BrebesNews.Co 4 December 2015 Read More →

Lewat Penjualan Online, Bawang Goreng Rudiyati Rambah Jabodetabek

Foto1220

Rudiyati dengan produk bawang goreng barunya yang menggunakan plastik foil ukuran 50 gram dan 100 gram

BREBESNEWS.CO – Berkat penjualan online, kini produksi bawang goreng buatan Rudiyanti (42), warga Desa Siwuluh RT 01 RW 4 Kecamatan Bulakamba ini, bisa merambah ke Jabodetabek ( Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi dan sekitarnya).
Penjualan lewat online ini bahkan mampu mendongkrak penjualan bawang gorengnya hingga ratusan prosen.

“Dulu penjualan hanya sekitar lokal Brebesan saja, namun dengan bantuan anak saya yang memasukan ke Tokopedia, kini pemesan datang dari Jakarta dan sekitarnya, bahkan sempat ada dari luar Jawa seperti Maluku,” ujar Rudiyati saat di temui BREBESNEWS.CO di rumahnya, Jumat lalu (27/11/2015).

Menurut Rudiyati, produk bawang gorengnya sebelum di masukan penjualan lewat online hanya bisa laku 20 toples per bulannya. Namun kini selama 6 bulan pasca penjualan online angka penjualan bisa mencapai 1000 toples perbulannya.

“Alhamdulillah, sekarang penjualannya sudah mencapai 1000 toples. Harga per-toples dengan berat berkisar 200 gram di hargai 20.000 rupiah. Sedang untuk pemesan dari luar daerah biasanya akan di kutip tambahan pengiriman paket tergantung jauh dekatnya wilayah pemesan,” ujarnya lagi.

Bawang goreng buatan Rudiyati yang ber cap Dua Putra ini juga sudah terdaftar PRIT(produk pangan industri rumahan) dari Dinas Kesehatan Brebes dengan nomor registrasi 2113329010043-20.

Modal 1 juta rupiah

Berdasarkan penuturan Rudiyati, usaha bawang gorengnya belum lama di rintis, yakni sekitar 2 tahun lalu. Awalnya dia merasa prihatin saat harga bawang merah sebagai produk utama pertanian di Brebes harganya jatuh hingga pada kisaran 4000 rupiah.

Dari keprihatinan inilah dirinya berfikir untuk memanfaatkan nilai lebih penjualan bawang. Lalu dengan modal seiktar 1 juta rupiah dirinya memulai usahanya berupa bawang goreng.

Rudiyati menceritakan dengan modal yang tidak begitu besar, dirinya memulai usahanya dengan peralatan sederhana, yakni dengan alat rajang bawang yang saya digunakan berharga 30 ribu dengan tenaga tangan.

Selanjutnya dengan sedikit kemajuan pemesanan produksinya, Rudiyati menggunakan alat rajangan bawang kapasitas agak besar seharga 200 ribu rupiah.

Lalu seiring dengan bertambahnya pesanan terutama setelah produknya di pasarkan lewat Tokopedia, hingga kini dirinya menggunakan alat rajang seharga 2 juta rupiah dengan tenaga dinamo.

“Dulu awal-awalnya pengerjaan produksi bawang dengan sederhana sekali. Malah untuk pengeringnya usai bawang di goreng hanya di kipas angin saja,” aku Rudiyati.

Namun seiring dengan kemajuan produksinya, pengering bawangnya usai di goreng menggunakan spiner.

“Dengan alat pengering ini hasil bawang gorengnya menjadi terasa renyah dan baunya wangi khas bawang Brebes,” ujar ibu dua anak ini.

Selain itu, menurut Rudiyati bawang goreng produksinya juga bisa bertahan selama 6 bulan.

Jaga kualitas

Untuk menjaga kualitas bawang gorengnya Rudiyati mengaku bukan menggunakan minyak sayur kiloan atau yang drum-an, namun menggunakan minyak goreng botol kemasan yang biasa di jual di toko maupun minimarket.

“Produk bawang goreng saya mengutamakan mutu, biar mungkin untung tipis dengan penggunaan minyak sayur botol kemasan, namun kulitas nya tetap terjaga,” ujar Rudiyati memberi alasan.

Untuk kebutuhan minyak sayur perhari dirinya menghabiskan sekitar 12 liter untuk memproduksi bawang 50 kilogram (setengah kwintal).

“Dari bahan mentah bawang merah seberat 50 kilogram atau ½ kwintal ini akan menjadi bawang goreng sekitar 15 kilogram,” terangnya lagi.

Menurutnya bawang goreng yang diproduksinya juga bebas campuaran seperti mungkin yang di produksi lainnya, seperti campuran pakai kol, umbi-umbian dan lainnya untuk memperberat timbangan. Sementara untuk menambah aroma ras gurih, dia hanya mencampur bawang gorengnya dengan garam dapur saja.

Kerjakan 10 orang

Lewat kegiatan produksi bawang goreng yang ditekuninya, setidaknya Rudiyanti kini mempekerjakan 10 orang karyawan yang semuanya ibu-ibu rumah tangga seputar tetangga rumahnya. Mereka dipekerjakan sebagai pengupas kulit bawang sebelum di rajang.

“Pembayaran karyawan sesuai borongan. Untuk 1 kilo bawang yang dikupas, karyawan akan di upah sekitar 2000 rupiah. Jadi tergantung berapa berat yang bisa dilakukan oleh karyawannya tidak sama,” tukas Rudiyati.

Rudiyati yang bersuamikan Aam Kasmuri (45) dan di karuniai dua putra yakni Adhil Risalah (18) dan Lugas Mulia Hafidz (11)
ini mengaku tidak merasa terganggu dengan usaha produk bawang gorengnya, meski harus mengurus rumah tangga sekaligus mengurus usahanya.

Bagi yang mau pesan bawang gorengnya, Rudiyati menyebutkan bisa lewat ponselnya, 081542223236 atau bisa buka Tokopedia kolom UMKM.

Saat ini dia juga tengah mengembangkan produk bawang gorengnya dengan kemasan plastik foil dengan isi 50 gram dan 100 gram. (AFIF.A)