventif terhadap dampak pestisida, maka permasalahan kesehatan akibat dampak penggunaan pestisida akan bertambah berat.

Para petani dan keluarganya akan tetap berisiko terpapar pestisida selama mereka masih menggunakannya. Perlu ada upaya yang kuat untuk melindungi para petani, keluarganya dan masyarakat di sekitar wilayah pertanian dari dampak penggunaan pestisida terutama klorpirifos.

Berbagai upaya sudah ditempuh untuk menyadarkan para petani akan bahaya pestisida. Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian Kabupaten Brebes dan SKPD terkait secara rutin melaksanakan kegiatan penyuluhan kepada para petani dan pedagang pestisida tentang bahaya pestisida bagi kesehatan, sehingga penggunaannya harus sesuai dengan aturan serta anjuran penggunaan alat pelindung diri (APD).

Sampai saat ini upaya-upaya tersebut dinilai belum berhasil. Fenomena yang terjadi saat ini, para petani masih belum melakukan upaya-upaya preventif tersebut. Para petani justru makin meningkatkan dosis takaran dan menambahkan kombinasi penggunaan pestisida. Perlu ada upaya lain untuk melindungi para petani, keluarganya dan masyarakat di sekitar wilayah pertanian dari dampak penggunaan pestisida.

Penelitian eksperimental pemberian intervensi antioksidan pada tikus wistar yang dipapari pestisda adalah intervensi pemberian : vitamin C, serbuk bunga rosella, selenium dan vitamin E.

Pemberian antioksidan-antioksidan tersebut terbukti dapat mencegah hipotiroidisme akibat paparan pestisida, hanya saja dalam penelitian-penelitian tersebut penggunaannya dalam dosis tinggi, sehingga tidak baik untuk penggunaan jangka panjang (apabila diterapkan penggunaannya pada manusia). Perlu ada penelitian penggunaan antioksidan lain yang aman untuk digunakan dalam jangka panjang.

Antioksidan lain yang diperkirakan dapat membantu mengatasi masalah tersebut adalah kefir. Kefir adalah fermentasi produk susu yang asam menyegarkan telah diyakini mengandung banyak komponen biologis aktif, dan telah dijadikan alasan bahwa umur panjang para petani di Bulgaria sebagian karena mereka sering mengkonsumsi susu fermentasi ini.

Sampai saat ini saya belum menemukan data tentang efek samping kefir. Semua laporan penelitian tentang kefir yang diketahui saya, menyampaikan data manfaatnya. Kefir sangat mudah didapat dan dibuat serta murah harganya. Teknologi produksinya sangat sederhana dan mudah diterapkan di skala rumah tangga. Produk ini berpotensi memberikan multi efek ekonomi yaitu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.(*)

Posted in: Opini