BrebesNews.Co 3 March 2015 Read More →

Kandang Sapi Dipindah, Program Biogas di Desa Wlahar Mangkrak

popo

Beberapa tabung penampung kotoran sapi di Desa wlahar kecamatan Larangan yang sedianya untuk program Biogas

BREBESNEWS.CO – Bangunan Mini Diagester Biogas di Desa Wlahar Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes kini tidak berfungsi alias mangkrak. Dari pantauan serta informasi yang di dapat Tim Lodod Celoteh Brebes Membangun (CBM), Selasa (3/3/2015), mangkraknya keberadaan biogas karena kandang sapi yang awalnya berada dilokasi tersebut di pindah ke lokasi lain.

Eko Dardirdjo salah satu Tim Lodod Celoteh Brebes Membanguna (CBM) menuturkan mestinya ini harus di perhatikan oleh pihak terkait seperti Dinas Peternakan, atau pihak yang berkepentingan.

“Dulu tempat ini menjadi percontohan lomba tingkat Provinsi Jateng, namun setelah lomba nasibnya sangat berbeda sebelum ada sentuhan dari pihak Pemkab,” tukas Eko.

Sedangkan menurut Suntoro selaku Kepala Dusun Wlahar pembuatan mini diagester biogas sangat bermanfaat untuk masyarakat yakni sebagai penerangan rumah dan kebutuhan memasak di Desa Wlahar khususnya untuk pemilik kandang sapi yang berdekatan dengan tempat biogas.

“Sudah ada warga yang sudah mencoba dengan menyalakan pertomak dengan tenaga alternatif biogas, tapi masyarakat sudah enggan mengelola biogas ketika musim kemarau karena persediaan air hampir tidak ada untuk mencampurkan dengan kotoran sapi agar bisa dijadikan gas,” ujar Suntoro.

Upaya memanfaatkan keberadaan biogas

Sebenarnya pemanfaatan biogas pernah di usahakan oleh lembaga Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Desa Wlahar, pada tanggal 25-27 Mei 2014 dengan menghidupkan biogas tersebut.

“Biogas sudah dimanfaatkan oleh salah satu warga Wlahar yang mempunyai kandang sapi dekat mini diagester untuk dimanfaatkan sebagai lampu penerangan. Tapi karena kondisi sekarang kandang sapinya pindah jadi tidak di manfaatkan lagi, sehingga kondisi sekarang mangkrak,” aku Kartini ketua PEKKA Desa Wlahar ini.

Menurut Kartini, tinggal fisik bangunan biogasnya saja yang masih ada. Jika musim hujan bisa banjir sehingga lubang inlet tangki pencerna dan lubang outlet penuh oleh pasir yang terbawa oleh banjir di sekitar mini diagester biogas.

Biogas di Dewa Wlahar ini diprakarsai oleh Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada) bekerjasama dengan PLN PJB Cirata yang merujuk pada Peraturan Presiden RI No 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak.

Program ini juga di dasari oleh ajakan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo yang mencanangkan program ‘Bali Deso Bangun Deso’ pada saat itu, dan Biogas dibangun pada tahun 2010.(*)

Berita kiriman Raeko Wlahar Kecamatan Larangan
Editor ; AFiF.A

Posted in: Serba Serbi