Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 9 August 2015 Read More →

Robikhun Nakhodai PGRI Cabang Khusus Kabupaten Brebes

Moh Robikhun3

Mohamad Robikhun

BREBESNEWS.CO -Pengawas Pendidikan Agama Islam kecamatan Brebes Drs H Moh Robikhun MAg didaulat menakhodai PGRI Cabang Khusus Kabupaten Brebes periode 2015-2020.
Robikhun menggantikan Dra Hj Chulasoh MPd setelah terpilih secara voting dalam Konferensi cabang khusus di Aula MTs Negeri Brebes, Sabtu (8/8/2015).

Robikhun berhasil mendapatkan 9 suara dari 17 suaran yang diperebutkan. Sementara rivalnya Drs Ahmad Shofi mendapatkan 5 suara dan H Sudardjo mendapatkan 3 suara.

Dengan demikian pria kelahiran Siwuluh, 22 September 1969 ini harus menjalankan program dan mengantarkan PGRI dilingkungan Kementerian agama di Kabupaten Brebes. Dia didampingi sekretaris Drs Ahmad Shofi dan Bendahara H Maskuri serta 12 seksi bidang.

Dalam programnya, ayah dari Puteri Awaliatus Shofro, An’im Al Ghiffari shoffro dan Saskia Maulida ingin mengantarkan anggota PGRI di cabang khusus ini lebih sejahera.

Menurutnya, di PGRI Cabang khusus memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berorganisasi profesi.

“Tidak ada perbedaan antara hak dan kwajiban anggota dengan teman-teman guru lain yang tercatat di kementerian pendidikan,” terang Robikhun.

Untuk itu, dalam programnya dia akan terus berkonsolidasi dengan anggota dan pembentukan ranting ditiap-tiap satuan kerja.
“Kalau sekolah tersebut ada 20 anggota maka bisa dibentuk satu ranting,” ucap Robikhun yang juga Ketua MWC NU Bulakamba.

Diterangkan, hingga saat ini, anggota yang tergabung dalam Cabang khusus ada 521 orang sedangkan sebelumnya hanya ada 460 orang. “Alhamdulillah terdapat peningkatan anggota,” tutur suami dari Hj Sofuah ibni H Syatori.

Perjuangkan GTT,GTY,TTT Masuk PGRI

Untuk sementara, yang tergabung dalam PGRI cabang khusus baru guru dan TU yang sudah PNS. Sementara Guru Tidak Tetap (GTT), Guru Tetap Yayasan (GTY) maupun Tenaga Tidak Tetap (TTT) belum masuk jadi anggota PGRI Cabang Khusus karena terkendala besarnya iuran yang harus ditanggung oleh anggota. Padahal, guru dan TU yang ada di kementerian agama dari RA, MI, MTs, MA mencapai belasan ribu.

“Bahkan mayoritas, guru-guru di kementerian agama berada dibawah yayasan yang nota bene mereka adalah guru-guru dan TU swasta,” paparnya.

Permasalahan ini, akan dibawa ke PGRI Kabupaten maupun Provinsi dan Pengurus Besar, agar keberadaan mereka tetap diakomodir dengan tidak dikenakan iuran ataupun dengan solusi terbaik lainnya dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Sehingga bisa menjadi anggota yang aktif.

“GTT, GTY, TTT pada hakekatnya sama-sama guru dan memperjuangkan pendidikan anak-anak bangsa,” pungkasnya. (ILMIE)

Posted in: Pendidikan, Serba Serbi