BrebesNews.Co 25 July 2015 Read More →

Abdul Haris Sholeh, Guru Ngaji yang Pelestari Kerbau Lumpur Brebes

ustadz haris Kerbau

Ustadz Abdul Haris Sholeh dengan kerbau-kerbau lumpur yang di ternaknya

BREBESNEWS.CO – Ditengah menurunnya populasi Kerbau di Indonesia, Abdul Haris Sholeh dengan gigih merawat dan mengembangkan kerbau hingga 630 kerbau per Mei 2015. Dia bersama teman-temannya di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kerbau Mahesa Mukti Desa Kebandungan Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes merasa terpanggil untuk membudidaya Kerbau Lumpur Brebes.

Di sela kesibukannya mengajar di Madrasah Diniyah desa setempat, dirinya menyempatkan merawat kerbau-kerbau anggota kelompoknya dengan sepenuh hati.

Atas ikhtiarnya tersebut dia diusulkan menjadi Pelestari Sumber Daya Genetik (SDG) Kerbau Lumpur tingkat Provinsi Jawa Tengah oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes.

“Menyayangi binatang, bagian dari ibadah,” kata Haris ketika di temui di kandang Kerbau kelompoknya, Desa Kebandungan, Sabtu (25/7/2015).

Pria kelahiran Brebes 12 Juni 1980 dipandang layak oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes sebagai Pelestari SDG Kerbau Lumpur. Karena terbukti telah mendukung Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDS/K) tahun 2015 dengan menjunjung kearifan lokal.

Menurut Haris, ternak sebagai ‘rojo koyo’ dan tabungan sejak Nenek Moyang harus dipadukan dengan pendekatan interdisciplinary approach atau pembangunan peternakan yang melibatkan banyak pihak.

Di desanya, dia berkoordinasi dengan kelompok ternak lainya melakukan kegiatan Pelestarian Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) yang populasinya mulai terancam punah.

Guru Ngaji itu juga melihat, nasib para peternak kerbau mulai tergusur kemajuan teknologi pertanian. Untuk itu, dia menggarap 4 hektar usaha tani dengan membawahi 86 anggota dari 4 KTT Pembibit Kerbau se Desa Kebandungan. Ketua Kelompok Peternak (GAPOKNAK) Desa Kebandungan itu mengubah pola kehidupan peternak yang lebih terarah sejak 2008.

“Realita dilapangan, mayoritas kerbau hanya dimiliki oleh peternak kecil dengan sistem tradisional (subsisten) pada lahan marjinal, sempit dengan menggunakan tenaga kerja keluarga yang kurang terdidik,” papar alumni MA Miftahul Huda Tasikmalaya itu.

Semangat ustadz beranak dua itu makin tumbuh ketika Bupati Brebes Idza Priyanti SE meninjau potensi peternakan di daerah tersebut. Saat itu, tengah digelar Panen Gudel dan Pedet pada 4 Nopember 2013 silam oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes.

Panen Gudel dan Pedet, tergolong sukses untuk ukuran desa terpencil dengan kondisi infrastruktur yang kurang memadai. Kesuksesannya dibuktikan dengan kehadiran Bupati beserta jajarannya, Ketua DPRD Brebes, Kepala BPPTP Jawa Tengah, Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Tengah, Peneliti Senior Balitnak, Perguruan Tinggi dan Kelompok Tani Ternak se Brebes.

Berawal dari acara tersebut, potensi ternak desa Kebandungan seolah tiada henti dijadikan lokasi kegiatan penelitian seperti dari Lolit Grati Pasuruan, BET Cipelang, Mahasiswa PKL dan BPTP. Bahkan pakar Kerbau sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof Tridjoko Wisnu Murti serta Perwakilan Direktorat Bibit Pusat beberapa kali menyambangi kelompok Kerbau binaan Ustadz Haris.

Rubah pola pikir peternak

Merubah pola pikir peternak Kerbau yang mayoritas hanya lulusan SD bahkan masih banyak yang belum melek huruf tidaklah semudah membalikan tangan. Karena mereka harus bisa mencatat atau mengingat perkawinan, menimbang dan mengukur kerbaunya agar menerapkan pola pembibitan (Good Breeding Practises).

Berkat kesabaran dan keuletan Ustadz Haris, para peternak Kerbau desa Kebandungan memiliki recording ternak kerbau yang dilaporkan tiap bulan ke Dinas Peternakan Brebes selaku pembina. Kegiatan yang demikian merupakan terobosan tak ternilai sebagai upaya pelestarian kerbau yang sudah sangat mendesak.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes Ir Yulia Hendrawati MSi mengaku bangga dengan aktivitas yang dilakukan oleh Ustadz Haris. Hal ini sejalan dengan dinas peternakan yang tengah melakukan Program Pembibitan yang berkelanjutan agar populasi kerbau dan mutu genetik dapat lebih ditingkatkan.

Melalui pendekatan Subdistrict raising model, dimana Ustadz Haris selaku Ketua Kelompok bersama pengurus KTT merangsang para pemilik ternak untuk bersatu dalam kelompok. Kegiatan mereka terkumpul secara kandang dan manajemen, dalam artian reproduksi, pakan, kesehatan, pengolahan dan pemasaran bersatu pada level desa. “Ustadz Haris telah menerapkan program Sanak Sekadang (Sehat Ternak Sehat Kandang),” tutur Yulia.

Yulia memuji upaya Ustadz Haris yang telah menggalakkan pengembangan usaha pembibitan Kerbau. Ustadz Haris telah melakukan pengembangan tiga pilar peternakan, yakni pertama, pengembangan potensi ternak dan bibit ternak (recording yang valid dan berkelanjutan). Kedua, pengembangan hijauan pakan ternak (HPT) ditanah tidur atau tanah bengkok, dan ketiga pengembangan teknologi budidaya dan pembibitan ternak ber Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB).

“Keberhasilan Ustadz Haris meskipun belum secepat yang dibayangkan namun dengan memulai para peternak mencatat perkembangan ternak kerbau dan pola perkawinan terseleksi serta tidak mudah menjual ternak adalah langkah awal yang briliant,” kata Yulia.

Keberhasilan Haris, lanjutnya, perlu mendapat apresiasi dalam menerapkan pola budidaya tradisional menjadi peternak pembibit yang diikuti seluruh peternak kerbau di desanya.

Hal ini menjadi acuan pelestarian dan pengembangan ternak kerbau lumpur yang mulai terpinggirkan oleh modernisasi teknologi pertanian secara umum. Dari karya besar Ustadz Haris sudah mewujudkan ‘Kerbau Lumpur Brebes dari Kebandungan untuk Indonesia’. (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi