Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 31 January 2016 Read More →

Menanamkan Disiplin Anak di Era Digital

B612-2015-12-08-08-02-36

Oleh : Jurotun Nisa (Losari Brebes)
Jurusan : PGSD Universitas Muhammadiyah Cirebon Jawa Barat

Bagi orang tua yang mempunyai anak dua tahun lalu, atau katakanlah saat smart phone atau dunia gadget belum begitu mudah di dapat, mungkin mendidik dan mendisiplinkan anaknya tidak begitu berat. Pasalnya saat itu untuk anak perempuan mungkin mainan yang akrab hanya bola bekel atau lompat tali.

Sementara untuk anak laki-laki permaiannnya hanya seputar mainan kelereng ataupun layang-layang. Dan itupun waktunya bisa ditentukan paling antara pagi-sampai sore, atau sepulang sekolah sampai menjelang maghrib. Orang tuapun bisa mengontrol dengan mudah perkembangan dan displin anak-anaknya.

Namun seiring dengan perkembangan jaman, dimana era gadeget sudah mempengaruhi perkembangan anak (baik perempuan ataupun laki-laki) kini waktu anak-anak tidak lagi bisa dikontrol sepenuhnya.

Hal ini karena permainan gadget, baik anak bermain Gym maupun menggunakan media sosial berupa BBM, Watshap ataupun Facebook, menjadikan anak kadang lupa waktu, baik waktu belajar ataupun waktu lainnya seperti ber-ibadah. Hingga untuk menerapkan displin keluarga kadang orang tua merasa kesulitan.

Untuk mengurai pemasalahan ini, ada baiknya orang tua bisa mengerti tentang konsep disiplin hingga tidak salah arah untuk mendidik anak terutama di dalam lingkungan keluarga.

Arti Disiplin dan Penerapannya

Apakah disiplin itu? Disiplin pada anak terlihat bilamana pada anak ada pengertian-pengertian mengenai batas-batas kebebasan dari perbuatan-perbuatan yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Disiplin ini ditanamkan oleh orangtua sedikit demi sedikit.

Kadang-kadang diperlukan sikap dan tindakan otoriter agar anak mengerti dan bisa mengembangkan dengan sendirinya hal-hal yang diperlukan untuk bisa mengurus diri sendiri (self governing) dan menyesuaikan diri dengan tata cara kehidupan yakni norma-norma dan nilai-nilai yang ada.

Elizabeth B. Hurlock menerangkan disiplin sebagai suatu proses dari latihan atau belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan. Seseorang dikatakan telah berhasil mempelajari kalau ia bisa mengikuti dengan sendirinya tokoh-tokoh yang telah mengajarkan sesuatu yaitu orangtua atau guru-guru.

Apa yang dipelajari akan mengarahkan kehidupannya agar bisa bermanfaat bagi dirinya maupun masyarakat dan menimbulkan perasaan bahagia dan sejahtera.

Mendisiplin anak bukanlah bertujuan agar anak menjadi seorang yang penurut, meskipun bisa saja pada permulaan memperkenalkan atau menanamkan disiplin diperlukan sikap otoriter supaya anak menurut, lambat laun apa yang ditanamkan atau ditumbuhkan itu harus menjadi dari tingkahlakunya sehari-hari.

Contoh: anak dilarang keluar bermain, tetapi didalam rumah ia tidak melakukan apa-apa dan tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka. Orang tua hendaknya mengarahkan anak untuk mengembangkan pola-pola kebiasaan yang baik.

Kebiasaan-kebiasaan baik tersebut harus sudah dilatih terus-menerus sejak usia dini, misalnya anak dibiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, mematuhi jadwal bermain dan bermain, tidur dan bangun pagi secara teratur, dan sebagainya.

Hal ini perlu, sebab setiap kebiasaan dan pola perilaku yang terbentuk pada masa kanak-kanak akan banyak mempengaruhi kebiasaannya kelak ketika dia dewasa. (*)

Posted in: Opini