BrebesNews.Co 14 July 2015 Read More →

Budaya Nyorog ala Bantarkawung

nyorog

BREBESNEWS.CO – Mungkin anda pernah mendengar istilah Nyorog.. ya di daerah Wonogiri, Nyorog ini merupakan kegiatan membuang/menghilangkan rumput yang menganggu padi di sawah. Sementara di daerah betawi, Nyorog merupakan tradisi membagi-bagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti Bapak atau Ibu, Kakak, Paman, Kakek atau Nenek yang dilakukan sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.

Lain lagi halnya didaerah Bantarkawung, Nyorog merupakan tradisi yang cukup kental dibulan suci Ramadhan terutama saat memasuki satu pekan sebelum lebaran. Masyarakat setempat mengartikan tradisi Nyorog sebagai bukti keseriusan cinta pasangan muda mudi. Biasanya tradisi ini, pihak perempuan dan keluarganya akan memberikan/mengirim aneka makanan kepada pihak laki-laki. Dan selanjutnya pihak laki-laki juga harus dan wajib mengganti semua bawaan perempuan tercintanya dengan barang berharga ataupun uang senilai barang bawaan.

PJ Camat Bantarkawung Drs. Ujang Furi menyatakan, meskipun tradisi Nyorog ini sudah hampir punah namun ada sebagian masyarakat yang masih melestarikannya. Diantaranya di desa Kebandungan, Bantarwaru, sebagian desa Bambayang, Terlaya, Pangarasan, Jipang dan beberapa desa lainnya.

” Bagi para orang tua perempuan, tradisi Nyorog ini sekaligus juga sebagai ajang silaturahmi antar calon besan agar lebih saling mengenal dan tak jarang sering dijadikan moment ini untuk menentukan langkah selanjutnya” papar Ujang.

Sarpin Kades Ciomas menambahkan, Setelah sang perempuan mendatangi lelaki idamannya saat nyorog, maka tugas lelakinya adalah membalas kunjungan di malam hari. Biasanya sang lelaki datang di malam lebaran sembari menyalakan petasan atau kembang api dan tradisi ini masyarakat sering menyebutnya dengan Tradisi Ngaraya.

“Berdasarkan asumsi masyarakat semakin banyak petasan yang dibakar, maka semakin besar bukti cinta sang lelaki terhadap perempuan tersebut,” ujar sarpin.

Pj Kades Bantarwaru, Wardi mengakui bahwa tradisi nyorog juga berlaku untuk kepala wilayah seperti dirinya. Jika sudah ada yang melakukan nyorog terhadapnya maka dia harus siap mengganti barang bawaan calon keluarga pengantin dengan uang tunai.

” Ya kalo sebulan cuma 1 atau 2 calon pengantin itu masih mending, nah ini kan moment lebaran.. pasti banyak yang nikah dan tentunya yang nyorog makin banyak dan siap-siap saja,” tutup wardi. (Dhani_Bumiayu)

Posted in: Serba Serbi