BrebesNews.Co 14 April 2016 Read More →

Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Islam

fhoto rozak

Oleh : M Fatkhur Rozak
Penulis adalah pemuda dari desa Dawuhan,Sirampog, Brebes.

Salah satu sumbangan besar yang ditorehkan Nabi Muhammad SAW kepada dunia adalah konsep tentang bagaimana caranya membangun dan memperdayakan masyarakat Madinah pada masa itu.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, garapan besar yang pertama dilakukan yaitu membangun basis sosial-politik masyrakat Madinah berdasarkan nilai-nilai baru. Nilai- nilai ini terangkum dengan singkat, padat, jelas dan mendalam pada hadits berikut.

“Wahai sekalian manusia ! Sebarkan salam (kedamaian, keselamatan), berilah makan, hubungkanlah cinta-kasih kekeluargaan, dan tatkala orang-orang nyenyak tidur sholatlah pada waktu malam. Niscaya kalian akan masuk surga, penuh damai dan keselamatan”. (HR Tirmidzi )

Hadits ini boleh dibilang semacam pidato politik yang diberikan oleh sang pemimpin baru kota Madinah. Hadis singkat ini mengandung konsekuensi-konsekuensi yang luas. Diantara pelajaran yang bisa diambil dari khadits diatas adalah sebagai berikut:

Pertama, Afsyu al-salam, (Sebarkan Salam, yakni pembangunan sosial–politik).Pada hakekatnya, ini merupakan upaya menciptakan perdamaian, rekonsiliasi, dan pembangunan sosial politik umat. Fanatisme kesukuan di jazirah arab pra-islam sering menyebabkan pertumpahan darah antar suku yang berlangsung turun-temurun.

Suku-suku di Madinah saling berperang: Aus melawan Khazraj, dan masing-masing bersekutu dengan kalangan yahudi, yang saling berperang diantara mereka.Berkat upaya Nabi Muhammad, fanatisme kesukuan ini diganti dengan nilai-nilai persaudaraan islam dan keadilan berdasarkan wahyu ilahi.Diciptakanlah rekonsiliasi antar berbagai golongan yang tadinya berperang (Aus-Khazraj;Arab-Yahudi).

Adapun yahudi yang mempertahankan agama mereka, muhammad mengadakan aliansi politik melalui piagam Madinah, demi mempertahankan negara dari serangan kaum kafir Quraisy Makkah.

Kedua, Ath-imu al-tha’am, (berilah makan, yaitu pembangunan ekonomi). Setelah keamanan dan perdamaian tercipta, pilar asasi berikutnya adalah jaminan kebutuhan dasar manusia sehingga tidak ada lagi yang kelaparan, kedinginan, kepanasan, dan telanjang.

Beliau juga menyisihkan tempat khusus diserambi masjidnya (shuffah) untuk digunakan sebagai tempat berteduh bagi orang-orang tunawisma. Kemudian mendirikan lembaga zakat, mendirikan Baitul Mal, mendirikan lembaga Hizbah, membuat aturan-aturan di bidang ekonomi dan kerja sama ekonomi antar golongan pun beliau bangun dengan menetapkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan nilai-nilai ilahi dan insani.

Aturan-aturan dibidang ekonomi ditetapkan Nabi Muhammad guna mencegah eksploitasi, kecurangan, penipuan, Monopoli non-alamiah(ikhtikar), penipuan (tadlis), ketidakpastian usaha (gharar), suap (risywah), pemborosan (tabdzir), kegiaatan ekonomi yang berlebihan (israf), atau kezaliman ekonomi lainya, dalam rangka melindungi hak-hak manusia dalam mencari nafkah.

Ketiga, Shilu al-irham (hubungan cinta kasih kekeluargaan, yakni membangun budaya kemanusiaan bedasar nilai-nilai cinta). Allah adalah al-rahman a-rahim, yang maha pengasih dan penyayang dari 114 surah Al-qur’an, 113-nya selalu diawali dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Allah telah menetapkan atas diri-Nya prinsip rahmat (cinta kasih: QS al-an’am[6]:12,54).

Dalam hadits qudsi beliau mengajarkan bahwa cinta kasih (rahmat-Nya) mengalahkan murkanya. Selain itu Beliau juga mengajarkan prinsip cinta dengan sabdanya:”cintailah yang di bumi, maka yang dilangit (yakni Allah dan malaikat-Nya)akan mencintaimu,”(HR Tirmidzi).

Keempat, Shallu billaili wa I-nasu, (Shalat Malam, yakni Pembangunan Spiritual). Walaupun ketiga poin pertama semuanya dikaitkan dengan nilai-nilai ketuhanan, penekanya lebih pada mengatur hubungan yang baik antar manusia.

Hubungan antar manusia ini cukup menjamin kebahagiaan didunia, tetapi tidak menjamin kebahagiaan diakhirat. Juga, tidak memberikan jawaban atas pertanyaan besar setiap manusia: apakah tujuan hidup dunia ini?

Agar hubungan antar manusia ini tidak melalaikan manusia dari misi dan makna hidup hakikinya di dunia, program terahir ini mengingatkan manusia agar terus menghidupkan jiwanya melalui latihan-latihan ruhani agar dapat meraih kehidupan yang bermakna, dengan mendekatkan diri pada Allah.

Menurut Nabi Muhammad, pada saat malamlah seorang dapat menikmati kedekatan yang intensif dengan Allah dan karena ibadah malam hari lebih berkesan pada pengembangan jiwa (QS.Al-Muzzamil [73]:6).Wallahu a’alam

Posted in: Opini