Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 1 February 2016 Read More →

338 Tahun Brebes : Mengejar Ketertinggalan di Usia “Lanjut”

agung

Oleh : Yuliyanto Agung Prabowo

(Warga Sisalam Kecamatan Wanasari Brebes
Alumnus ITS Surabaya, Kini Sedang Melanjutkan S2 di ITS, Jurusan Tekhnik Elektro)

Beberapa minggu yang lalu kabupaten Brebes telah memperingati hari jadinya yang ke-338. Usia tersebut sudah tergolong sangat “lanjut” untuk umur sebuah daerah. Semenjak berdirinya pada tanggal 16 Januari 1678 dengan bupati pertamanya Tumenggung Arya Suralaya, kabupaten ini telah mengalami perkembangan kondisi sosial masyarakatnya hingga saat ini.

Dalam momentum hari “lahir” ini perlu kiranya untuk berfikir sejenak seberapa jauh perkembangan yang telah terjadi di kabupaten ini.

Salah satu yang dapat menggambarkan kondisi sebuah daerah yaitu menggunakan nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia). IPM merupakan sebuah penilaian yang menunjukan tingkat kehidupan masyarakat di suatu daerah.

Secara umum penilaiannya terdiri dari faktor fisik dan non fisik. Faktor fisik meliputi kondisi kesehatan berupa nilai angka harapan hidupdan kondisi ekonomi berupa nilai angka pengeluaran rill perkapita, sedangkan faktor nonfisik meliputi kondisi pendidikan berupa nilai angka melek huruf serta rata – rata lama sekolah.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tentang penilaian IPM kabupeten Brebes dari rentang waktu tahun 1996sampai 2014 menunjukkan, bahwa kabupaten ini mempunyai nilai IPM terendah dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Kenyataan ini memberikan gambaran, bahwasecara umum kondisi masyarakat masih sangat memprihatinkan dari segi kesehatan, pendidikan dan ekonomi selama beberapa tahun belakangan ini. Walaupun dalam setiap periode tahun berjalan memang trend nilainya mengalami kenaikan, namun tetap saja selalu menempati peringkat terbawah diantara kabupaten/kota lainnya karena yang lainnya juga mengalami kenaikan.

Mengejar Ketertinggalan

Dalam usia yang sudah menginjak 3 abad lebih ini, saatnya untuk berbenah, berfikir mendalam terhadap segala sesuatu yang terjadi selama ini. Sebagai kabupaten yang memiliki luas wilayah terbesar ke-2 di Jawa Tengah dengan segala potensi kekayaan sumber daya alam sudah semestinya dapat mengejar segala ketertinggalan terhadap daerah lainnya.

Pengelolaan secara optimal sumberdaya tersebut dengan pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta fasilitas infrastruktur yang memadai dalam mempermudahakses pemasaran akan dapat meningkatkannilai ekonomis.

Posisi georgrafis yang strategis diantara dua kota besar Cirebon dan Tegal sebenarnya juga mempunyai potensi besar dalam nilai ekonomis. Kedua daerah tersebut salah satu yang menyandarkan geliat ekonomi pada perdagangan dan industri.
Dalam konteks ini terdapat peluang untuk menumbuhkan sektor industri ke daerah sekitarnya, dalam hal ini Brebes ketika sudah mengalami kepadatan pada kedua daerah tersebut.

Selain itu, posisinya yang terletak dilewatijalur “urat nadi” ekonomi Indonesia yaitu jalur pantura, mempunyai keuntungan dalam akses terhadap pemasaran produk.

Potensi ini secara langsung berpeluang besar untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat serta dapat digunakan untuk pembangunan daerah yang maksimal.Akan tetapi, potensi tersebut dapat dioptimalkan, apabila keadaan sumber daya manusia yang unggul.

Tanpa ini, potensi tersebut hanya akan terbengkalai atau bahkan dioptimalkan oleh pihak lain. Pendidikan merupakan yang harus diprioritaskan dalam setiap proses pembangunan.

Pengalaman Jepang dapat bangkit dari kehancuran akibat kekalahan dalam perang dunia 2 dapat menjadi pelajaran besar, dimana mereka menfokuskan diri pada dunia pendidikan. (Seperti kita ketahui saat bom atom meletus di Hiroshima dan Nagasaki yang keluar dari kata-kata Kaisar Jepang yakni berapa guru yang tersisa dari tragedi ini).
Pendidikan adalah jalan untuk dapat berlari kencang mengejar ketertinggalan.

Kebijakan Pemda Brebes

Peran pemerintahdaerah dalam peningkatan kualitas pembangunan manusia sangat dominan. Dalam hal ini, pemeritah daerah andil bagian besar dalam rumusan kebijakan yang peduli terhadap perbaikan kondisi tersebut.

Pada peningkatan kondisi pendidikan berhubungan dengan pembangunan prasarana dan sarana serta kemudahan akses bagi warga masyarakat dalam bidang pendidikan, termasuk dalam kualitas dan ketersediaan tenaga pendidik.

Perbaikan tersebut tidak hanya terbatas dalam tingkatan pendidikan dasar dan menengah, tetapi sampai kepada pendidikan tinggi, apalagi sekarang sudah berdiri perguruan tinggi. Pemberdayaan sumber daya manusia yang potensial dengan memberikan kesempatan berkarya untuk daerahnya juga perlu dilakukan.

Kebijakan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan juga dilaksanakan hampir sama dengan pendidikan dengan tersedianya prasarana dan sarana serta kemudahan akses bagi warga masyarakat disertai dengan penyuluhan kesadaran kepada masyarakat mengenai hidup sehat. Dalam perbaikan kondisi ekonomi masyarakat dilakukan dengan pembangunan infrastruktur untuk mempermudah kegiatan ekonominya, serta insentif keuangan yang dapat menstimulus kegiatan ekonomi.

Mencadi catatan besar adalah kebijakan yang dilaksanakan bukan berupa kebijakan berbasiskan pada “proyek”, namun kepada kualitas kebijakan, dimana hal ini memerlukan komitmen dan kerja keras dari pemerintah daerah.

Kesadaran Masyarakat

Mengejar ketertinggalan akan dapat berjalan dengan baik bukan saja dikarenakan peran pemerintah daerah. Akan tetapi, peran dari dukungan masyarakat berupa kesadaran juga penting. Dalam hal ini adalah kesadaran terhadap pendidikan dan kesehatan.
Kesadaran akan terbentuk jika masyarakat memang sudah mengetahuitentang kondisi yang sebenarnya terjadi dan adanya keinginan untuk berubah.

Pola pikir yang terbentuk selama ini terjadi karena tidak adanya informasi yang sampai kepada masyarakat mengenai akibat mengesampingkan pendidikan dan kesehatan, sehingga diperlukan upaya “kampaye” dari pemerintah untuk membutuhkan kesadaran ini.

Jika telah terbentuk kesadaran ini, maka setiap kebijakan dari pemerintah akan senantiasa dilaksanakan dengan baik oleh masyarakatnya.

Memang tiada batasan usia suatu daerah untuk dapat berkembang dan maju dengan pesat. Hanya kemauan besar dari pemerintah daerah dan kesadaran masyarakat lah yang dapat menentukan kapan kondisi ini dapat terjadi.

Jika ternyata semua sudah sadar, bahwa selama ini sudah jauh tertinggal dengan daerah lain, maka sudah saatnya berlari kencang mengejar ketertinggalan tidak perduli usia sudah “lanjut”.[]

Posted in: Opini