BrebesNews.Co 1 March 2015 Read More →

Ikhtisar Tari Topeng Gaya Losari – Tari Klana Bandopati

topeng

Oleh : Nur Anani M Imran ( Penari Topeng Losari )

( Tulisan disampaikan pada saat press tour Kabupaten Brebes 2015 di hotel Crystal Lotus Yogjakarta )

Tari Topeng gaya Losari mempunyai sejarah yang sangat panjang. Tari ini diciptakan oleh Panembahan Losari atau Pengeran Losari Angkawijaya sekitar 400-tahun lalu.

(Seperti diketahui, Pangeran Angkawijaya adalah keturunan Kasultanan Cirebon Jawa Barat yang menjalani hidup askestis atau memnyingkir dari kehidupan istana, dan merantau hingga ke Dasa Losari Kidul Kecamatan Losari. Hingga meninggalnya Raden Angkawijaya dimakamkan di Desa Losari Kidul, dan kini jejaknya masih terlihat).

Pada mulanya tarian ini diciptakan untuk menyebarkan agama Islam. Hingga saat ini yang menari-kan Tari Topeng Losari adalah generasi ke tujuh trah langsung penari topeng Losari atau di sebut Dalang Topeng Losari.

Dalam penyajiannya Tari Topeng Losari mengedepankan penokohan dari cerita Panji, berbeda dengan tari topeng dari wilayah lainnya yang lebih mengedepankan watak perkembangan sifat manusia yang menjurus sifat filosofis.

Tari topeng gaya Losari memiliki ciri yang berbeda dengan tari topeng lainnya, baik dilihat dari latar belakang, penokohan, koreografi, tata busana, wanda kedok, music maupun tata cara penyajiannya.

Koreografi (tata gerak tari) yang menarik dalam gaya Losari adalah motif gerak Galeyong, Sepak Soder ke depan dan gantung Sikil yang mengharuskan penarinya memperlihatkan telapak kakinya kesamping.

Dan satu lagi yang menarik dari Topeng Losari adalah Pasang Naga Seser yang menyerupai sikap Kathakali di India dan sikap Gantung kaki mirip sekali dengan patung Dewa Siwa sebagai Nataraja dari India.

Tari Topeng Klana Gaya Losari mengambil sumber tokoh wayang Prabu Klana Banopati dari cerita Jaka Buntek dalam cerita Panji. Kedoknya berwarna merah tua berparas raksasa buas.

Tari Klana adalah tarian yang berkarakter kuat, gagah dan kasar sehingga membutuhkan stamina yang baik. Hal ini karena jenis tariannya sangat dinamis dan lebih menitikberatkan pada penguasaan intensitas tenaga dan penjiwaan karakter.

Klana Bandopati menggambarkan sifat manusia yang penuh angkara murka dan sombong. Dengan digambarkan warna kedok merah tua, mata melotot yang secara filosofi makna tersebut merupakan sifat manusia yang tidak baik, dan pesan moralnya yakni agar sifat itu jangan di tiru.

Klana Bandopati bukan tentang hidup dan penokohan, ini tentang hitam dan putih yang digambarkan melalui kedok (topeng) putih dan merah. Dan ini lebih tentang ritual yang digambarkan melalui energi dua karakter Baik dan Buruk Panji yang secara maknawi sesungguhnya adalah Jiwa dan Klana adalah Raga (*)

Posted in: Opini