Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 2 March 2016 Read More →

Adat Ngasa, Revolusi Mental Ala Jalawastu

jalawastu

Permainan gasing saat upacara Ngasa di Jalawastu Dusun Cieseureh Kecamatan Ketanggungan Brebes

BREBESNEWS.CO – Upacara adat Ngasa setiap Selasa Kliwon yang dipertahankan oleh komunitas adat Dukuh Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes mengandung nilai-nilai revolusi mental.

Hal tersebut, karena didalamnya terdapat nilai kejujuran, saling bergotong royong dan taat beribadah serta tetap kukuh sebagai penjaga lingkungan.

“Nilai-nilai kesahajaan, rasa syukur, gotong royong, taat beribadah dan menjadi penjaga lingkungan merupakan contoh kongrit revolusi mental yang tergambar dalam upacara adat ngasa,” ujar Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Sri Hartini, saat mengikuti upacara adat ngasa di Dukuh Jalawastu, Desa Ciseureuh, Ketanggungan Brebes, Selasa kemarin (1/3/2016).

Kebudayaan yang dibangun masyarakat Jalawastu, lanjutnya, menjadi ruh bagi pembangunan bangsa. Juga perilaku anak-anak jalawastu yang tetap mempertahankan permainan tradisional, menjadikan mereka memiliki jiwa yang kokoh, termasuk mengakui kekalahan dan kemenangan ketika bertanding.

“Ada dua hal yang sesungguhnya kita sulit menemukan di era digital ini, yakni kebersamaan dan kesederhanaan. Padahal keduanya bisa menyelamatkan masyarakat dari generasi ke generasi,” ujar Hartini.

Betapa kita terkejut, sambungnya, saat ini, masyarakat kita telah dininabobokan dengan perkembangan teknologi informasi seperti gutget, tetapi sesungguhny telah memberangus kebudyaan kita yang adiluhung.

Oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata Hartini, komunitas adat ini mendapat bantuan revitalisasi masyarakat adat sebesar Rp 480 juta.

Bantuan itu diberikan pada tahun 2015 dan telah diujudkan pemberdayaannya untuk pengembangan balai budaya, pemagaran situs Gedong Pesarean, pembangunan saung singgah, dan gapura kampung budaya Jalawastu.

Bangunan tersebut diresmikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti dengan menggunting pita yang melintang di pintu masuk dan penandatangan prasasti.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Brebes Amin Budi Raharja menjelaskan, Dukuh Jalawastu telah sejajar dengan masyarakat adat lainnya yang telah dikenal lebih dahulu di Indonesia, seperti kaum Samin, masyarakat tengger Banyumas dan lain-lain.

Jalawastu mampu mencerminkan kesadaran masyarakat akan keberagaman budaya dan tradisi di Kabupaten Brebes. Betapapun kampung adat merupakan living culture yang berperan dalam pembentukan identitas sosial.

Jalawastu merupakan komunitas masyarakat di lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara yang melestarikan tradisi Sunda Jawa. Pedukuhan tersebut, telah terpelihara ratusan tahun lamanya dengan memegang teguh upacara adat budaya Ngasa yang digelar setiap Selasa Kliwon mangsa kasanga setiap tahunnya.

Sebagaimana terlihat pada Selasa 1 Maret 2016, sejak pukul 05.00 wib, bada subuh, puluhan ibu-ibu menggendong cepon dengan tangan kanannya menjinjing rantang seng, menyusuri bebukitan gunung kumbang Brebes. Mereka bergegas menuju Dukuh Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes dimana akan digelar upacara adat Ngasa.

Pantang makan nasi, daging dan ikan

Lelaki tua yang disebut juru kunci Pesarean Gedong Makmur, beserta tetua lainnya dengan berpakaian putih-putih menyusul dibelakang rombongan ibu-ibu pembawa makanan.

Menurut penuturan Pemangku adat setempat Dastam menjelaskan, masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan. Yang tersedia adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai makanan pokoknya dengan lauk lalapan dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal dan dedaunan lainnya.

Begitupun dengan piring dan sendok yang digunakan tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan.

Upacara adat Ngasa ini telah dilaksanakan oleh warga secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Upacara ini sebagai simbol tanda terimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa atas segala nikmat yang telah dikaruniakan.

“Seperti di daerah pantai ada sedekah laut, di tengah-tengah ada sedekah bumi. Kami yang disini boleh dikata sebagai sedekah gunung,” ujar Dastam.

Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon pada Mangsa Kesanga. Gelaran Ngasa ini diadakan dalam kurun satu tahun sekali. Kali pertama, Ngasa digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes IX Raden Arya Candra Negara.

Ngasa berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Batara sendiri mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa.

“Semua itu, sebagai kebaktian kepada Batara,” imbuh Dastam. (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi