Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 17 January 2016 Read More →

Memotong Mata Rantai Narkoba

wanto

Oleh : Suwanto
Alumni SMA N 2 Brebes
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan
FAIB UIN Sunan Kalijaga dan
PPs Pendidikan Kimia UNY

Lembar 2016 baru saja digelar, demikianpun gerbang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) baru saja dimulai. Banyak problem bangsa Indonesia yang harus segera diselesaikan guna menghadapi moment ini. Salah satunya, membebaskan bangsa ini dari jeratan narkoba. Kalau tidak diantisipasi sejak awal, bisa jadi MEA menjadi bumerang bagi Indonesia, dimana narkoba bebas berkeliaran. Oleh karenanya, sudah saatnya Indonesia terbebas dari Narkoba di tahun 2016 ini.

Masyarakat kita sudah jenuh dengan pemberitaan di media massa terkait kasus narkoba. Surat kabar, internet, radio, dan televisi seolah-olah tidak pernah sepi menyajikan berita ini. Yogyakarta yang berpredikat sebagai kota pelajar justru menjadi target empuk para pemasok obat terlarang ini.

Ada sejumlah wilayah di Indonesia yang perlu diwaspadai dan dijaga dengan ketat agar tidak menjadi jalur pintu masuk penyelundupan narkoba jaringan internasional, seperti bandara dan pelabuhan.

Selain itu, wilayah pesisir pantai utara dan selatan juga patut diwaspadai. Meskipun belum banyak terungkap, tetapi di daerah lain beberapa sudah terjadi lewat jalur ini.

Sasaran penyelundupan dan pengguna narkoba dewasa ini agaknya sudah tidak lagi mengenal batasan usia ataupun pekerjaan.

Mulai dari remaja, pemuda, sampai orang tua. Pelajar, mahasiswa, para pekerja, ataupun pengangguran semua potensial menjadi target bidikan gembong narkoba. Bahkan beberapa artis dan public figure ternama Indonesia ikut terjerumus ke dalam jeratan narkoba, baik sebagai pengguna maupun penyelundup.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan marak terjadinya penyelundupan narkoba:

Pertama, sulitnya mencari pekerjaan yang menyebabkan tingginya tingkat pengangguran. Kondisi ini diperparah tidak hanya kemiskinan secara finansial akan tetapi juga kemiskinan moral. Sehingga, pelariannya yaitu menjadi penyelundup narkoba yang dianggap dapat mendatangkan banyak uang.

Kedua, kurangnya pengawasan terhadap kelompok yang rawan sebagai penyalaguna narkoba. Selama ini, pemerintah dan penegak hukum hanya fokus mengawasi para penyelundup narkoba saja, tanpa memperhatikan kelompok yang rentan terhadap narkoba, khususnya para remaja ataupun pelajar. Mereka tentunya lebih mudah terpengaruh narkoba karena emosinya masih labil.

Ketiga, lemahnya penegakan hukum. Penegak hukum selama ini dianggap lamban dan kurang tegas dalam menangani kasus narkoba. Padahal Indonesia telah mengatur secara jelas ke dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, akan tetapi pelaksanaannya kurang sesuai.(*)

Posted in: Opini