Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 26 January 2016 Read More →

Nabi Muhammad SAW Juga Seorang Guru

rozak

Oleh : M Fatkhur Rozak
(ketua bidang sosial dan keagamaan KPMDB wilayah Jakarta dan tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana Institut PTIQ Jakarta)

Tidak ada tugas yang lebih mulia dari pada tugas seorang guru. Sebab, ditangan guru nasib generasi muda dipertaruhkan, bahkan maju mundurnya bangsa ini bergantung pada guru. Guru bertugas mengajar, mendidik, membimbing, dan melatih siswa menjadi manusia yang berguna bagi diri dan orang lain.

Karena peran yang sangat penting itulah, maka guru harus harus berwawasan luas. Ia harus mengusai metode, teknik, serta strategi dalam mengajar , mendidik, membimbing, dan melatih para siswa. Dan demikian, ia dapat menghantarkan anak didiknya menjadi pribadi yang sukses dan berhasil di dunia hingga akhirat.

Muhammad sang guru

Sebagai Nabi dan Rasul yang sukses membawa misi dakwah dan pendidikan tentu Nabi Muhamad mempunyai metode untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Kita telah mengetahui fakta bahwa Nabi Muhammad SAW juga adalah sosok guru teladan, guru paling sempurna, guru sejati. Sangat banyak hal dari sifat beliu yang dapat menanjadi inspirasi bagi kita dalam mengajar.

Afazlur Rahman dalam bukunya Ensiklopedi Muhammad menjelaskan Diantara metode yang digunakakan oleh Nabi Muhammad ketika berdakwah dan mengajar adalah;

Menepatkan diri sebagai sahabat, menepatkan diri sebagai seorang sahabat adalah metode yang selalu digunakan oleh Nabi Muhammad SAW, Beliau tidak pernah meminta dipanggil “guru” , sebaliknya beliau pun tidak pernah memangilnya para “murid”. Justru beliau mengunakan istilah “sahabat” dengan menganggap mereka sebagai rekan yangsetara dan tidak bersikap menggurui, beliau menciptakaan kondisi kejiwaan yang kondusif bagi para muridnya untuk belajar.

Lemah lembut dan santun, Al-quran menyebutkan banyak kisah nabi yang memberi peringatan (indzar) bagi kaum yang tidak beriman, tetapi tidak satupun dari Nabi mengunakan kata-kata kasar dalam menghadapi hinaan dan celaan kaumnya.

Memudakan tidak mempersulit, Nabi SAW, selalu menyampaikan materi dengan baik sehingga tidak membani orang yang mendengarkan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi , “ permudahlah, jangan persulit. Gembirakanlah, jangan membuat manusia lari” (HR Bukhori )

Tidak mempermalukan murid,ini adalah metode yang biasa dipakai Nabi saw, yaitu jika kebetulan mendapati orang berbuat suatu kesalahan, belio tidak mempermalukan dan menghinanya dengan menunjuk orang tersebut secara langsung. Beliau menjelaskan perbuatan salah itu kepada khalayak sehingga semua orang, termasuk orang yang sebenarnya melakukan kesalahan itu, akan menghindari berbuat serupa di kemudian hari.

Tidak mencari-cari kesalahan murid, seruan dakwah yang dilakukan Nabi adalah mengajak bukan mencari-cari kesalahan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman!jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu ada yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?tentu kamu merasa jijik, dan bertawakalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima Taubat, maha penyayang, (QS Al-hujurat {49}: 12 )

Memberi hadiah kepada murid, Jabir ibn Abdullah, yang waktu itu masih kanak-kanak melaksanakan sholat zuhur berjamaah (dalam riwayat yang lain, shalat ashar-ed), bersama Rasulullah Saw. Dan berapa sahabat cilik lainya, sesuai shalat, Rasulullah memperlihatkan sebuah mangkuk yang berisi manisan kepada para sahabat cilik lainya.

Sesuai shalat, Rasullulah memperlihatkan sebuah mangkuk yang berisi manisan kepada para sahabat cilikitu, beliau pun mulai menyuapi mereka satu persatu.

Setelah Nabi menyuapi Jabir dengan satu suapan, beliau bertanya, “ingin tambah lagi?” Jabir menjawab “Ya”, “maka, Nabi menyuapi satu suapan, lalu bertanya, “ingin tambah lagi?” Jabir kembali menjawab. “ya” Nabi pun menyuapi lagi dengan satu suapan, beliau terus menyuapi para sahabatnya hingga manisan itu habis tak tersisa.

Demikianlah bebapa metode yang sering digunakan Nabi Muhammad Saw ketika berdakwah dan mengajar, sehingga mampu menghantarkan beliau sebagai salah satu Nabi yang sukses dalam mengemban amanah sebagai guru besar umat islam. Wallahu a’alam. (*)

Posted in: Opini