BrebesNews.Co 5 April 2015 Read More →

Hari Nelayan dan Renungan Buat Rekan Mahasiswa

Isna

Oleh : Novian Ajeng Isnaeni

Sebagai mahasiswa perikanan jika ditanya apakah kita mengerti tanggal penting seperti peringatan hari nelayan setiap tanggal 6 April ? Mungkin hanya segelintir mahasiswa yang tahu. Bahkan mahasiswa perikananpun jarang yang mengetahuinya.

Bukanlah sebuah perayaan akbar yang diharapkan nelayan dalam momentum peringatan hari nelayan. Tetapi sebagai titik dimana semua kalangan menyadari keberadaan nelayan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang membutuhkan perhatian dalam peningkatan kesejahteraan mereka. Sudah selayaknya nelayan Indonesia sejahtera.

Kitapun dibuat terhenyak ketika, Indonesia yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia, ternyata kehidupan nelayannya tidak beranjak ada perbaikan. Kampung yang kumuh, sanitasi yang jelek, bahkan perekonomian yang tak kunjung membaik.

Untuk melaut saja kadang nelayan kita harus hutang dulu pada rentenir atau tengkulak, yang mengakibatkan harga jual ikan akan ditentukan pengutang tersebut. Miris memang, tapi itulah realitas yang dihadapi nelayan kita dari waktu ke waktu.

Beruntung, kita mempunyai Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti yang meski berpendidikan hanya lulusan SMP, namun kita dibuat terpana oleh pandangan-pandangannya tentang potensi laut Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memperkirakan nilai kerugian Indonesia per tahun akibat pencurian ikan (illegal fishing) mencapai Rp 300 triliun. Pencurian ikan marak selama 10 tahun terakhir, sehingga total kerugian yakni 300 x 10 tahun menjadi Rp. 3.000 triliun. Kerugian itu terjadi karena banyaknya kapal asing illegal yang menangkap ikan di laut Indonesia. (Bisnis Indonesia.com).

Kebijakannya soal moratorium perijinan kapal nelayan dan penenggelaman kapal ikan asing illegal menjadi shock terapi jitu untuk mengurangi pencurian ikan.

Adalah Guru Besar FE Universitas Indonesia Rhenald Kasali, yang mengakui dalam tulisannya di harian Kompas (3 November 2014). Kalau Dian Sastro Wardoyo (Artis), Mooryati Sudibyo (Pengusaha kosmetik dan jamu) adalah murid-murid saya, khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya.

Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah “self driver” sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu ?

Pertanyaannya sekarang, kalau Susi yang hanya lulusan SMP saja sudah peduli pada kehidupan nelayan, bagaimana kepedulian rekan mahasiswa pada nelayan ?

Mahasiswa dan Kehidupan Nelayan

Dunia mahasiswa saat ini hanyalah berkutat dengan kegiatan kuliah – praktikum – nongkrong dan lain sebagainya. Kegiatan keorganisasian bukanlah menjadi prioritas utama. Alasan sibuk, tidak ada waktu menjadi hal lumrah.

Mahasiswa perikanan belum tentu pernah berinteraksi dengan masyarakat pesisir dan nelayan. Padahal nelayan adalah punggawa terdepan pemenuhan protein bangsa. Namun mereka seakan semakin terlupakan oleh kemajuan zaman. Tengok saja kehidupan mereka yang jauh dari kata sejahtera.

Menurut data BPS masyarakat pesisir dan nelayan termasuk dalam kalangan termiskin di tanah air. Nelayan indonesia terhimpit permasalahan sosial,ekonomi dan teknologi. Disinilah peran mahasiswa dibutuhkan sebagai “agent of change” (agen perubahan).

Mahasiswa perikanan sebagai sumberdaya manusia terdidik alangkah lebih mulia memberikan pengetahuan di bangku kuliah dalam bentuk pelatihan, pendampingan maupun penyuluhan. Selama ini, tidak dapat dipungkiri rendahnya kualitas SDM berpengaruh terhadap kesejahteraan.

Nelayan memang tidak mungkin dipaksa untuk mengenyam pendidikan formal seperti mahasiswa. Keterampilan praktis seperti penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, penanganan hasil tangkapan, pengolahan hasil perikanan, maupun kegiatan budidaya bisa kita lakukan dalam menjalankan peran sebagai mahasiswa.

Selain itu, anak-anak nelayan menjadi investasi masa depan bangsa sudah patut untuk diperhatikan. Melalui kepedulian kita untuk memberikan edukasi, permainan, maupun bantuan alat tulis sekolah perlahan akan meningkatkan semangat belajar mereka.

Saat ini tidak hanya peran pemerintah yang dibutuhkan dalam memajukan sektor perikanan. Kita sebagai generasi penerus mempunyai kewajiban untuk ikut berperan aktif.

Pemerintah tidak akan mampu bekerja sendiri. Bukan lagi saatnya kita untuk berdemo yang tidak jelas arah, saatnya kita terjun ke masyarakat. Terkadang demo mengkritisi kebijakan pemerintah,menyuarakan kepentingan rakyat penting untum dilakukan.

Tetapi karya nyata kita di masyarakat yang lebih dinanti. Sekarang tinggal bagaimana pilihan kita. Tetap diam atau bertindak !

( Novian Ajeng Isnaeni, Mahasiswa Perikanan Unsud Purwokerto asal Brebes)

Posted in: Opini