BrebesNews.Co 29 March 2015 Read More →

Dokter Kandungan, Sigit : Kematian Ibu Hamil di Brebes Tertinggi di Jateng

cvcv

Penyuluhan seputar Kehamilan dan Persalinan, di Aula Desa Sigambir Kecamtan Brebes, Minggu (29/3/2015).

BREBESNEWS.CO – Angka kasus kematian ibu hamil di Brebes tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2015 ini saja sudah tercatat sudah 73 kasus. Ini artinya Pemerintah Kabupaten harus menangani tidak hanya sendirian, tetapi secara terintegrasi, mendapatkan dukungan dari Masyarakat.

Demikian diungkapkan dokter spesialis Kandungan Kabupaten Brebes dr. Sigit Laksamana, S.PoG, saat diadakan penyuluhan seputar Kehamilan dan Persalinan, di Aula Desa Sigambir Kecamtan Brebes, Minggu (29/3/2015).

Sosialisasi penyuluhan ibu hamil ini atas prakarsa dari Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Brebes. Forum ini untuk membantu upaya menurunkan angka kasus kematian Ibu Hamil di Kabupaten Brebes.

Kegiatan di ikuti oleh 40 ibu hamil/menyusui. Hadir Pendamping Keluarga Harapan, Bidan Koordinator Puskesmas Brebes, Bidan Desa, Admin Celoteh Brebes Membangun dan Kepala Desa Sigambir.

Lebihlanjut, dokter Sigit menerangkan, dengan masih tingginya kasus kematian ibu hamil ini, dirinya berharap agar para ibu harus mendapatkan hak reproduksinya sehingga dapat melahirkan bayi dan generasi muda masa depan yang sehat.

Seorang Ibu patut dihormati dan dihargai karena ialah yang menjalankan fungsi reproduksi: hamil, melahirkan, mengasuh dan membesarkan seorang anak. Naluri seorang ibu pun selalu kuat dengan anaknya karena ialah yang tahu bagaimana diri kita.

“Kematian Ibu ini, baik itu dari segi internal ialah kesadaran Ibu hamil itu sendiri, sedangkan eksternalnya dukungan pemerintah dan masyarakat,” tandasnya.

Selain itu rendahnya pengetahuan Ibu tentang kesehatan reproduksi, gizi yang buruk, pelayanan yang kurang memadai, dan tradisi yang kontra produktif menjadi latar belakangnya. Persoalan ini menjadi alasan banyaknya tanggapan dari berbagai pihak, karena fungsi melahirkan, menyusui, dan merawat tidak bisa digantikan oleh yang lainnya.

“Maka inilah alasan utama bagi kita untuk membuat sang Ibu selamat,” pungkasnya.

Hak kesehatan reproduksi diatur dalam Konvensi Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Ekosob) yang sudah diratifikasi Pemerintah Indonesia sejak tahun 2005. Ironisnya, sejak Konvensi itu diratifikasi, pemenuhan hak kesehatan reproduksi belum menunjukkan kemajuan atau bahkan sebaliknya, justru menunjukkan kemunduran.(HENDRIK)

Posted in: Serba Serbi