BrebesNews.Co 11 March 2015 Read More →

Pemasaran Kacang Bawang Klikiran Rambah Jakarta dan Bandung

kcng

Tarmidzi dengan produksi kacang bawang klikiran produksinya

BREBESNEWS.CO – Meski dikemas dengan cara sederhana, namun pemasaran Kacang Bawang Klikiran kini merambah kota besar seperti Jakarta dan Bandung Jawa Barat. Bahkan untuk memenuhi pesanan dari daerah Jakarta saja, kini Kacang yang diproduksi Tarmidzi (53) warga Klikiran RT 5 RW 2 Kecamatan Jatibarang ini merasa kewalahan. Pasalnya tiap hari paling tidak supplier atau pemesan menargetkan 2 ton kacang bawangnya.

“Dari pemesan Jakarta minta pesannya 2 ton kacang bawang per-hari, namun karena bahan baku kacang yang di dapat tidak memenuhi. Dalam satu harinya paling hanya 1,5 kwintal kacang bawang yang siap kirim,” ujar Tarmidzi saat di temui BREBESNEWS.CO, di rumahnya, Senin lalu (9/3/2015).

Menurut Tarmidzi yang memulai produksi kacang bawang di tahun 2006 ini, usahanya di Klikiran melibatkan 30 orang dari 9 Keluarga yang semuanya warga  Klikiran. Padahal menurutnya lagi bila kebutuhan pemenuhan pasar Jakarta yang bisa mencapai 2 ton per-hari, paling tidak ada sekitar 140 orang yang bisa dipekerjakan.

“Tiap orang biasanya bisa mengelupas biji kacang 20 kilogram, dengan bayaran per-kilonya 2000 rupiah. Bila perhari bisa 20 kilo berarti tiap orang bisa mengantongi hasil 40 ribu rupiah per-hari,” jelas Tarmidzi.

Bahan baku kacang yang di belinya dari Slawi Tegal sebelum di goreng menjadi kacang bawang di serahkan warga untuk di kelupas secara manual. Alasan pengelupasan dengan cara manual, menurut Tarmidzi, karena kondisi kacang akan utuh bila akan di goreng, dibandingkan dengan cara pengelupasan pakai mesin.

Bahan Baku Kurang

Lebihjauh Tarmidzi yang sudah malang melintang di dunia bisnis mengakui kalau selama ini bahan baku kacang tanah sebagai bahan dasar  produksi kacang bawangnya teramat jauh dari harapan.

“Saya coba untuk memenuhi pesanan Jakarta dengan mencari di sekitar Jawa Tengah bagian timur seperti Solo, Wonogiri dan Boyolali, bahkan ke Jawa Timur seperti Tuban. Namun belum bisa juga memenuhi, karena untuk mutu yang baik akan rebutan dengan usaha besar kacang garuda atau kacang dua kelinci,” aku Tarmidzi.

Tarmidzi sengaja mencari bahan baku kacang lokal, karena kacang kondisinya basah dan masih segar sehingga proses pengelupasannya mudah. Selain itu bila sudah jadi kacang bawang rasanya enak dan kadaluarsanya panjang.

“Dibanding bahan baku dari kacang impor, yang kacang nya sulit di kelupas karena setlah samapi di Indonesia kondisinya terlalu kering dan susah dikelupas secara manual. Rasnya juga tidak segurih rasa kacang lokal,” ujarnya.

Sementara untuk bahan baku yang kurang, Tarmidzi yang jebolan Fakultas Ekonomi Undip Semarang ini mengaku sudah melakukan MoU atau kerjasama dengan Perhutani di Kecamatan Songgom untuk memanfaatkan tanahnya dengan menanam kacang.

“Sudah disepakati 60 hektare dari 260 hektare tanah Perhutani yang akan ditanami kacang untuk kebutuhan kacang bawangnya,” kata Tarmidzi.

Produk kacang bawang Klikiran Tarmidzi di jual dengan konsep perlembar rencengan. Tiap lembar renceng berisi 20 bungkus kacang dengan harga pasaran di patok 1000 rupiah.

“Kacang bawang merupakan produk makanan ringan. Orang tidak akan makan banyak dalam sekali beli. Maka sebagai siasat market saya buat bungkus kecil-kecil,” tukas pria yang baru di dapuk sebagai ketua koordinator UMKM Kabupaten Brebes ini.

Sebagai pelaku usaha kecil, Tarmidzi juga punya harapan agar petani Brebes selain menanam bawang juga mau menanam kacang tanah. Hal ini karena prospek ke depannya sangat menajnjikan.

“Saya ingin Kabupaten Brebes disamping bertani bawang juga bertani kacang. Disamping menanamnya mudah, juga harganya cukup bagus per-kilonya 8000 rupiah hingga 11.000 rupiah. Dan saya siap menampung hasil panenan kacang petani di Brebes berapapun hasilnya,” pungkas Tarmidzi. (AFiF.A)

Posted in: Ekonomi & Bisnis