Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 27 October 2015 Read More →

Sumpah Pemuda dan Semangat Jiwa Nasionalis Patriotik

sumpah

Oleh : Amri Hariri

Tanggal 28 Okober 2015 merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia membangun landasan utama gerakan nasional dalam upaya mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI).

Tidak dapat dipungkiri pada 28 Oktober 1928 seluruh pemuda mecita-citakan kedaulatan NKRI. Seluruh pemuda tanah air dari kota Sabang hingga Merauke yang tergabung dalam jong – jong mewakili daerahnya berdatangan ke Batavia (Jakarta) untuk mengikuti Kongres Pemuda II.

Jiwa Sumpah Pemuda

Ya! Sumpah Pemuda sebagai wadah pemersatu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Mereka sadar betul terhadap apa yang dilakukanya, sadar bahwa mereka berbeda suku, agama, ras, dan bahasa daerahnya namun tetap bersatu demi mewujudkan cita-cita persatuan dalam satu tatanan negara berdaulat bernama Indonesia. Akhirnya setelah lahirnya sumpah pemuda, tepatpada 17 Agustus 1945 bangsa ini lahir sebagai bangsa yang “merdeka”.

Bagaimana pun, NKRI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 merupakan konsesus nasional yang mengikat seluruh komponen bangsa sekaligus bukti sebagai kekuatan perekat pemersatu pembangunan bangsa.

Disini pembangunan bangsa perlu adanya jiwa pemenang (nasionalis-patriotis) yang harus dipupuk sejak dini, hal ini menjadi sangat penting mengingat persoalan perang global atau kebijakan global yang sedang dihadapi bangsa ini tidak lah bisa disikapi dengan “biasa”.

Kita lihat dengan adanya kebijakan global ini banyak negara-negara berkembang menjadi korban salah satunya Indonesia, akibatnya di beberapa wilayah bagian Indonesia lahirlah gerakan-gerakan sparatis yang bervisi ingin melepaskan diri dari wilayah NKRI.

Gerakan-gerakan sparatis yang sedang gencar-gencarnya mambangun dukungan internasional seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga berambisi melepaskan daerahnya dari NKRI.

Jika kita cermati bersama hal ini tentu merupakan wujud dari kelemahan pemuda bangsa dalam memaknai sumpah pemuda, menganggap bahwa pribadi serta daerahnya tidak masuk dalam bagian (sejarah) NKRI, itu artinya sumpah pemuda dengan jiwa nasionalis-patriotis yang dimiliki pemuda zaman dulu sudah mulai terkikis.

Menumbuhkan jiwa nasionalis-patriotis tentulah tidak semudah membalikan telapak tangan karena ia sangat erat dengan pembangunan karakter (sikap budi pekerti/akhlak) kepribadian bangsa yang merdeka, unggul, dan berdaulat. Karakter seorang garong (koruptor), tentu berdeda dengan karakter seorang pemenang, disinilah fokus perubahannya.

Bangsa yang besar ini membutuhkan karakter pemuda-pemuda pemenang bermental baja. Pemuda dalam artian disini tentu tidak hanya mereka yang hidup pada usia muda namun juga orang tua yang tetap memiliki semangat kepemudaan. Mulai dari ketua RT, ketua RW, kepala desa, camat, bupati, gubernur, walikota, DPR, MPR, menteri, presiden dan aparatur pemerintah lainnya.

Tumbuhkan semangat Trisakti

Saat ini yang paling mugkin untuk dilakukan pemuda selain menumbuhkan kembali semangat nasionalis-patriotis adalah mendukung dan mewujudkan konsep Trisakti Bung Karno yang mulai dibangun lagi dimasa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, yakni: berkedaulatan dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Melihat konsep pertama berkedaulatan dalam politik, pemuda harus mampu menjadi pelopor bangsa dalam berdaulat, tidak mudah didikte oleh bangsa manapun, melepas diri dari bangsa-bangsa imperialis dan kembali menerapkan politik aktif guna menciptakan perdamaian dunia seperti yang dicita-citakan Soekarno.

Semboyan “NKRI harga mati” harus dibuktikan, mengingat dewasa ini gerakan-gerakan sparatis dan atau organisasi-organisasi asing yang mengatasnamakan HAM membela dan mendukung gerakan sparatis.

Masih hangat dalam ingatan kita sejarah kelam lepasnya wilayah Timor Timur dari pelukan NKRI. Kemerdekaan Timor Timur mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat, Australia, dan sekutu-sekutunya. Akhirnya, NKRI harus merelakan kepergian Timor Timur, sekarang menjadi Negara Republica Democratica de Timor Leste. Apakah kedepan NKRI akan kembali kehilangan wilayahnya?.

Kedua berdikari dalam ekonomi, pemuda hari ini harus menjadi pelopor dalam mengembangkan ekonomi kreatif dan menciptakan lapangan kerja sendiri sehingga diharapkan mampu melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi barat yang kapitalis.

Ketiga berkepribadian dalam kebudayaan, pemuda harus sadar bahwa saat ini bangsa ini sedang krisis identitas dan krisis budaya. Degradasi moral muda-mudi yang semakin hari semakin manghawatirkan dengan semakin terkikisnya nilai-nilai pancasila sebagai identitas bangsa.

Maka solusi yang mungkin dilakukan oleh pemuda adalah dengan ikut berpartisipasi dalam melestarikan kebudayaan daerah. Bahkan jika bertindak lebih extreme adalah dengan memboikot seluruh produk barat seperti yang pernah dilakukan oleh Soekarno pada masa kepemimpinannya.

Sebagai bangsa yang besar, cerdar juga kaya dengan kebudayaan tentu hal ini menjadi pembelajaran bersama. Bangsa ini harus kuat. Bangsa ini harus hebat. Bangsa ini harus bergerak. Bangsa ini harus berani melawan. Sudah saatnya pemuda-pemuda bangsa bangkit dengan semangat nasionalis-patriotis guna menjadi bangsa yang mandiri, bermartabat dan menjadi negara yang diperhitungkan dunia.

*) Amri Hariri Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan kalijaga Yogyakarta dan aktif diorganisasi Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) Wilayah Yogyakarta.

Posted in: Opini