BrebesNews.Co 7 April 2015 Read More →

Sudahkah Brebes Menyelenggarakan Sekolah Inklusif ?

Foto0918_001_副本

Oleh :
Nihayatul Jazilah

( Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Fakultas Ilmu Pendidikan PGSD, asal Desa Sitanggal Larangan Brebes )

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan. (Khalil Gibran)

Bagi anak yang terlahir normal secara jasmani dan batiniah, dan terlahir dari orang yang mampu secara ekonomi, syair itu mungkin dikatakan indah. Namun bagaimana kalau seorang terlahir dengan fisik ataupun mental yang kurang normal dan terlahir di keluarga yang secara ekonomi tidak beruntung. Bagaimana nantinya tentang masa depannya ?

Apakah anak-anak ini, yang lebih dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK), memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan anak lain seusianya. Karena dengan pendidikan inilah hak masa depan bisa di arahkan. Minimal dengan pendidikan yang bisa dinikmatinya bisa menjadikan hidup yang dilalui setara dengan anak yang terlahir secara normal.

Bagi masyarakat kota ataupun yang mempunyai kehidupan ekonomi cukup, bila ada anaknya yang terlahir tidak normal (secara fisik dan mental-red), mungkin pendidikan bisa di raih dengan menyekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di kota. Namun bagaimana dengan anak yang mempunyai kebutuhan khusus yang hidup di pedesaan, dan dari keluarga yang tidak mampu ?

Sekolah Inklusif

Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mewadahi anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar dalam sekolah reguler terdekat bersama teman-teman seusianya. (Sapon Sevin dalam Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, 4: 2007).

Pendidikan inklusif merupakan salah satu revolusi dunia pendidikan dalam upayanya untuk menciptakan akses pendidikan yang seluas-luasnya bagi setiap anak, terutama dalam menuntaskan pendidikan dasar wajib belajar sembilan tahun.

Brebes merupakan kabupaten terbarat di Jawa Tengah, dengan komoditas dan karakteristik masyarakatnya yang unik dan berbeda, memiliki sumber daya potensial dengan akses pendidikan yang perlu ditingkatkan. Kaitannya dengan jumlah anak berkebutuhan khusus di kabupaten ini yang tidak sedikit dan tersebar diseluruh kecamatan dan desa.

Berdasarkan pemetaan anak berkebutuhan khusus melalui data SIPBM (Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat) yang sementara ini digunakan di empat kecamatan yakni Larangan, Bumiayu, Songgom, dan Bulakamba, termasuk dalam alasan lain mengapa anak usia sekolah ini belum pernah sekolah dan terhambat hak pendidikannya. Perlu adanya layanan pendidikan yang memfasilitasi anak berkebutuhan khusus tersebut dalam mendapatkan akses pendidikan yang seluas-luasnya.

Hambatan sekolah inklusif

Mengutip penuturan salah seorang Dewan Pendidikan di Kabupaten Brebes, (Wijanarto) memaparkan bahwa di Brebes sendiri sudah ada sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, adalah SMP Negeri 2 Brebes yang dalam pelaksanaannya kurang optimal dikarenakan beberapa faktor.

Pertama, terhambatnya kemajuan pendidikan inklusif tersebut karena tidak didukung guru yang profesional dibidangnya. Kedua, penetapan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang tidak diikuti oleh penganggaran yang maksimal. Ketiga, kurangnya sosialisasi sehingga masyarakat tidak mengetahui keberadaan sekolah inklusif tersebut.

Keempat, sarana dan prasarana kurang mendukung penyelenggaran pendidikan inklusif. Sekolah inklusif dibutuhkan dengan pertimbangan baru ada satu Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) di Kabupaten Brebes.

Sekolah inklusif sebagai wadah untuk memfasilitasi anak berkebutuhan khusus dalam memperoleh akses pendidikan yang seluas-luasnya, memperoleh perkembangan emosi dan sosial yang optimal layaknya anak normal, menanggulangi diskriminasi, akses penuntasan pendidikan dasar wajib belajar sembilan tahun, bisa dilaksanakan disekolah reguler terdekat disetiap kecamatan atau desa. Selain itu juga menumbuhkan rasa menghargai dan menghormati perbedaan bagi anak.

Sekolah inklusif diharapkan bisa digunakan sebagai alternatif dalam peningkatan mutu pendidikan di Brebes dan tentunya berdampak pada peningkatan IPM ( Indeks Pembangunan Manusia ) dibidang pendidikan.

Sinergitas dalam Pendidikan Inklusif

Perlu adanya sinergisitas antara pemerintah dan masyarakat dalam menyelanggarakan sekolah inklusif ini. Kejelasan pengaggaran dari pihak pemerintah serta perlu adanya pelatihan-pelatihan sebagai bentuk pembinaan bagi guru, dan sosialisasi yang maksimal kepada masyarakat mengenai penyelenggaraan pendidikan inklusif ini.

Selain itu, banyak pihak yang perlu dilibatkan dalam penyelenggaraannya seperti psikolog, dokter ahli, penyedia sarana dan prasarana untuk anak berkebutuhan khusus, tenaga pendidik lulusan PLB (Pendidikan Luar Biasa) yang menunjang terselenggaranya pendidikan inklusif itu sendiri.

Terlepas dari itu semua, besar harapan masyarakat, terutama orang tua dari anak berkebutuhan khusus yang menaruh harapan sebesar-besarnya agar anak mereka mendapatkan akses pendidikan yang seluas-seluasnya, layaknya anak normal seusianya. (*)

Posted in: Opini